Zaman Belanda adalah zaman yang dimana rakyat Indonesia hidup penuh dengan kesengsaraan dan kesusahan para kolonialis Belanda itu menyiksa hingga memperbudak mereka. Sering kali para pribumi kelelahan sampai berujung pada kematian. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena minimnya persenjataan dan pengetahuan para pribumi Indonesia. Hingga seorang anak laki-laki bernama Raden, ia dibesarkan di tempat perbudakan yang dibangun dan didanai oleh pemerintah Belanda untuk menampung para pribumi.
Tidak kala Raden sering dipukul dan tangannya dibakar menggunakan korek api. Hingga seorang istri kolonel Belanda membelinya untuk menjadi pengasuh sekaligus teman bermain putrinya yang gila dan buta itu.
"Dengarkan aku, kau harus menjadi pengasuh dan menjadi teman untuk putriku. Ingat." Ucap nona violet dengan nada tegas dan sarkasme. Raden hanya mengangguk pasrah, dia hanya bisa berdoa dan berharap kepada Allah untuk mengubahnya suatu hari nanti.
Suara jeritan dan amukan terdengar dari kamar seorang gadis kecil yang tidak lainnya adalah Sophie, putri tunggal dari kolonel Luther. Pengasuhnya sudah kewalahan untuk menghadapinya jadi memutuskan untuk melarikan diri, dan sekarang ia sendiri dengan kebutaan dan keterbelakangan mental nya.
Nona violet menuntunnya ke kamar putri tercintanya itu. "Malaikat kecilku, siapa yang ibu bawa untukmu." Tangisan dan amukan gadis itu seketika hilang dan merasa penasaran terhadap apa yang ibunya katakan. "Mama... siapa yang kamu bawa? Siapa?" Sophie berusaha bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan meraba-raba berusaha merasakan kehadiran ibunya. "Seorang pengasuh baru untukmu, nak." Mendengar informasi itu , amarah dan amukannya kembali meledak. "Mama, aku tidak mau .. aku tidak mau!" Protes Sophie sambil terus menghentakkan kakinya.
Nona violet meraih tangannya dan menenangkannya. "Sayang, sayang, Dengarkan mama nak, dengarkan dulu pengasuh kali ini bukan seorang wanita dewasa tetapi anak-anak sebaya dengan mu jadi kau tidak usah khawatir." Mendengar itu Sophie langsung sumringah sementara itu Raden hanya terdiam menunduk. "Mama, tunjukkan dimana dia sekarang, Aku ingin bermain bersamanya." Nona violet langsung menuntun putrinya kearah Raden.
Ketika sudah dihadapan Raden, tangan Sophie langsung menyentuh dan meraba-raba wajahnya sebagai tanda perkenalan padanya. Raden yang merasa canggung akhirnya memperkenalkan diri nya, "na-nama saya Raden...pengasuh sekaligus teman bagimu nona muda." Sophie pun langsung memeluknya erat,serasa sudah jadi teman akrab padahal baru kenal. "Bocah hina kau menjadi pengurusnya bukan berarti kau bisa memanjakan hingga dia bergantung padamu. Mengerti." Ucap nona violet dengan nada kasar dan menghina. Mendengar peringatan tersebut dari majikannya langsung menganggukkan kepala. "Ba-baik nona aku akan mendengar perintah mu." Kemudian nona violet pergi dari dari kamar meninggalkan mereka berdua.
"Nona muda sekarang, apa yang kamu inginkan?" Kepala gadis kecil itu mendongak matanya yang putih menatap teman barunya tersebut. "Aku ingin kau membacakan sebuah cerita, untukku." Raden langsung tersenyum. "Baik nona, aku akan menceritakan kisah cinta Raden munding dari dan putri raja siluman." Raden segera menuntunnya ke ranjang dan membaringkannya. Sophie dengan wajah penasaran dan semangatnya bertanya, "prabu munding sari dan putri raja siluman? Aku belum pernah mendengar cerita itu." Raden tersenyum lembut padanya. "Itu adalah dongeng asal dari Jawa Barat." Sophie lanjutkan berbicara. "Menarik...tolong ceritakan kisah itu padaku aku sangat penasaran."
Raden lalu mulai mendongeng tentang kisah cinta Raden munding sari dan putri raja siluman, hingga kelahiran Nyi toro kidul. Sophie mendengarkan dengan penuh khidmat dan rasa bangga takjub, dia mulai membayangkan ada didalam dongeng itu sebagai Dewi srengenge putri prabu munding sari. Hingga akhir cerita ia pun tertidur dibawah sinar rembulan.
