Dia adalah Rey, Raja para vampir. Semua vampir takut padanya, namun dia malah bersifat lembut padaku. Aku adalah Lusy, kekasih Rey.
•••••••••
Aku sedang duduk di kursi sambil mengerjakan tugas. Tanpa diminta, tiba-tiba Rey langsung duduk di depanku.
“Cantik, udah dong belajarnya. Nanti kamu sakit," ucap Rey sambil mencubit pipiku.
“Aku juga mau selesai, tapi mau bagaimana lagi," keluhku.
“Baiklah, aku akan menunggumu," ujar Rey.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan untuk mengerjakan tugas. Sementar itu, Rey masih memandangiku sembari tersenyum.
“Jangan memandangiku seperti itu, aku menjadi tidak fokus," ucapku sembari menutupi matanya.
“Hei, jangan tutupi mataku. Nanti, aku tidak bisa melihat wajah cantikmu," ujar Rey.
“Hilih," ucapku.
Kami berdua bercanda bersama. Semua orang mengatakan kalau vampir itu menakutkan. Tetapi, setelah bertemu dengan Rey, aku rasa mereka telah salah menilai.
—Keesokan Harinya—
Aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Sesampainya di sekolah, aku melihat Rey sedang membaca buku sambil mendengarkan musik.
“Rey!" sapaku.
Rey tidak menjawab dan meneruskan membaca komik.
“Kenapa Rey tidak membalas sapaanku?" tanyaku dalam hati.
Aku duduk di kursi sambil menatap Rey dengan bingung.
Akhirnya kami hanya diam tanpa kata. Tidak ada sapaan atau candaan seperti biasanya. Karena sudah tidak tahan, akhirnya aku berdiri dan berjalan mendekati Rey.
“Rey, apa yang terjadi padamu?" tanyaku.
Rey masih diam dan tidak mau menjawab pertanyaanku.
“Rey katakan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanyaku sembari memegang bahu Rey.
“A-aku," ucap Rey.
“Kau kenapa?" tanyaku lagi.
“Aku harus meninggalkanmu," ucap Rey dengan berat hati.
Tubuhku langsung terdiam, mematung.
“A-apa maksudmu?" tanyaku.
“Besok akan terjadi Bulan Purnama Merah. Itu adalah saat dimana para manusia serigala akan bangkit dan menyerang kerajaan vampir. Tentu aku tidak bisa diam saja, aku harus membantu para vampir," ujar Rey.
“Tapi kenapa kau harus meninggalkanku?" tanyaku yang masih tidak mengerti.
“Karena, kemungkinan besar aku akan mati," ujar Rey.
Mendadak tubuhku mematung.
“Apa maksudmu kau tidak bisa kembali? Kau bisa mengalahkan para manusia serigala itu kan?" tanyaku.
“Tentu saja aku bisa mengalahkan mereka. Aku ini vampir yang hebat," Rey berusaha untuk meyakinkanku.
Tak terasa, bulir-bulir air mata mulai mengalir di pipiku. Aku tidak bisa menahan tangis.
“Hei, kenapa kau menangis? Aku akan baik-baik saja, percayalah," Rey kembali berusaha untuk menenangkanku.
“Tapi kenapa aku merasa bahwa kau berbohong?" tanyaku.
“Apa maksudmu?" tanya Rey bingung.
“Entah mengapa, aku merasa bahwa kau berpura-pura baik-baik saja. Padahal, kau sedang merasakan kesedihan yang amat mendalam," jelasku.
“Lusy," mata Rey berkaca-kaca.
“Aku memang tidak bisa membaca pikiranmu. Tapi, aku bisa melihat dari sudut pandangmu. Aku dapat merasakan kesenanganmu dan aku juga dapat merasakan kesedihanmu. Jadi, tolong jangan berbohong padaku, hiks," ucapku sambil menangis sejadi-jadinya.
Air mata juga mulai mengalir dari mata Rey. Kemudian, Rey menempatkanku dalam pelukan hangatnya.
“Ya. Aku tidak baik-baik saja. Jujur, aku benar-benar sedih saat harus berpisah denganmu. Tapi, percayalah, besok aku akan menemuimu lagi setelah aku mengalahkan para manusia serigala itu," ujar Rey lirih.
Aku hanya mengangguk sambil menangis sesegukan.
