Cerita ini hanya fiktif belaka, adapaun nama tempat, tokoh dan kejadian hanyalah karangan semata.
Disebuah desa kecil dipelosok jawa bagian tengah bernama palikan yang dihuni tidak lebih dari seratus kepala keluarga.
Desa kecil yang hanya terdiri dari 3 rukun tetangga atau RT ini adalah sebuah desa dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani dari seorang tuan tanah yang memiliki beberapa hektar sawah dan lahan palawija.
Tidak seperti desa-desa lainnya, desa lain biasanya menamai RT mereka masing-masing dengan angka yang terurut seperti RT.001, RT.002, RT.003 dan seterusnya, tapi desa kecil ini justru melompat. Dari RT.001 langsung ke RT.003.
Tidak ada yang tau dimana letak RT.002 berada, hanya beberapa cerita turun temurun yang terus berkembang dimasyarakat desa Palikan ini. Untuk menyiasatinya, mereka memiliki nama tersendiri untuk wilayah RT mereka masing-masing.
Untuk RT.001, mereka menyebutnya dengan Gabahan, yang diambil dari nama Gabah atau padi karena selalu ada jemuran Gabah dihalaman rumah kekuarga Tejo sang tuan tanah.
Untuk RT.003, mereka menyebutnya dengan sebutan Pakerjo, yang diambil dari kata kerjo atau kerja yang dimaksudkan disini adalah merujuk pada para pekerja atau buruh.
Sementara di RT berikutnya yang kebanyakan wilayahnya meruoakan lahan sawah maka mereka menyebutnya dengan Lahan, yaitu merujuk pada tanah tempat mereka kerja.
"Arek ngandi Yu?" Tanya Bu Tentrem saat melihat tetangganya Bu Mini lewat didepan rumahnya.
"Arek nang Pakerjo, dek. Nggone Bu Muji." Jawab Bu Mini.
"Oalah, panas-panas ngenther ngene kok yo rono-rono mbarang ki lho? Arek enek opo to?" Tanya Bu Tentrem penasaran.
Bu Mini pun akhirnya mampir kerumah Bu Tentrem karena memang cuaca sedang panas-panasnya ditengah hari seperti ini.
"Ora. Iki lho, dek, Dian ki wingi buku paket IPS e ilang ujare, njok iki arek tak jalokno bukune fikri. Kan mesti ono, wong dee nggak ndue adek meneh to? Menawi oleh nek di jileh Dian." Ujar Bu Mini menjelaskan.
"Kok iso ilang ki kepie ceritane?" Tanya Bu Tentrem semakin penasaran.
"Halah yo mboh to, bocah kae ki angel tenan kandanane. Dolanane lho sembarang tekan ngendi-ngendi. Aku ki kuatir bianget lho dek sakjane." Jawab Bu Mini dengan wajah cemasnya.
"Kuatir ngopo? Kene-kene lenggah kene, cerito-cerito." Ujar Bu Tentrem mempersilahkan Bu Mini untuk duduk di balean di teras rumahnya.
Bu Mini pun mendekat dan duduk disamping Bu Tentrem yang kelihatannya sedang menjahit salah satu celananya yang robek.
Bu Mini pin mulai menceritakan tentang anak perempuannya yang sedang menjadi kekhawatirannya itu.
"Aku ki mboh lho dek karo anakku Dian kae, padahal kan yo cah wedok, ning dolanane kae lho, mestu karo ocah-ocah lanang. Nek cah lanang kan glarangane kan yo tekan ngendi-ngendi to? Mung wedi ku ki tekan kali tempiran ngisor kono kae tok lho." Ceritanya.
"Lho yo ncen kok Yu. Cah-cah jaman saiki ki blas nggak ono wedi-wedine. Oadahal wes diwanti-wanti ojo ngasi tekan kali ngisor, tapi yo ije~k wae ngeyel." Sahut Bu Tentrem menimpali. "Kae, anakku Yoga. Ben sore mesti wae, bali-bali oleh iwak. Bukane aku nggak seneng anakku ngerti gegowo nggolek lawoh maem, ning yo kui mau, kuatirku gor siji. Mbok-mbok le oleh iwak kui seko kali ngisor." Tambahnya.
"Dian meneh dek, kocap bali dolan kok mesti wae cerito Juwita~ terus. Ujarku ki anakke sopo seng jenengane Juwita. Mangsaku ra ono to cah kene seng jenenge Juwita? Opo ocah ko deso Waru? Tapi kok yo mosok adoh temen tekan kono ole dolan." Ujar Bu Mini bertanya-tanya.