"Huh..dia sudah tidur, aku harus kembali ke kamar pelayan." Desah Raden menghela nafas lega dan menutup pintu kamarnya lalu keruangan para pembantu di kediaman kolonel Luther. "Sebaiknya aku berwudhu dan solat." Raden segera sumur belakang mansion yang disediakan lalu berwudhu. Setelah itu melakukan solat malam lalu berdoa untuknya, kedua orang tuanya dan terutama bangsanya yang sedang berusaha melawan kekejaman ini.
Banyak hal-hal yang terjadi dalam kehidupan Raden, penyiksaan dan amukan putrinya sudah menjadi makan sehari-harinya. Namun, Raden tak pernah pantang menyerah. Sophie juga semakin melekat padanya mereka tumbuh bersama dan tak terpisahkan. Nona violet yang melihat putrinya bukan mandiri malah menjadi ketergantungan semakin jengkel dan marah pada Raden, hingga pada saat menemani Sophie dihalaman rumah nona violet datang dan langsung menjewer telinga Raden. "Hey sudah ku peringatkan kau tidak boleh membuat putriku menjadi orang yang bergantung!" Raden pun langsung meringis kesakitan. "Ampun nona,ampun nona, saya minta maaf..." Violet tidak mau mendengarkannya dan terus menjewer dan memukulnya.
Sophie yang merasakan ketidaknyamanan dan terancam Raden, langsung mencoba membela temannya itu walaupun dia tidak bisa melihat. "Mama hentikan..mana hentikan, kau tidak bisa menyakiti Raden...itu bukan salahnya,dia adalah segalanya bagiku.. tolong hentikan." Sophie terus menerus memukul-mukul tangan ibunya menyuruhnya berhenti menyakiti, tetapi istri kolonel tersebut tidak mau mendengarkan. Ia terus menyiksa Raden hingga babak belur lalu meninggal mereka berdua.
Sophie segera memeluk Raden dan membenamkan wajahnya ke dadanya. Ia pun menangis histeris, "Raden..maafkan mama..aku tidak ingin berpisah darimu." Raden tersenyum getir padanya. Ia membelai rambut pirangnya yang keriting dan menciumnya. "Tidak. Tidak akan pernah kita berpisah walaupun seribu kali aku tetap ada di sampingmu."
Raden terus membelai rambutnya, ia menepuk-nepuk kepala Sophie dengan lembut. Keduanya saling menyayangi dan tidak menyadari mereka mempunyai rasa cinta didalam dirinya. Hingga mereka memasuki masa remaja, Sophie semakin bergantung pada teman tersayangnya itu. Sementara itu, Raden diam-diam keluar dari kediaman kolonel. Dia bergabung menjadi anggota perhimpunan pemuda Indonesia, dia berperan aktif, kolonel Luther tidak menyadarinya. Hingga pada suatu malam saat aku ingin kembali ke markas perhimpunan pemuda Indonesia, Sophie terbangun dan menyadari aku tidak ada. "Raden... Raden, dimana kamu...aku sangat merindukanmu... tolong jangan pergi." Sophie meraba-raba sekitarnya dan tidak merasakan kehadiran ku, hingga dia terjatuh. "Raden...Raden!!" Ia pun menangis keras. Raden yang sudah diluar segera berlari ke kamarnya dan memeluknya erat-erat, "nona muda, tenanglah aku ada disini." Sophie pun menjadi mereda ia terus menempel pada nya.
"Maafkan aku nona muda,aku harus kembali ke markas." Mendengar hal itu Sophie semakin menempel padaku ia menggelengkan kepalanya. "Tidak,tidak aku ingin bersamamu...bawa aku pergi." Dia terus mencengkram pakaian Raden seakan-akan selamanya. Raden tersenyum dan mengangguk. "Baiklah mari kita melarikan diri dari sini." Raden langsung menggendong Sophie ala pengantin, dan melompat dari jendela menuju markas perhimpunan.
Di gang-gang jalan Raden menurunkan Sophie dari pelukannya, Keduanya saling berpegangan tangan dengan mesra. Raden melihat gadis pirang itu. "Kau sangat cantik juga, nona muda...aku mencintaimu." Saat kata-kata keluar Sophie jadi tersipu malu, "oh.. Raden aku juga mencintaimu...aku sangat mencintaimu." Lantas mereka pun berciuman dan menghabiskan waktu bersama, mereka juga membantu kemerdekaan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajah.
Pada tahun 1930 mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak bernama Nathaniel dan Ratna. Raden juga sangat menyukai rambut pirang istri Belanda nya. Sampai membuat syair memuji kecantikan Sophie, dan hingga akhir hayat mereka, keduanya dikuburkan berdampingan sebagai pahlawan Nasional Indonesia. Cucu-cicit mereka banyak menjadi pemimpin di negara khatulistiwa dan Netherlands.