Negeri Sakura
#Cermin
By. Asty L O
Di sinilah aku berdiri, memandang kembali indahnya pohon sakura yang berjejer rapi di tengah taman Yoyogi Park. Menghabiskan waktu di musim semi di taman ini sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu. Dulu ada seseorang yang selalu bersamaku, menghabiskan waktunya sepanjang hari hanya untuk menemaniku menghirup harumnya mekaran bunga sakura.
Setelah lama berada di Indonesia, kini aku kembali untuk bernostalgia. Hampir mustahil membayangkan musim semi di Jepang tanpa gambaran lautan pohon sakura yang dibanjiri mekarnya bunga berwarna merah muda yang sempurna. Langsung terlintas baik kenangan-kenangan indah itu saat mengelilingi gedung pencakar langit beton Tokyo yang dipenuhi awan, dan latar depan gunung berbentuk segitiga yang menjulang.
Waktu itu, di bawah rindangnya pohon sakura, tiba-tiba saja dia berjongkok di hadapanku. Tangannya merogoh kantong celana, terdapat sebuah kotak beludru berwarna merah berbentuk hati.
Ah, sangat manis, bukan?
Cincin permata blue shappire yang sebelumnya tidak pernah ada dalam anganku untuk memilikinya. Kini cincin itu berada dalam genggaman pria terkasihku.
"Christin Wibowo ... in front of everyone and under the cherry tree will you be the mother of my children?"
(Christin Wibowo ... di hadapan semua orang dan di bawah pohon sakura, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?)
Aku membekap mulut tak percaya. Demi apa? Dilamar oleh pria berdarah Jepang. Meski kami memang memiliki hubungan spesial. Namun, aku tak menyangka dia akan seserius ini.
"Nona, sebenarnya aku tidak suka mengulang—mempertanyakan hal yang sama, tetapi demi dirimu aku rela mendatangimu hingga berkali-kali jika kamu menolakku. Emm ... baiklah, Nona Christin Wibowo, bersediakah kamu untuk menjadi pasangan sahku? Dan menemaniku hingga kita menua bersama sekaligus menjadi ibu untuk anak-anakku kelak?" tanyanya lagi, yang membuatku semakin terpana.
Pupil mataku digenangi cairan bening. "Ya, aku siap menjadi ibu dari anak-anakmu dan menemanimu hingga kelak takdir yang memisahkan kita." Tanpa berlama-lama lagi kuiyakan pertanyaannya.
Cincin blu safir itu kini bertengger di jari manisku hingga saat ini. Meski dia telah tiada, namun raganya seolah masih berpendar dalam sanubariku.
Dia menyatukan kedua kening kami. Terdiam lama tanpa bersuara, namun sesekali mengembuskan napasnya kasar menerpa kulit wajahku, membuat wajah ini menghangat dalam seketika.
Betapa aku merindukan masa-masa itu. Masa-masa romantis bersamanya adalah hal yang paling terindah dalam hidupku.
Aku menepati janjiku untuk menjadi ibu dari anak-anaknya, tetapi dia malah pergi menghadap Tuhan lebih dulu.
Masih kuingat jelas kata-kata terakhirnya. "Istriku, jika kamu merindukan suamimu ini, maka datanglah ke Negeri Sakura. Di taman Yoyogi Park tubuhku akan harum bersama mekarnya bunga sakura, dan anak-anak. Kenalkan pada mereka tempat di mana mommy dan daddy-nya pertama kali bertemu."
Ah, kekasih halalku. Andai saja penyakit sialan itu tidak datang merenggut nyawamu, mungkin saat ini kita masih bersama dan merajut kasih asmara di bawah rindangnya pohon sakura ini.
Lihatlah, sekarang aku tengah berdiri di tempat dimana kamu melamarku dulu. Aku kembali mengenang masa-masa itu. Tiada kata yang mampu kuucapkan selain kata. 'I MISS YOU MORE'
Dan anak-anak, mereka telah tumbuh besar tanpa melupakan daddy mereka.
Tamat
****
"Di ujung senja termangu merenungi kesialan rindu yang yang tak berkesudahan. Lalu membayangkan hal-hal mustahil bersamamu. Percayalah, di setiap hembusan angin kutitipkan rindu untukmu."
"Ikhlas menerima segala yang sudah terjadi. Yakin sama Tuhan segala yang terjadi sesuai kehendak-Nya. Ikhlas bukanlah tentang tidak memiliki keinginan, tapi tentang menerima apa yang sudah ada."