“Berhentilah menangis. Kau terlihat sangat jelek ...," ucap Rey sambil mengusap air mataku.
—Keesokan Malamnya—
Malam ini adalah malam Bulan Purnama Merah. Aku sedang meringkuk di kasur. Namun, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan Rey. Akhirnya, aku memutuskan untuk melihat ke luar melalui jendela.
“Bagaimana keadaanmu Rey?" tanyaku lirih.
Setelah cukup lama memandang luar, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Aku pun segera turun dan membukakan pintu. Aku benar-benar terkejut seseorang yang familiar bagiku, sedang berdiri dengan keadaan terluka parah.
“Rey?" aku benar-benar terkejut.
“Lu-sy," ucap Rey kemudian pingsan dan terjatuh.
“Rey. Bangun Rey," aku bingung harus berbuat apa.
Tiba-tiba, Rey menggenggam jariku dengan tangan dinginnya.
“Maaf, aku tidak bisa bersamamu," ucap Rey.
“Apa yang kamu katakan, Rey?" tanyaku bingung.
“Aku tidak memiliki kesempatan untuk hidup lagi," ujar Rey.
“Enggak, kamu adalah vampir yang kuat kan? kau pasti bisa melewati ini semua," ucapku sambil menangis sesegukan.
“Bisakah kau mengabulkan permintaan terakhirku?" tanya Rey.
Aku hanya diam dan masih terus menangis.
“Ayolah, sudah ku bilang bukan? kau ini jelek saat menangis," Rey masih berusaha untuk menghiburku.
“Apa keinginanmu?" tanyaku.
“Sejak dulu, aku ingin sekali melihat matahari terbit bersama orang yang paling aku sayangi. Jadi, aku ingin kau menemaniku untuk melihat matahari terbit," ujar Rey.
“Tidak. Itu hanya akan menambah parah lukamu," ucapku.
“Aku mohon, kabulkan permintaan terakhirku," ucap Rey seraya tersenyum.
“Baiklah ..." ucapku.
Tak ada pilihan lain, aku harus mengabulkan permintaan terakhirnya. Setidaknya, dia dapat pergi dengan tenang.
—Keesokan Paginya—
Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Kami berdua sedang berada di atap gedung. Rey bilang, kalau itu adalah tempat untuk melihat matahari terbit yang terbaik. Sekarang, Rey sedang tidur di pangkuanku.
“Apa kau yakin, Rey?" tanyaku yang masih ragu dengan keputusan Rey.
“Iya, aku benar-benar yakin," kata Rey sambil menganggukan kepalanya.
Perlahan, matahari mulai muncul.
“Wah ... Mataharinya benar-benar indah," ucap Rey.
Aku hanya dapat memandangi Rey dengan mata berkaca-kaca. Karena aku tahu, kulitnya pasti akan terbakar.
“Rey," air mata mulai mengalir dari mataku.
Tiba-tiba, kulit Rey terbakar.
“Argh..." Rey merintih kesakitan.
“Rey, aku mohon ayo kita kembali!" ajakku.
“Tidak. Aku tidak apa-apa kok," Rey menutupi kesakitan dengan senyumannya.
Rey menjulurkan tangannya dan membelai rambutku.
“Maaf, aku tidak bisa selalu bersamamu. Meski begitu, aku akan tetap menjagamu," ujar Rey kemudian tangannya jatuh ke tanah.
“Rey! Rey ...!" Aku berusaha untuk membangunkan Rey, namun tidak ada jawaban sama sekali.
“REY!" Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Rey.
—Keesokan Malamnya—
Aku sedang duduk diam di taman sambil merenung. Tiba-tiba seorang pria mengambil tasku.
“Hey balikin!" aku berusaha untuk menarik tasnya.
Pada akhirnya, aku malah terjatuh. Pria itu segera berlari. Akan tetapi, seorang laki-laki berjaket hitam datang entah dari mana dan memukul pria itu. pria itu pun lari ketakutan.
“Hei, kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu sambil menjulurkan tangannya.
“Rey?" Aku terkejut saat melihat laki-laki itu ternyata adalah Rey—kekasih vampirku.
“Apa kabar, Lusy?" tanya Rey sambil tersenyum.
Aku meraih uluran tangannya sambil tersenyum juga.
—Tamat—