Aku saat masuk smp kelas 8 yang biasanya gugup diawal. Waktu ingin pemilihan struktur kelas, Aku merasa kayak ada nama yang aku kenal. Yah awalnya Aku merasa itu ga benar, tapi saat udah kepilih dan aku liat wajahnya.
"Itu beneran dia yang saat sd? Aku ga nyangka bakal ketemu dan sekelas lagi" ucap ku sangat senang ketika bertemu crush ku.Yah awalnya Aku kira bakal bisa dekat sama D (crushku biasa dipanggil aja bakwan atau Wawan sama teman sekolahku), tapi nyatanya Wawan cuek dan menjauh sama Aku dan teman dekatku saja.
"Apa karna kekuranganku dia menjauh? Ingin dekat dan minta diajarkan materi yang tidak mengerti, tapi Akunya dicuekin dong" gumamku sedikit kesal. Itu cukup sulit untuk mendekatinya, tapi Aku kadang bingung dengan sifatnya. Wawan suka aku juga atau gimana, ini benar benar membingungkan. Tapi temanku si Belgi ini jahilnya gak ngotak banget, masa tuh bocah dorong Aku yang di depan pintu kelas saat Wawan lewat, perasaanku yang bingung disaat itu juga. Ingin marah sama teman tapi lagi salting karna ga sengaja kepeluk crush sebdiri.
"Aurel gimana rasanya meluk crush sendiri? Enak ga?" belgi mencuba menggodaku. "Lebih baik Belgi coba sendiri deh gimana rasanya meluk crush, tuh orangnya ada di depan kelas. Gas aja ga sih" balasku menggoda Belgi yang mukanya memerah. "Ish... Aurel! Aku ga suka loh sama tuh tiang!" sedikit teriaknya.
Aku dan Belgi sering menjahil Satu sama lain, seperti bilang lebih pendek ari crush masing masing lah. Crush Belgi emang tinggi, aku aja tingginya sampai bahu mungkin? Aku juga ga tau, yang Aku tau cuman tinggiku sampai hidung crushku. Yah Aku sering gugup ataupun jantungku berdetak kencang saat di dekatnya, tapi ga pernah dapat balasan darinya.
Waktu kerkom atau disebut kerja kelompok Bahasa Indonesia tuh Aku sangat gugup dan diakhir ingin marah sama Wawan. Diawal aku satu kelompok sama Wawan, Dhea, dan Fathir, ntah apa yang dipikirkannya sampai sampai duduk di sebelahku dengan menggeser kursinya dikit menjauh dariku. Gila! Aku bingung disana, Belgi hanya mentertawakanku diam diam dari jauh tempat kelompoknya.
"Wan......! Pindah duduk depan sanalah, emang kau mau duduk berdua sama cewek? Gak kan? Pindah dong" teguran Dhea temanku. "Kau duduk disini Dhea?" tanya Wawan. "Yaiyalah, mau duduk mana lagi? Di meja? Gak lah!" balas Dhea dengan tegas karna lagi badmood. Yah emang senang sih saat Wawan duduk denganku, tapi sifatnya ngeselin saat Aku ga ngertk tugasnya, ya Aku ingin nyontek punya dia. Tapi Wawan pelit banget sama Aku, masa kedua teman sekelompokku dipinjamin bukunya sama Aku gak, malah diambil cepat bukunya lagi saat aqku pengang.
Sikapnya kadang aneh saat denganku, tapi sama cewek lain kecuali Aku dan Belgi pasti dekat banget, sampai sampai Wawan duduk berdekatan. "Aurel, Aurel, Aurel!" dia memanggilku dengan suara kecil. Ya Aku lihat lah dia didepan, Wawan ingin minjam barangku tapi entah apa yang buat ga berani. "Ada apa?" balasku sambil liat ke depan. "g-gak jadi, gak jadi" lirihnya dengan gugup. "Aneh bet dah ni anak, tapi kok bisa ya Aku suka sama nih bocah?" gumamku pelan tapi didengar oleh Belgi yang duduk disampingku.
"Kenapa rel? Kok kayak kebingungan? Ada masalah kah?" Belgi bertanya padaku. "eh?... Gak, gak ada kok Bel!" balasku dengan gugup. Yah Belgi tau apa maksudku, Wawan pura pura bego aja. Aku mulai bingung lagi dari sana, Wawan suka sama seseorang kah? Aku kepo banget siapa yang Wawan sukai itu.
Yah sampai sekarang Aku hanya menyukainya diam diam, dan saling berjauhan dengannya. Ini pertama kali Aku menyukai orang loh. Jadi gak ngerti banget apa aja permasalahannya.