Aku Arasalsa.
Banyak yang bilang aku beruntung.kenapa?
Karena mereka bilang keluarga ku sangat damai dan menganggap keluarga aku adalah keluarga Cemara.
Aku mewajarkan anggapan mereka karena ya
Diluar memang kelihatan seperti itu.
Mereka tidak tau saja didalamnya gimana.
Ya, keluargaku tidak seperti yang mereka bilang.
Aku terlahir di keluarga yang sangat jauh dari kata damai.pagi Seperi rumah sakit,siang seperti kuburan, sore seperti hutan,malam seperti neraka.
Pagi seperti penjara bagiku dimana aku makan dengan sangat tidak enak,makanan rasanya hambar semua bukan makanannya yang tidak ada rasa tapi suasananya yang membuat lidahku tidak bisa merasa.
Bergerak cepat bergegas ingin sekali segera keluar dari rumah itu.
Bergegas pergi kesekolah seakan semangat untuk menimba ilmu padahal hanya ingin bisa bebas bernapas saja diluar sana dan ya sekolah adalah salah satu tempat ternyaman ku untuk melupakan sejenak tekanannya.
Siang seperti kuburan,pulang sekolah tidak ada yang menyambut karena disibukkan dengan kerjaan masing masing diluar sana .kembali kerumah sangat menyakitkan bagiku hanya akan menambah kesedihan,mataku selalu berair setiap pulang ke rumah itu,seperti orang yang menangisi orang mati.
Sore seperti hutan,mereka sudah kembali dari pekerjaannya.meski begitu rumah itu tetap saja sepi seperti hutan belantara yang terdapat suara suara sumbang.rumah itu hanya terdengar televisi,suara langkah kaki,suara sendok beradu dengan piring. Meski rumah itu ada lima penghuni tidak ada satupun yang saling menyapa ,bak hutan hanya angin sepoi sepoi yang melintas begitu saja.
Malam seperti neraka.
Malam adalah masalah utamanya.dimana setiap jam delapan malam semua harus sudah memasuki kamar dan kamar harus dikunci dari dalam,kecuali mamah.
Mamah setia menunggu di depan televisi.
Yang ditunggu siapa?? Ayah aku.
Ya ayahku setiap sore pulang kerja habis bersih bersih diri selalu langsung pergi
Keluar menikmati suasana malam entak kemana bersama teman temannya,dan akan pulang setelah jam 10 ataupun lewat dari itu.Pulang dengan keadaan mabuk,meminta makan ke mamah yang dimana setelah dibuatin makanan akan berakhir dibuang hingga piring pecah dan gelas melayang kesembarang arah.melakukan perdebatan dengan suara ditinggikan dan dibales oleh mamah dengan teriakan.sedangkan aku dan kedua adikku? Hanya bisa pura pura tidur aku pura pura menulikan telinga,membisukan mulut dengan airmata yang membanjiri wajah dan bantalku.
Sesekali melirik adek aku yang berbaring disampingku melakukan hal yang sama .
Bangun dipagi hari seakan akan tidak ada yang terjadi tadi malam.Memakai bedak tebal supaya tidak kelihatan habis menangis lalu berangkat sekolah dengan tidak saling menyapa.
Hal yang terjadi semalam itu akan terjadi tiap malamnya tanpa henti
Setiap malam berikutnya aku pindah tidur kekamar satunya karena sungguh hatiku sakit melihat adik adikku harus mengalami hal ini meskipun mereka belum mengerti hal itu tapi mereka akan selalu menangis dalam diam jika mendengar kejadian itu.Hingga pada akhirnya aku harus menggunakan tabungan aku untuk membeli dua headset untuk mereka .kenapa gak beli tiga ya karena tabung aku hanya cukup buat dua.
Malam demi malam keributan dirumah makin menjadi jadi ,hingga beberapa teman ayah mencoba ikut kerumah supaya ayah tidak berulah lagi dan ternyata tetap aja tidak ada bedanya mereka tetap berargumen,saling menyalahkan.
Sedangkan aku dikamar sendiri
Mencoba menenangkan diri sendiri
Berusaha menutup telinga supaya tidak mendengar semua itu yang hasilnya sia sia ,itu masih terdengar jelas .
Duduk disudut kamar berusaha tidak membenci mereka dengan kata "bagaimanapun itu orang tuamu"
Dari kecil sampai aku berumur 18 tahun hal itu menyiksaku.
membuat banyak perubahan dalam diriku.
Terbiasa menyembunyikan luka
Terbiasa memanipulasi perasaan
Hingga tak sadar itu menghancurkan diriku
Hingga aku membenci malam selama dihidupku
Lalu aku pergi sejauh mungkin
Menjauh dari rumah itu
Menghilang bak ditelan bumi
Setelah tiga tahun
Akhirnya aku menyerah
Mengakhiri hidup didunia ini setelah
Menitipkan surat kepada teman
Untuk mengembalikan ragaku yang tak bernyawa kerumah itu lagi.
*TAMAT*