"Juwita? Opo ra anak'e Pak Jarno kae po udu?" Tanya Bu Tentrem mengingat-ingat.
"Yo udu to Dek, anak'e Pak Jarno kae kan... Lah, malah lali, Wati-wati sopo ngono kok, duduk Juwita." Jawab Bu Mini menampis.
"Oh, Sarwati ho'oh deng. Lali aku." Sahut Bu Tentrem kemudian.
"Terus sopo jal Juwita kui?" Ujar Bu Mini bertanya-tanya.
"Juwita ki anak'e Pak Sulam!" Seru Yoga dari dalam rumah.
"He? Koe reti to le? Pak Sulam ngendi?" Tanya Bu Tentrem penasaran.
"Kae lho seng omah'e cedak kali." Jawab Yoga.
"Kali? Kali ngendi? Ojo aneh-aneh koe Le! Nggak ono wong kene seng omah'e cedak kali!" Seru Bu Mini khawatir.
"Lha iyo, wong Pak Lurah jelas-jelas wes ngelarang warga kene ben ojo nggawe omah nang cedak kali. Soal'e bahaya iso keno banjir sak wayah-wajah nek neng nduwur (gunung) lagi udan deres." Sahut Bu Tentrem menambahi.
"Lha yo emboh to Buk. Wong nyatane yo omah'e emang nang pinggir kali kono kok." Jawab Yoga membantah.
"Wes, ra beres. Kene, rene'o sek koe. Cerito seng jelas kari Ibuk. Ojo ngasi koe dadi masalah neng ndeso kene." Panggil Bu Tentrem geram.
Yoga pun keluar dengan lunglai karena malas, tapi harus tetap datang karena kalau tidak, Ibunya itu pasti akan marah.
Yoga pun berjongkok dan bersandar pada tiang penyangga atap teras didepan balean atau kursi bambu tempat Ibunya dan Bu Mini duduk.
"Wes, saiki ceritakno seng jelas, sopo kui Pak Sulam." Ujar Bu Tentrem.
"Pas kae ki aku pas dolan karo Wahyu karo Doni, karo Siti, karo Dian juga, neng kali cedak sawah seng digarap Mbah Harjo kae lho Buk, aku ki weroh ono wong lagi mancing nang ngisor. Aku kan penasaran, kok koyo dudu wong kene, karang ra kenal. Yo tak parani." Ujar Yoga bercerita.
Saat itu..
Yoga bersama teman-temannya Wahyu, Doni, Siti, dan Dian tengah bermain-main air disekitaran sawah mencari belut ataupun keong. Meski tidak bisa memainkan permainan modern seperti anak-anak di kota pada umunya, namun bermain dialam bebas seperti ini nyatanya masih bisa membuat kelima anak ini tetap bisa bermain dengan riang dan gembira.
Sore itu sekitar pukul lima, teman-temannya sudab mulai lelah bermain dan mengajak untuk kembali kerumah mereka masing-masing.
"Ga, ayok balek lah, wes sore iki, selak ngaji neng mushola mbarang." Ajak Wahyu.
"Iyo, Ga. Ibuk ku yo mesti wes nggolek'i aku iki." Sahut Dian menimpali.
"Yowea ayo." Jawab Yoga menurut.
"Iyo, yo. Wisoh disek." Ajak Siti untuk membersihkan tangan dan kaki mereka dialiran sungai didekat pesawahan itu yang juga dimanfaatkan sebagai irigasi.
Mereka pun masuk kedalam sungai dengan air jernih yang banyak terdapat bebatuan besar itu untuk membersihkan diri.
Sebagai anak kecil yang suka bermain, mereka tak lantas segera keluar dari sungai, namun bermain-main air terlebih dahulu sebekum akhirnya mereka benar-benar pulang.
"Alah Yu, bajuku dadi teles kan, diamok mamak ku iki ngko." Gerutu Siti mengambek karena bajunya basah akibat cipratan air dari Wahyu.
"Halah, ngono wae nesu. Cengeng koe Ti." Ledek Wahyu sambil bergegas kabur.
"Awas koe Wahyu! Tak kandakne Mbokde (bude) koe!" Ancam Siti sambil berlari mengejar Wahyu.
Yoga dan yang lainnya hanya tertawa melihat mereka berdua yang kejar-kejaran dipematang sawah.
"Wes, ayo awak'e dewe bali juga." Ajak Dian.
"Ayo, jawab Dian. Ayo Ga." Jawab Dian sambil mengajak Yoga.
Saat itu perhatian Yoga sedang teralihkan oleh seseorang dibagian bawah sungai yang terlihat sedang mlemparkan pancingannya kedalam sungai.
"Ga, ayo!" Panggil Dian.
Yoga pun terperanjat mendengar panggilan Dian yang kemudian membuyarkan perhatiannya.
"Eh, iyo. Disik'o. Iki sendalku kotor banget, tak cuci sek." Jawab Yoga.
"Oh, yowes. Aku karo Wahyu disikan yo?" Ujar Dian.
"Iyo!" Jawab Yoga.
Dian dan Wahyu pun bergegas pulang, sementara Yoga yang penasaran pun bergegas pergi kearah orang yang tadi dilihatnya itu.
Namun saat dia sampai ditempat yang dia lihat ada orangnya itu, ternyata orang itu sudah tidak ada disana lagi.
Yoga berusaha mencari-cari keberadan orang tersebut, namun tidak juga menemukannya. Dan ternyata dia kembali melihat orang itu yangb sudah berpindah tempat dibagian lebih bawah lagi.
Yoga pun bergegas menuju tempat itu, dan lagi-lagi Yoga kehilangan orang itu. Dan anehnya orang itu sudah ada ditempat lain lagi.
Sekali lagi Yoga menyusuri aliran sungai itu sampai bagian terbawah, sampai kebagian tempuran sungai atau bagian sungai yang bertemu dengan aliran sungai lain yang kemudian menyatu menjadi satu sungai.
Disanalah akhirnya Yoga menemukan orang yang sedari tadi dilihatnya.
"Pak!" Panggilnya.
"Iyo, ngopo Le?" Tanya Bapak itu.
"Sampen niki, sinten nggeh? Kulo dereng pernah ketemu sampean ten ndeso mriki." Tanya Yoga dengan sopan.
"Ooh, Jenengku Suhartono, mbien di celuk Sulam. Kui mbien, saiki celuk wae aku Pak Suhartono. Omahku neng njero kono kae. Aku ki yo warga ndeso kene kok." Jawab Pak Sulam memperkenalkan diri.
"Oh, ngoten. Kulo wau ningali sampean ten nduwur kono kae, kok jebul-jebule malah tekan kene to, Pak?" Tanya Yoga penasaran.
"Lha iyo, ket mau aku mancing arwek tak nggo lawoh maem anakku, Juwita, tapi nang nduwur konl malah nggak ono iwak'e mulakno aku pindah kene wae, malah akeh iki iwak'e." Jawab Pak Suhartono
"Juwita niku, sinten Pak?" Tanya Yoga.
"Juwita kui, yo anakku. Sak umuranmu kui, ning bocah'e ki isinan, ragelem metu ko omah, paleng-paleng yo neng kali kene ki wae." Jawab Pak Suhartono.
"Nek koe gelem, sesok dolano rene neh wae nek pengen kenalan karo anakku, Juwita. Jak'en koncomu neh, wong siji wae seng wedok, mergane Juwita kui isinan banget, nek kakean bocah malah ragelem metu omah." Kata Pak Suhartono lagi.
"Oo, nggeh Pak, ngginjing kulo jak konco kulo, Dian." Jawab Yoga senang.
"Dian kui anak'e sopo to?" Tanya Pak Suhartono.
"Anak'e Pak Jan kaleh Bu Mini." Jawab Yoga.
"Oo, Pak Jan seng jerijine ilang siji kae?" Tanya Pak Suhartono mengingat-ingat.
"Inggeh, Pak." Jawab Yoga mengiyakan.
"Lha nek koe, anak'e sopo?" Tanyanya lagi.
"Kulo anak'e Bu Tentrem." Jawab Yoga.
"Bu Tentrem ki seng ndi to?" Tanya Oak Suhartono mencoba mengingat-ingat.
"Sregine (istri almarhum) Pak Juman." Jawab Yoga murung.
"Lho, Juman ki wea ninggal to? Inalillahi, dene koe ki wea nggak ndue Bapak jebule. Wes, saiki nek koe sregep dolan rene ngancani Juwita, koe bakal tak anggep anak neng aku. Wes rasah sesih neh. Ono Bapak Suhatono saiki." Jawab Pak Suhartono menghibur.
"Nggeh Pak, matur suwun." Jawab Yoga senang.
