Aku melihat jauh ke arah seseorang yang berada di luar jendela kelas. Seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta dengan keheningannya. Aku terus melihat kearahnya bahkan tanpa berkedip sekalipun,sampai sebuah tepukan di pundakku mengagetkanku dan membuatku salah tingkah.
"Hey.. liatin siapa hayo..?" tanya temanku Lia dengan nada mengejek.
"Ishh, apaan sih?, Lia?. Ngagetin aja deh." Ucapku kesal.
Lia melihat ke arah tatapanku tadi, lalu tiba-tiba ia menutup mulutnya dan beralih menatapku tak percaya. Lia menatapku seolah-olah ia tahu sesuatu,jantungku berdegup kencang.
"Sandra, pliss tadi lu liatin Sandy?." Lia masih menatapku tak percaya, aku pun terkejut dengan apa yang Lia katakan,lalu aku memelototi Lia.
"Jangan keras keras ngomongnya." Ucapku merengek padanya,lalu memukul pelan lengannya.
"Hayo..,lu suka Sandy,kan?."Lia tersenyum mengejek.
"Gak, apaan sih?." Ucapku sembari memutar bola mata malas.
"Halah udah deh, gak usah drama!. Gue juga udah tau dari lama kali." Aku membelalakkan mata menatap Lia sembari memegang kedua lengan Lia.
"Hah?, tau darimana?"
"Gerak gerik Lo keliatan banget kali'. Udahlah kekanton yok!!". Pipiku panas mendengar ucapan Lia.
"Apa sekeliatan itu?"aku bergumam.
"Malah jadi kepiting rebus. San!, ayolah ke kantin." Lia memukul lenganku pelan.
"Gak deh, lu aja sendiri." Ucapku sembari meletakkan kepalaku di meja.
"Ye.. gitu lu, awas aja" Lia pergi meninggalkan kelas.
Aku masih melihat kearah Sandy,saking terpesonanya aku tidak menyadari tiba-tiba Sandy berjalan melewati mejaku. Meja Sandy memang berada di barisan belakang paling pojok,sedangkan mejaku kedua dari kanan dan kedua dari depan.
Aku mengangkat kepalaku berusaha ingin melihat sekilas apa yang Sandy lakukan,tapi belum sempat aku menoleh,sebuah suara yang tak pernah aku dengar sebelumnya memanggil namaku.
"Sandra." Aku menutup mulutku tak percaya, lalu segera menoleh kearah suara itu berasal.
"Sandy?, Sandy manggil gue?." Ucapku dalam hati. Sandi berjalan mendekat dan duduk di kursi meja belakangku.
"Gak kekantin?." Tanya Sandy. Aku masih terkejut dengan apa yang terjadi, aku menggelengkan kepala sebagai jawaban,mulutku seperti dikunci.
"Mau makan bareng Sandy, gak?." Sandy mengeluarkan kotak bekal yang entah ia taruh di mana sebelumnya, Sandy membuka kotak makan siang berukuran sedang itu.
"Sandra suka nasi goreng,kan?." Ucap Sandy menatapku. Sekali lagi aku dibuat terkejut, "tau darimana?."
"Gak mungkin Sandy gak tau makanan kesukaan orang yang Sandy suka." Aku ingin berteriak, benar-benar ingin berteriak sekencang-kencangnya. Melihat Sandy menatapku sembari tersenyum,benar-benar momen yang tak pernah aku bayangkan.
Sandy menyodorkan sendok berisi sesuap nasi goreng,tak ingin menyia-nyiakan kesempatan aku pun tersenyum sekilas,dan membuka mulutku lebar "aaaaa".
*PUKKK*
Sebuah tepukan di mulutku berhasil membuatku terkejut. "Heh!!, ngapain lu?. Siapa yang nyuapin Lo Sandra?, kok aa..aa.. gitu?."
"Sandy" ucapku spontan sembari mengucek mataku.
"Ha?, Sandy?. Orang manusia batu itu daritadi di luar, mimpi ya lu?." Aku menatap Lia yang sedang membawa satu botol minuman ditangannya.
"Gak tau ah." Aku kembali meletakkan kepalaku di meja,dan memaksa menutup mata untuk tidur lagi.
"Ayo dong tidur lagi, gue pengen dengar suara Sandy lagi pliss, kenapa si giliran mimpi indah harus kepotong-potong?." Aku bergumam kesal.
"Andai aku bisa dengar suara dia didunia nyata."