****
Di belakang rumah sakit jiwa yang sudah lama tidak digunakan, terdapat sebuah paviliun tua yang terlupakan. Dulu, paviliun itu adalah tempat perawatan pasien yang dianggap tak bisa disembuhkan, mereka yang gila dan tidak memiliki harapan untuk sembuh. Setelah rumah sakit itu ditutup, paviliun itu tetap berdiri dengan dinding-dinding kusam, jendela yang pecah, dan pintu yang berderit setiap kali ada angin. Warga sekitar sering menghindarinya, menyebutnya sebagai tempat terkutuk yang dihuni oleh roh-roh gentayangan.
Sore itu, seorang petugas kebersihan bernama Rina baru saja diterima bekerja di rumah sakit. Rina sering mendengar cerita horor tentang paviliun tua dari sesama petugas, namun dia tidak terlalu menghiraukannya. "Hanya cerita orang-orang saja," pikirnya, meskipun dia merasa sedikit cemas saat pertama kali diminta membersihkan paviliun tersebut. Suasana paviliun itu benar-benar berbeda dengan bagian rumah sakit yang lain—dingin, gelap, dan penuh dengan aroma busuk.
Ketika Rina masuk ke dalam paviliun, udara terasa berat dan sesak. Setiap langkahnya terdengar seperti gema, dan bayangan gelap seakan mengikuti gerakannya. Lampu neon yang menerangi lorong terlihat berkelip-kelip, membuat suasana semakin menakutkan. Rina memaksa dirinya untuk tidak takut, berfokus pada tugasnya. Namun, ketika dia mulai membersihkan ruang utama, suara langkah kaki yang berat dan pelan terdengar di belakangnya, padahal tak ada orang lain di sana.
Rina menoleh cepat, tetapi yang dia lihat hanya bayangan gelap di ujung lorong. "Mungkin hanya angin," katanya untuk meyakinkan diri sendiri. Namun, rasa takut mulai merayap. Saat dia kembali membersihkan lantai, suara ketukan keras terdengar dari salah satu pintu ruangan. Pintu itu tiba-tiba terbuka sedikit, seolah ada yang mengundangnya untuk masuk. Penasaran, Rina mendekati pintu itu dengan hati-hati.
Di dalam, Rina melihat sebuah ruangan yang dipenuhi kursi roda tua dan tempat tidur yang terlihat rusak. Di sudut ruangan, ada sebuah cermin besar yang retak. Rina merasa matanya tertuju pada cermin itu, namun begitu ia melangkah mendekat, bayangan dirinya yang terpantul dalam cermin berubah. Wajahnya dalam cermin tampak pucat, dengan mata yang kosong, dan senyum lebar yang tidak bisa dia kendalikan. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, dia mundur dan berlari keluar dari ruangan itu.
Namun, begitu keluar, Rina merasa ada yang mengikutinya. Suara gemerisik terdengar di belakangnya, dan dia menoleh untuk melihat sosok-sosok yang muncul dari kegelapan. Mereka adalah pasien-pasien yang meninggal dengan cara yang mengenaskan, mata mereka kosong, tubuh mereka cacat, dan kulit mereka mengelupas. Semua itu adalah roh-roh yang terjebak dalam paviliun itu. "Tolong bantu kami," terdengar bisikan pelan dari salah satu roh, yang membuat Rina terperangah.
Rina berlari melalui lorong gelap itu, berusaha keluar dari paviliun, namun pintu utama terkunci rapat. Di sekelilingnya, suara jeritan dan ratapan mulai terdengar, semakin keras seolah datang dari dalam dinding. Tiba-tiba, salah satu roh muncul di depannya, memandangnya dengan mata yang menakutkan. "Kau datang ke sini untuk membersihkan kami, tetapi kami tak akan pergi tanpa mengajarmu rasa sakit yang sama," kata roh itu dengan suara serak yang mengerikan.
Rina merasa seakan tubuhnya tidak bisa bergerak, kakinya seperti terikat oleh sesuatu yang tak tampak. Semua roh itu mendekat, mengelilinginya dengan tatapan penuh dendam. Dia merasa kesakitan, seperti ada yang mencengkram tubuhnya dari dalam. "Kami mati dengan cara yang sangat buruk, dan sekarang giliranmu merasakannya," ujar roh itu lagi, sambil tersenyum mengerikan. Rina terjatuh, tubuhnya terasa berat, dan seakan ada sesuatu yang menariknya ke dalam kegelapan.
Pagi hari berikutnya, petugas rumah sakit menemukan paviliun itu kosong. Rina tidak ada di mana pun. Namun, mereka menemukan bekas kaki berdarah di lantai paviliun yang kotor, seakan seseorang baru saja berlari dengan terburu-buru. Meskipun mereka mencari-cari di sekitar paviliun, Rina tidak pernah ditemukan. Beberapa orang percaya bahwa Rina menjadi salah satu korban roh-roh yang menghuni paviliun angker itu.
Sejak kejadian itu, paviliun itu semakin dikenal sebagai tempat yang terkutuk. Warga desa mulai menghindarinya, dan rumah sakit tidak lagi berani membiarkan siapa pun bekerja di sana. Dan setiap kali malam tiba, suara ratapan dan jeritan dari roh-roh yang terperangkap bisa terdengar dengan jelas, mengingatkan siapa pun yang berani mendekat bahwa mereka tidak