.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam telah larut. Langit gelap tanpa bintang, hanya diselimuti awan pekat yang enggan memberikan ruang bagi cahaya bulan. Di sudut kota yang sepi, Raka duduk termenung di sebuah kafe kecil yang hampir tutup. Gelas kopinya yang sudah dingin dibiarkan begitu saja, sementara tatapannya kosong, menembus kaca jendela.
Pikirannya kembali melayang pada sosok itu—Nadia. Wanita yang dulu menjadi pusat dunianya, satu-satunya alasan ia merasa hidup berarti. Namun, kini kenangan tentangnya menjadi beban yang tak henti menghantui.
"Masih nggak bisa lupain dia, Ka?" suara Fadli, sahabat Raka, memecah keheningan.
Raka hanya menghela napas panjang. "Gue pikir gue udah baik-baik aja. Tapi kenapa ya, Li, setiap gue mencoba melupakan, malah makin sakit rasanya?"
Fadli tersenyum kecil. Ia tahu bagaimana keras kepala sahabatnya itu. "Kadang, bukan soal lupa atau nggaknya, Ka. Tapi soal menerima. Lo belum bisa nerima kenyataan kalau dia udah nggak ada di hidup lo."
Kata-kata Fadli menusuk Raka. Memang benar, Raka masih terus berharap, meskipun ia tahu semua itu sia-sia. Nadia sudah pergi, bukan karena maut, tapi karena pilihan.
---
Flashback dua tahun lalu, saat semuanya masih terasa sempurna. Raka dan Nadia adalah pasangan yang dikenal banyak orang. Mereka saling melengkapi—Nadia dengan kelembutannya, Raka dengan sikapnya yang tenang dan penuh kasih. Tapi di balik semua itu, hubungan mereka juga penuh pertengkaran kecil yang seringkali dipicu oleh hal-hal sepele.
Hingga suatu hari, pertengkaran itu menjadi bom waktu. Nadia, yang selalu mencoba memahami Raka, akhirnya lelah. Ia memutuskan pergi, meninggalkan semua yang pernah mereka bangun bersama.
"Aku nggak bisa terus begini, Ka. Aku butuh kebahagiaan, dan aku rasa kita udah terlalu jauh untuk memperbaiki ini," ujar Nadia dengan air mata mengalir di pipinya.
Raka hanya diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dalam pikirannya, Nadia hanya butuh waktu. Tapi ia salah. Nadia benar-benar pergi, dan sejak saat itu, hidup Raka berubah.
---
Kembali ke masa kini, Fadli mencoba membangunkan Raka dari lamunannya. "Lo tau nggak, Ka? Lo terlalu fokus sama masa lalu. Padahal, yang di depan lo sekarang butuh perhatian lo."
Raka mengerutkan kening. "Maksud lo apa?"
Fadli menunjuk seorang wanita di sudut kafe yang sedang membaca buku. "Itu Lira. Dia udah berbulan-bulan nemenin lo. Lo nggak sadar apa dia nunggu lo buka hati?"
Raka mengikuti arah pandangan Fadli. Lira, rekan kerja Raka, adalah seseorang yang selama ini sering ada untuknya. Namun, Raka terlalu buta oleh kenangan masa lalunya sehingga ia tidak pernah memperhatikan kehadiran Lira dengan sungguh-sungguh.
---
Malam itu, Raka pulang dengan pikiran yang bercabang. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah selama ini ia terlalu egois, terjebak dalam penyesalan, hingga melupakan orang-orang yang sebenarnya peduli padanya.
Esok harinya, Raka memutuskan untuk mengubah cara pandangnya. Ia mendekati Lira dengan sikap yang lebih terbuka. Tidak ada niatan untuk langsung jatuh cinta, tapi setidaknya ia ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk sembuh.
Prosesnya tidak mudah. Ada malam-malam ketika kenangan tentang Nadia kembali menghantui. Tapi setiap kali itu terjadi, Raka mengingat pesan Fadli: "Menerima, bukan melupakan."
Perlahan tapi pasti, Raka belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada yang datang untuk tinggal, ada pula yang pergi untuk selamanya. Yang terpenting adalah bagaimana ia menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.
---
Lima tahun kemudian, Raka berdiri di altar sebuah gereja kecil, dengan Lira di sampingnya. Hari itu, ia mengucapkan janji sehidup semati, bukan lagi untuk Nadia, tapi untuk Lira, wanita yang membantunya bangkit dari kehancuran.
Dan di sudut gereja, seorang wanita dengan senyum tipis menyaksikan momen itu. Nadia, dengan hati yang sudah tenang, memutuskan untuk hadir sebagai seorang teman lama. Dalam hatinya, ia tahu, Raka akhirnya menemukan jalan terbaik untuk dirinya sendiri.
Kadang, melupakan bukanlah jawaban. Tapi menerima, adalah langkah pertama menuju kebahagiaan yang baru.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.