Angin malam berhembus dingin di rumah kecil berwarna kelabu. Nadya, seorang siswi SMA kelas 3, duduk di ruang tamu yang juga menjadi ruang belajar sekaligus tempat tidur darurat jika ada tamu. Di atas meja kecil, tugas-tugas sekolah menumpuk. Namun pikirannya melayang, jauh dari soal matematika yang harus ia selesaikan.
Pintu kayu depan berderit terbuka. Ayahnya, Pak Johan, baru saja pulang dari perjalanan kerja. Wajahnya kusut, seperti ada beban berat yang terus menumpuk. Tanpa melepas sepatunya, ia langsung duduk di kursi reyot yang menjadi tempat favoritnya.
“Nadya, bisa bicara sebentar?” tanyanya dengan nada berat.
Nadya menghentikan tangannya yang sedang memegang pensil. Ia menoleh, mengangguk, lalu mendekati ayahnya.
“Ada apa, Yah?” tanyanya, berusaha terdengar tenang meski hatinya penuh tanya.
Pak Johan menarik napas panjang. “Om Fajar—saudara ayah—lagi butuh uang buat biaya pengobatan anaknya. Kamu tahu kan, sepupu kamu, Reza, kena demam berdarah. Rumah sakitnya minta bayar segera.”
Nadya terdiam. Ia tahu betul keluarga Om Fajar sedang kesulitan, tapi ia juga tahu kondisi keluarganya sendiri. Tabungan yang mereka punya hanya cukup untuk membayar uang sekolah dan persiapan ujian masuk universitas.
“Jadi… maksud Ayah?” Nadya berusaha tetap tenang meski hatinya mulai gelisah.
Pak Johan mengusap wajahnya, tampak bingung mencari kata yang tepat. “Ayah kepikiran pakai uang tabungan kita buat bantu mereka. Kamu kan masih bisa tunda bayar uang sekolah sebentar. Lagipula, Reza lagi sakit parah. Itu lebih penting.”
Nadya tertegun. Kata-kata ayahnya terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Ia tahu ayahnya punya hati yang baik, selalu ingin membantu orang lain, apalagi saudara. Tapi kali ini, Nadya merasa tersisih.
“Tapi, Yah… uang itu buat sekolahku. Aku juga butuh buat ujian nanti. Kalau aku nggak bayar tepat waktu, aku nggak bisa ikut ujian,” katanya, suaranya bergetar.
Pak Johan menghela napas, menunduk, seolah tak sanggup melihat mata anaknya. “Ayah tahu, Nadya. Tapi keadaan Reza darurat. Dia butuh pertolongan sekarang.”
“Lalu aku gimana, Yah?” Suara Nadya meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku ini anak Ayah juga, kan? Kenapa aku harus selalu mengalah?”
Pak Johan diam. Kata-kata Nadya menusuk hatinya, tapi ia tetap merasa keputusannya benar. “Ayah nggak pernah anggap kamu kurang penting, Nak. Tapi ini soal hidup dan mati. Kamu pasti mengerti, kan?”
Nadya tidak menjawab. Ia hanya berdiri, lalu masuk ke kamarnya, meninggalkan ayahnya yang masih duduk di kursi. Tangisnya pecah begitu pintu tertutup.
Malam itu, Nadya sulit tidur. Ia merenungkan kata-kata ayahnya sambil memikirkan masa depannya. Pagi harinya, ia memutuskan sesuatu.
“Ayah,” katanya saat sarapan, mencoba bersikap dewasa meski hatinya terluka. “Kalau memang Ayah mau pakai tabungan itu, silakan. Tapi setelah ini, tolong Ayah pikirkan aku juga. Aku nggak mau terus merasa jadi anak yang nggak diprioritaskan.”
Pak Johan tertegun. Wajahnya tampak penuh penyesalan, namun ia tetap mengangguk. “Maafkan Ayah, Nadya. Ayah janji akan cari cara buat ganti uang sekolahmu nanti.”
Namun bagi Nadya, janji itu terasa kosong. Ia hanya bisa berharap suatu hari, ayahnya benar-benar melihat bahwa ia juga layak diperjuangkan, sama seperti orang lain yang selalu menjadi prioritas ayahnya.
Seminggu berlalu. Uang tabungan itu benar-benar diberikan kepada Om Fajar. Nadya terpaksa menunda pembayaran uang sekolahnya. Ia harus bekerja paruh waktu sebagai pengajar les untuk membantu menutupi kekurangan.
Meski pahit, Nadya belajar menerima. Namun, jauh di dalam hatinya, ada harapan kecil bahwa suatu hari, ia bisa menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia mampu berdiri sendiri, meski tidak pernah diprioritaskan. Karena, baginya, perjuangan untuk masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi.