Rena Kirea duduk diam di bangku kelas, mendengarkan teman-temannya berceloteh tentang cowok populer sekolah—Daren. Nama itu memang selalu jadi pusat perhatian sejak mereka masuk SMA. Tapi bagi Rena, nama itu hanya mengingatkannya pada luka yang pernah ia sembunyikan rapat-rapat.
---
Dulu, di kelas 1 SMA…
Rena adalah gadis yang periang dan blak-blakan. Dia tidak ragu menunjukkan perasaannya pada Daren, cowok tampan dengan sifat cool yang sering bikin cewek-cewek klepek-klepek. Rena menyukai Daren dengan polos—mungkin terlalu polos. Setiap kali Daren bicara, Rena akan mengikutinya, mencoba dekat. Tapi Daren hanya bersikap biasa saja, bahkan sering kali merasa risih.
Puncaknya terjadi di akhir kelas 2.
“Rena, kamu itu apa sih? Ganggu terus,” ucap Daren dingin di depan teman-temannya. Kata-kata itu tajam, menusuk harga diri Rena. “Kamu kira aku senang dikejar-kejar kayak gini? Nggak ada yang suka sama orang posesif.”
Rena hanya terdiam. Kata-kata itu membuatnya sadar, mungkin ia terlalu jauh. Sejak hari itu, Rena berubah.
---
Kelas 3 SMA…
Waktu berlalu cepat, tapi Rena Kirea yang sekarang bukan lagi gadis blak-blakan dan periang. Rambut panjangnya yang dulu sering ia kuncir kini ia biarkan tergerai rapi. Wajahnya datar, kata-katanya hanya keluar ketika perlu. Semua temannya menyadari perubahan itu. Mereka tahu Rena masih cantik, masih menarik, tapi dia seperti menarik diri dari semua orang.
Dan Daren?
Daren mulai merasa aneh. Di kelas 3 ini, Rena satu kelas dengannya lagi. Tapi kali ini, Rena benar-benar seperti tidak mengenalnya. Saat cewek-cewek sibuk berebut perhatian Daren, Rena hanya fokus membaca buku atau menyelesaikan tugas.
“Kenapa dia kayak gitu?” gumam Daren pelan suatu hari, memperhatikan Rena yang duduk sendirian di pojok kelas.
---
Hari pembagian tugas kelompok…
“Baik, hari ini kalian akan membuat kelompok penelitian berdua,” ujar guru fisika. “Silakan pilih pasangan masing-masing.”
Suasana kelas langsung gaduh. Beberapa cewek langsung mendekati Daren, menawarkan diri untuk jadi pasangan. Tapi di tengah keramaian itu, Daren hanya menatap satu orang.
Rena.
Tanpa bicara, Daren berdiri dari bangkunya dan berjalan ke arah Rena. Suara gaduh mendadak sunyi. Semua mata menatap Daren yang kini berdiri di depan meja Rena.
“Rena, mau jadi kelompok sama aku?” tanya Daren santai.
Rena mendongak, tatapannya datar seperti biasa. Ia memandang sekeliling kelas, melihat banyak cewek yang menatapnya penuh iri.
“Kenapa aku?” tanya Rena singkat, suaranya rendah.
“Karena cuma kamu yang belum punya pasangan,” jawab Daren cepat.
Rena menghela napas kecil. “Terserah.”
---
Sore hari, di rumah Rena…
Daren duduk di lantai ruang tamu rumah Rena, buku-buku tugas berserakan di depan mereka. Rena fokus menulis catatan, sementara Daren malah memperhatikannya dari samping.
“Kamu beda ya sekarang,” celetuk Daren tiba-tiba.
Rena berhenti menulis. “Beda gimana?”
“Pendiam. Dulu kamu nggak kayak gini.”
Rena terdiam sejenak sebelum menjawab. “Dulu aku bodoh.”
Daren mengernyit. “Maksud kamu?”
“Lupakan,” potong Rena cepat. “Kita fokus tugas aja.”
Daren menatap Rena lama, ada sesuatu dalam dirinya yang penasaran. Gadis yang dulu pernah membuatnya kesal, sekarang jadi begitu dingin dan tidak peduli.
---
Beberapa hari kemudian…
Sejak tugas kelompok itu, Daren mulai lebih sering menghampiri Rena. Awalnya, Rena berpikir ini hanya kebetulan. Tapi lama-lama, Daren seperti sengaja mendekatinya.
Suatu hari, saat hujan deras mengguyur sekolah, Rena terjebak di depan gerbang.
“Rena!”
Suara Daren membuatnya menoleh. Cowok itu berjalan ke arahnya sambil membawa payung.
“Bareng aja. Nggak mungkin kamu basah kuyup, kan?” ujar Daren sambil membuka payungnya.
“Sendiri aja.”
“Jangan ngeyel.” Daren menarik lengan Rena pelan, memaksanya berdiri di bawah payung yang sama. “Kamu ini keras kepala banget sih.”
Mereka berjalan dalam diam. Rena mencoba fokus menatap jalan, tapi akhirnya ia bertanya pelan, “Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?”
Daren menoleh, wajahnya serius. “Aku cuma penasaran sama kamu.”
“Nggak ada yang perlu dipikirin soal aku.”
“Tapi aku mau tahu,” jawab Daren cepat. “Aku ngerasa ada yang kamu sembunyiin.”
---
Di suatu sore setelah sekolah, Daren tiba-tiba menghampiri Rena di taman belakang sekolah.
“Rena, aku nggak mau penasaran lagi,” ujar Daren. “Aku tahu dulu aku nyakitin kamu.”
Rena tertegun. “Kamu ingat?”
“Iya. Aku ingat semuanya. Dan aku nyesel.”
Rena menatap Daren tajam, emosinya akhirnya keluar. “Kamu pikir minta maaf bisa ngubah semuanya? Kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku waktu itu.”
Daren mendekat, suaranya lebih lembut. “Aku tahu, dan aku salah. Tapi aku nggak mau kamu terus nyalahin dirimu. Kamu berharga, Rena. Dan sekarang aku… suka sama kamu.”
Rena menunduk, air matanya mulai jatuh. Tapi kali ini, ia tidak merasa lemah. Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Aku nggak tahu bisa percaya sama kamu lagi atau nggak. Tapi... makasih.”
Daren tersenyum kecil. “Aku bakal buktiin kalau aku serius.”
---
Epilog
Beberapa bulan kemudian, Rena dan Daren duduk di bawah pohon yang sama, di sore yang cerah. Rena sudah mulai tersenyum lagi, meski tidak seceria dulu. Tapi kali ini, senyumnya tulus—karena ia tahu, luka itu sudah tidak lagi membebaninya.
“Kamu masih penasaran sama aku?” goda Rena pelan.
Daren tertawa kecil. “Selalu. Tapi sekarang, aku nggak cuma penasaran. Aku sayang sama kamu.”
Rena hanya tersenyum, menatap langit yang mulai berwarna oranye. Ia tahu, ini bukan akhir cerita mereka. Tapi setidaknya, ia sudah menemukan cara untuk memaafkan dirinya sendiri dan melangkah maju.
TAMAT