"Yowes, wes sore, gek kono muleh, selak digolek'i Bapak Ibuk. Iki ono iwak oleh'e aku mancing neng kene. Gowo muleh nggo lawoh mu maem karo Ibuk mu. Sesok ojo lali dolan rene karilo koncomu kui mau." Ujar Pak suhartono kemudian.
"Nggeh, Pak. Matur suwun." Jawab Yoga
Yoga pun segera bergegas pulang kerumahnya dengan membawa dua ekor ikan mas yang lebih besar dari lengannya sendiri itu.
Bocah itu tidak menyadari bahwa saat itu dia telah memasuki suatu portal dimensi waktu yang membuatnya seperti sudah lama pergi namun sebenarnya hanya baru sebentar saja. Dan saat dia menoleh kebelakang, orang yang baru saja ditemuinya itu sudah tidak ada lagi disana.
Pikiran anak kecil yang masih polos sama sekali tidak memiliki suatu kecurigaan dan hanya menganggap Pak Suhartono itu sudah pulang kerumahnya.
Sore berikutnya, sesuai janji Yoga mengajak Dian untuk pergi ketempuran itu lagi. Meski ragu dan takut, akhirnya Dian terbujuk juga oleh rayuan dan paksaan Yoga yang berjanji akan memperkenalkannya pada teman baru.
"Wah, Yoga wes teko. Iki lho, anakku, jeneng'e Juwita. Ayo Juwita, rasah isin-isin. Iki Yoga karo Dian, konco anyarmu. Saiki koe rabakal dewean meneh." Ujar Pak Suhartono senang.
Gadis kecil berambut panjang dengan bandana bunga matahari itu bersembunyi dibelakang kaki Ayahnya, dia hanya mengintip sambil sambil menggenggam erat celana panjang yang dikenakan Pak Suhartono dan memandang Yoga juga Dian dengan tajam.
Yoga segera mengulurkan tangannya untuk mengajak Juwita berkenalan.
"Aku Yoga, iki Dian. Mulai saiki, awak'e dewe dadi koncoan yo. Koe rasah wedi, aku nggak nakal kok." Kata Yoga memperkanalkan diri.
Gadis itu mula-mula ragu, namun akhirnya dia mau mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Yoga dan Dian bergantian.
Mulai saat itulah mereka berdua menjadi sering main ke tempuran untuk bertemu dengan Juwita. Bahkan mereka akan mengerjakan PR disana sambil mengajari Juwita pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah.
Mereka cukup betah bermain disana yang bary mereka ketahui bahwa disanalah RT.002 yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya, dan juga karena warga disana sangat ramah dan baik.
Setiap hari mereka bertemu dan bermain bersama sampai mereka sudah seperti saudara kandung, terlebih Pak Suhartono setiap hari membuatkan Ikan bakar untuk mereka, dan juga selalu memberi mereka oleh-oleh sepulang mereka dari sana.
Namun pada suatu hari Yoga dan Dian tidak bisa menemukan Juwita maupun Pak Suhartono di tempuran itu. Bahkan warga lainpun tidak mereka temuka satu orang pun, akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing dan memutuskan untuk kembali lagi esok sore.
Keesokan harinya mereka kembali ke tempuran dan kembali bertemu dengan Juwita dan Pak Suhartono. Saat ditanyai, mereka mengaku dia dan warga RT.002 bepergian kekota untuk membeli berlibur.
"Tuku opo koe Wit neng kuto?" Tanya Dian. "Baju baru ya?" Godanya.
"Nggak kok, aku nggak seneng baju baru. Aku tuku iki." Jawab Juwita sambil menunjukkan boneka beruangnya.
"Wah, apik banget Wit!" Seru Dian kagum.
"Koe arek?" Tanya Juwita.
"Yo arek to." Jawab Dian semangat.
"Tapi tukeran yo." Pinta Juwita.
"Tukeran karo opo? Aku nggak ndue opo-opo kok." Jawab Dian bingung.
"Karo buku pelajaranmu wae." Jawab Juwita sambil menunjuk buku yang tergeletak diatas tanah itu.
"Tapi, aku nggak ndue buku lain'e lho Wit." Jawab Dian keberatan.
"Jarena kita saudara, Yan." Ujar Juwita sedih.
"Yowes nggak popo. Iki bukune nggo koe." Jawab Dian menyerah.
"Matur suwun Yan, koe ki emang koncoku!" Seru Juwita.
Saat ini...
"Ha?! Boneka beruang opone! Jelas-jelas pas kae Dian nggowone boneka suket kok!" Seru Bu Mini terkejut.
