Di sebuah kota kecil yang sering diselimuti hujan, hiduplah seorang gadis bernama Maya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana yang terletak di ujung jalan yang selalu basah. Setiap kali hujan turun, Maya selalu menunggu di jendela, memandang langit yang kelabu, seakan mencari sesuatu yang hilang.
Maya ingat, dulu, saat masih kecil, ia selalu bermain hujan dengan ayahnya. Mereka berlari-lari dengan payung biru tua yang besar, sambil tertawa riang. Ayahnya akan memegang payung itu dengan erat, melindunginya dari hujan deras. "Hujan adalah teman, bukan musuh," kata ayahnya sambil tersenyum.
Namun, setelah beberapa tahun, hujan datang dengan cara yang berbeda. Ayahnya pergi tiba-tiba, meninggalkan Maya dan ibunya dalam kesedihan yang mendalam. Sejak itu, hujan menjadi kenangan pahit bagi Maya. Ia tak pernah lagi melihat payung biru tua itu. Ibunya mengatakan bahwa payung itu telah hilang, entah ke mana.
Waktu berlalu, dan Maya tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Setiap kali hujan turun, ia masih merindukan ayahnya, merasakan kehangatan pelukan dan suara tawa yang dulu menyertainya. Namun, suatu hari, saat hujan kembali turun dengan derasnya, Maya memutuskan untuk keluar dan berjalan di tengah hujan.
Ia melangkah tanpa tujuan, hanya ingin merasakan hujan yang dulu selalu dinikmatinya bersama ayah. Saat berjalan di tengah jalan, Maya melihat sebuah toko kecil yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. Toko itu dipenuhi dengan barang-barang tua yang berdebu. Di sudut toko, ia melihat sebuah payung biru tua yang persis seperti payung yang dulu dimiliki ayahnya.
Maya terkejut dan mendekat. Payung itu tampak sudah lama, tetapi warnanya masih tetap cerah, dan gagangnya terlihat kuat. Ia mengingat-ingat, apakah ini mungkin payung yang dulu digunakan oleh ayahnya? Dengan perasaan yang campur aduk, Maya membeli payung itu.
Saat keluar dari toko, hujan semakin deras. Maya membuka payung biru tua itu dan merasa sesuatu yang aneh. Seakan payung itu kembali menghidupkan kenangan-kenangan lama. Dalam kesendirian, ia merasakan seolah ayahnya masih ada di sampingnya, melindunginya dari hujan.
Maya kembali ke rumah, dengan payung biru itu sebagai saksi bisu kenangan masa kecil yang tak akan pernah ia lupakan. Kini, setiap kali hujan turun, Maya tidak lagi merasa kesepian. Ia tahu, di setiap tetes hujan, ada kenangan indah yang selalu menemani. Payung biru itu bukan hanya sebuah benda, tetapi simbol dari cinta yang tak pernah pudar, yang akan selalu melindunginya, meski ayahnya telah lama pergi.