Pagi ini mendung menguasai langit. Sinar mentari susah payah untuk menampakkan kharismanya. Walaupun usaha itu pasti akan sia - sia karena sepertinya awan mendung hari ini akan menumpahkan air matanya kebumi.
Lain halnya dengan seorang gadis yang sedang berjalan diatas trotoar dengan langkah – langkah kecil sambil bersenandung ria dengan niat berangkat kesekolah. Dari belakangnya, berjarak sekitar 1 meter dengannya aku melihat kegembiraan terpancar jelas dari gerak gerik tubuhnya. Dengan langkah cepat kuhampiri dia.
“ Halo Aira. Selamat pagi. “
“ Oh…Hai Keyla. Pagi juga. “
“ Ada apa? Kamu bahagia banget hari nampaknya. Cie yang hari ini Ulang Tahun. Oh iya, selamat Ulang Tahun Aira. Kadonya nanti ya waktu udah di sekolah. Soalnya kemaren aku tinggalin di loker. “ kataku dengan semangat. Aku tahu pasti sahabatku ini bakalan suka dengan kadoku.
“ Makasih Keyla. Kamu sahabatku yang paling baik sedunia. Hari ini aku sedang sangat bahagia. Kemaren aku menelpon papaku untuk pulang. Aku ingin aku merayakan ulang tahunku dengan papa, mamaku. Dan coba tebak apa kata ayahku? “
“ Apa? “
“ ‘Iya sayang papa akan pulang demi kamu’ itu katanya, aku seneng banget Key. Aaaa… “. Ceritanya dengan semangat yang Ekstra.
Percakapan tentang ulang tahun terus berlanjut hingga kami tiba di depan gerbang sekolah. Dengan langkah ringan seperti biasa kami memasuki gerbang sekolah didampingi dengan obrolan ringan.
Sesampainya di kelas aku langsung meletakkan tasku di tempat aku duduk dan melangkah ke arah lokerku. Dengan semangat kukeluarkan sebuah kotak coklat dari lokerku. Sebuah benda yang sangat diinginkannya.
Senyumku langsung mengembang saat aku melihatnya sedang duduk – duduk di taman sekolah. Biasanya dia sangat sulit untuk ditemukan, entah mengapa kali ini sangat mudah untuk menemukannya. Kudekati dia dengan senyum masih mengembang entah bagaimana rasanya akhir - akhir ini terlalu banyak yang sempurna. Pertama berangkat bersama kesekolah dengan sahabat, kedua aku memberikan kado ulang tahun untuk sahabatku untuk pertama kalinya, lalu aku mudah sekali untuk menemukannya, dan keinginanku pindah ke jakarta dikabulkan...dan banyak lagi.
“ Hai! Sedang apa? “
“ Hai! Aku sedang menunggu bel masuk berbunyi. Ada apa? “
“ Oh ini….hadiahmu. semoga kamu suka. “ Ku berikan sebuah kotak berbentuk persegi panjang berwarna coklat dengan pita berwarna coklat pula di atasnya.
“ Makasih Keyla. Aku selalu suka apa pun hadiah yang kamu berikan. “
“ Iya sama – sama. “
“ Aku buka sekarang ya? “
“ Oke “
Ku buka kado yang diberikan Keyla.
“ Wuoah… Keyla kok kamu tau kalau aku suka ini? Aaa… aku suka kado kamu. Makasih ya “ kataku dengan penuh haru.
“ Iya sama – sama. Ngomong – ngomong ini sudah yang ketiga kali kamu berterima kasih sama aku pagi ini loh, dan untuk ketiga kalinya pula aku mengucapkan kata ‘sama – sama’ “
Kami tertawa bersama. Tanpa aku sadari air mataku jatuh manetes kepipiku tanpa seizinku. Mungkin ini pengaruh dari aku terlalu bahagia atau yang lain. Aku merasa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Tiba – tiba aku dikejutkan oleh panggilan Keyla.
“ Aira! Aira? Kamu baik – baik aja? “ Tanya Keira cemas.