"Tenane Yu?" Tanya Bu Tentrem khawatir.
"Tenan. Aku ngasi padu karo Dian lho. Pantesan de'e ki ngeyel nek kui boneka beruang, padahal jelas-jelas kui boneka seko suket seng koyo boneka santet kae lho!" Jawab Bu Mini yakin.
"Wes, saiki awak dewe neng omah'e Pak Lurah wae, tekok seng tenan-tenan, sopo jane Pak suhartono kui." Ujar Bu Tentrem bersemangat.
"Wes, ayo." Jawab Bu Mini ikut bersemangat.
Mereka berdua ditambah Yoga pun pergi kerumah Pak Lurah untyk menanyakan perihal Pak Suhartono yang dimaksud oleh Yoga.
Yoga pun kembali menceritakan apa yang tadi sudah diceritakannya sebelumnya tanpa kurang apapun.
"Dadi, Pak Suhartono kui mbien parabane ki Pak Sulam, ngoni to, Ga?" Tanya Pak Lurah.
"Nggeh, Pak Lurah." Jawab Yoga mengangguk.
"Yo, pancen aku ra maido memang mbien ono seng jeneng'e Suhartono neng deso iki. Tepat'e neng RT.002." Jawab Pak Lurah menjelaskan.
"Lho, Pak Lurah, bukane neng ndeso kene mbiten enten RT.002?" Tanya Bu Tentrem.
"Iyo, kan, angka dua ki terlarang to neng deso kene?" Tanya Bu Mini menambahi.
"Tenag, tenang. Ojo panik sek, tak ceritakno." Ujar Pak Lurah menengahi.
"Jelasno, Pak. Moso de'e ngasi ngerti jrijine bojoku ilang siji." Kata Bu Mini memprotes.
"Iyo. Sabar to." Ujar Pak Lurah. "Iki juga aku diceritani almarhum Bapak kulo, almarhum Lurah seng mbien. Dadi, mbien ki deso kene ndue RT.002, kui nang cedak kali Tempuran. Pak Suhartono seng disebut Yoga kui mau yo warga RT kono. Parabane Sulam amargo mbien tanah seng saiki digawe sawah karo Pak Tejo kae mbien ki ladang'e Pak Suhartono kabeh dinggo nandur wet Sulam." Ujar Pak Lurah mulai bercerita.
"Mbien almarhum wes pesen an wanti-wanti ojo mbangun omah nang jedak tempuran, amargo bahaya, sewaktu-waktu iso kenek banjir bandang seko nduwur. Ning, Pak Sulam ki ngeyel, akhire kejadian, kabeh warga RT.002 seng neng sekitar tempuran ki kelep, seng paling parah omah'e Pak Sulam seng paling cedak karo tempuran. Sekeluarga kabeh ki kendang, kegowo arus banyu, digolek'i koyo ngopo yo nggak ketemu, karang saking deres'e, tur bandang'e we nggowo watu gede-gede. Dadi yo ora ketemu sampek saiki." Lanjutnya.
"Ooh, dadi ngoni to Pak Lurah?" Ujar Bu Tentrem manggut-manggut.
"Iku artine, seng ditemoni Dian karo Yoga ki opo, Pak Lurah?" Tanya Bu Mini ketakutan.
"Kuatirku yo arwah'e Pak Sulam karo anak'e seng jek urung iklas ninggalno ndunyo ne. Maka dari itu, almarhum Bapak meniadakan RT.002 agar tidak ada lagi warga yang membangun rumah disana, karena berbahaya. Dan juga melarang warga pergi ke tempuran, amargi yo kui mau, takutnya, ditemoni Pak Sulam karo anak'e." Kata Pak Lurah menjelaskan.
"Anakku Dian!" Pekik Bu Mini tiba-tiba.
Bu Mini segera berlari untuk menemui anaknya dirumah dan untuk melarangnya pergi ke tempuran.
Tapi sayang, Bu Mini sudah terlambat, Dian sudah tidak ada lagi dirumahnya, dan dia tidak bisa menemukannya dimanapun. Bahkan setelah warga bersama-sama ikut mencari sampai ketempuranpun, mereka masih tidak bisa menemukan keberadaan Dian.
Disaat bersamaan...
"Lho, wong-wong kok tumben do ramen rene yo Wit?" Tanya Dian penasaran.
"Palingan lagi do nggolek'i opo, mbien yo wes tau. Tapi ngko yo do bali dewe-dewe." Jawab Juwita santai. "Ki Yan, nganggo bandoku, jaremh bandoku apik." Kata Juwita lagi sambil memberikan bandonya.
"Tenan? Biasane koe pelit bek tak jilih bandomu." Tanya Dian heran.
"Wea rapopo. Saiki kan awak dewe wes dadi sedulur to? Koe juga jarene moh balek. Makane tak silih'i bandoku." Jawab Juwita.
"Yowes tak nggo yo?" Ujar Dian.
Dian dan Juwita melanjutkan permainan yang sedang mereka mainkan, yaitu permainan ular tangga yang dibuatkan oleh Pak Suhartono.
"Pak, sampean nggak melu?" Tanya Dian heran.
"Ora lah, nggo ngopo. Wong kae ki paleng yo gor arek lomba mancing." Jawab Pak Suhartono cuek.
"Oh.." Gumam Dian.
Tapi Dian masih penasaran dan terus memperhatikan orang-orang yang kelihatan panik dan cemas sambil berteriak-teriak, namun dia tidak bisa mendengar suara teriakan mereka sama sekali.
Tapi pada saat itu juga Dian bisa melihat Ibu dan Bapaknya yang terlihat sangat panik sambil terus-terusan berteriak. Anehnya dia tidak bisa mendengar suara teriakan mereka maupun warga yang lainnya.
Semakin Dian berfikir, Dian merasa semakin aneh, karena seharusnya saat itu semua orang yang disana terutama kedua orang tuanya bisa melihat keberadaan dirinya dan juga Juwita dan Pak Suhartono yang tidak jauh dari mereka.
"Yan, giliranmu." Panggil Juwita.
"Eh, kosek yo Wit." Kata Dian kemudian.
"Ngandi Yan?" Tanya Juwita.
"Kae, ono Ibuk karo Bapakku." Jawab Dian sambil menunjuk kearah kedua orang tuanya.
"Nggak usah Yan, percuma. Mereka nggak bakal weroh awakmu." Jawab Juwita.
"Lha ngopo?" Tanya Dian.
"Soale kan wong tuamu wes nggak sayang awakmu meneh, to?" Jawab Juwita tersenyum.
"Tapi kayane, lagi podo nggolek'i aku ki Wit." Jawab Dian yakin.
"Yowes, jajalen wae." Ujar Juwita. "Nek, Bapak Ibukmu iso weroh koe opo kerungu suaramu, berarti mereka sayang, tapi nek nggak, berarti mereka wes nggak butuh awakmh neh, Yan." Ujar Juwita.
Dian tidak percaya dengan kata-kata Juwita begitu saja, dia pun swgera menghampiri kedua orang tuanya dan memanggil mereka, tapi mereka tidak mendengarnya ataupun melihat mereka walau dia sudah menarik-narik baju mereka. Begitu juga dengan warga yang lainnya.
Dian menoleh kearah Juwita dan Pak Suhartono yang tersenyum melihatnya kebingungan. Dian semakin panik karena takut apa yang dikatakan Juwita benar.
Dian terus berusaha memanggil kedua orang tua dan warga lainnya, tapi tidak ada dari mereka yang merespon. Sampai dia merasa takut dan stres.
Dian mulai mengacak-acak rambutnya yang ikal itu dan akhirnya dia merasa ada benda asing diatas kepalanya. Dia baru sadar bahwa itu adalah bando milik Juwita. Biasanya dia tidak suka memakai bando ataupun jepit rambut dikepalanya, karena Dian termasuk anak yang tomboy.
Dian langsung melepaskan bando itu dan melemparkannya ketanah, dia tidak tau bagaimana bisa dia memakai benda itu.
Dan pada saat itu, barulah dia bisa mendengar suara teriakan dan tangisan kedua orang tuanya yang panik memanggil namanya, dan juga warga lain yang juga ikut memanggil namanya. Sementara Juwita dan Pam Suhartono malah tertawa senang melihat Dian menangis ketakutan memanggil-manggil kedua orang tuanya.
Begitulah akhir cerita Dian yang hilang kedalam ruang dan dimensi waktu yang berbeda.
Seminggu kemudian, mayat Dian akhirnya ditemukan dipinggiran sungai diantara bebatuan tertutup rerumputan.
____
Mohon maaf bagi yang tidak mengerti bahasa jawa, saya menulisnya dengan memakai bahasa jawa adalah karena agar sobat readers sekakian bisa ikut merasakan suasana pedesaan yang ingin saya suguhkan.