“ Eh…iya…aku cuma sedih hari ini kamu sudah mau pergi. Jam berapa Key? “
“ Jam 1 nanti keretanya berangkat. “
“ Yah aku ngak bisa ngantarin nih, giman nih Key? “
“ Ngak papa kok gantinya…nanti kalau aku sudah sampai aku telpon aja ya? Oke? Oke! “
“ Hhhh…baiklah “
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Aku masih sedih. Keyla sudah pulang dari tadi. Saat sedang melamun aku teringat papaku hari ini sampai di bandara.
Aku pulang dengan wajah berseri – seri.
“ Aku pulang “seruku saat tiba di pintu rumah. Saat aku melewati pintu aku bingung aku seperti mendengar suara orang menangis awalnya aku mengira itu suara tangisan hantu tapi aku sepertinya merasa sangat familier dengan suara tangisan itu. Dengan cepat kulangkahkan kakiku kearah datangnya suara itu. Ternyata suara itu dari kamar mamaku. Dengan pelan aku mengintip kedalam yang kebetulan pintunya tidak tertutup rapat.
“ Mama? “ tanyaku kaget saat aku melihat ternyata mamaku yang menangis.
“ Mama kenapa? “tanyaku lagi sambil menyentuh pundak mamaku. Dan tiba – tiba sekali mama mendorongku ke belakang hingga aku jatuh terduduk.
“ Kenapa kamu masuk kekamar saya “ teriakan mamaku yang terasa sangat menggelegar. “ Gara – gara kamu ya suami saya pergi untuk selama – lamanya. Coba saja kamu tidak memintanya untuk pulang hanya untuk merayakan ulang tahun bodohmu itu dia tidak akan mengalami kecelakaan. Semua ini salah kamu…Keluar! Keluar kamu dari kamar saya! Jijik saya melihat wajah kamu”.
Aku terkejut mendengarkan suara mamaku yang tidak seperti biasanya. Apa? papa mangalami kecelakaan? Gara – gara aku? Ngak mungkin… pasti mama bohong. Ku tegakkan kepalaku dan ternyata mama sudah ada di depan ku dengan wajah sembabnya.
“ Mama…mama bohongkan…mama bohongkan ma? kalian mau bikin kejutan buat aku kan? Ma… jawab ma ini bagian dari kejutannyakan?Ma…”
“ Kamu…KELUAR! SAYA BILANG KELUAR YA KELUAR. DASAR PEMBUNUH…KAMU SENANGKAN SAAT MELIHAT SAYA SEPERTI INI? SUDAH PUAS KAMU? KELUAR…”
Dengan sekali sentak ditariknya aku keluar dari kamarnya. Hatiku hancur, papa yang aku rindukan sudah pergi dan mama yang sangatku sayangi benci padaku. Melihat aku aja ngak mau.
“ BRAAAK….”suara pintu yang ditutup dengan sangat keras membuat hatiku bertambah sakit. Dengan pelan kulangkahkan kaki ku kekamarku dan mengunci pintunya dari dalam disana – diatas tempat tidurku - aku terisak. Seharusnya mama memelukku dan aku balas memeluknya sambil saling menenangkan. Aku sadar seharusnya aku tidak mengikuti egoku. Tidak mengikuti kkeinginan serakahku…
Hari itu, hadiah ulang tahunku yang ke 11 adalah kepergian papaku dan kepindahan sahabatku. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Dan aku juga sudah kehilangan kontaknya. Hari ini aku kembali merayakan ulangtahunku yang ke 14 tahun. Didepanku terletak sebuah kue ulang tahun yang sudah mencair sebab telah aku biarkan sejak satu jam yang lalu, memikirkan tentang masa lalu yang membuatku sedih.
Sebulan sesudah kepergian papaku, mamaku juga menyusulnya, ada niat didalam hatiku untuk mengakhiri semuanya tapi kenginan itu langsung aku tepis aku takut nanti mereka sedih karena aku. Aku tinggal sendirian di rumah. Kesendirian itu membuatku menjadi terlalu cepat dewasa. Segalanyaku lakukan sendiri. Saat awal – awal keluarga dari mama papaku menolongku, lama – lama entah mengapa mereka satu persatu meninggalkan aku yang sedang membutuhkan kasih sayang orang tua sampai sekarang, tidak seorangpun kerabat dari orang tuaku datang untuk melihatku.
TAMAT