"Kesenangan yang didapatkan dari materi tidak akan pernah memberikan kebahagiaan sejati. Sebab kebahagiaan sejati tercipta karena keikhlasan, kasih sayang dan ketulusan sesama untuk saling melengkapi."
Farasya Adinata adalah gadis berusia 17 tahun yang baru duduk dibangku kelas 2 SMA. Ia sangat mengidolakan seniornya yang bernama Raka. Ia terpesona olehnya karena ketampanannya dan kemahirannya dalam bermain basket. Apalagi ia lah yang menjadi kapten tim basket yang membuat point plus untuknya.
Fara sedang berjalan melewati lorong kelas seniornya yang tak lain adalah Raka. Ia berjalan pelan berharap bisa menemui Raka dan bisa mengobrol dengannya. Namun nyatanya berkata lain. Ia berjalan sampai didepan kantin tak kunjung menemukannya sampai ia kesal sendiri.
Ia berjalan kembali menuju ketoilet. Karena badmood, jadi ia tak jadi makan dikantin. Saat Fara keluar, tiba tiba matanya tak bisa berkedip melihat seseorang yang sedang mengalirkan air diwajah tampannya itu. Ia terus memandanginya tanpa sadar cowok itu mendekatkan dirinya kewajah Fara.
"Kenapa liatin aku gitu sayang?" Tanya Raka yang sudah dihadapan Fara. Sampai Fara bisa merasakan hembusan napas hangatnya.
Fara tersadar dan kaget, "Ah kamu terlalu tampan sampai aku merasa terhipnotis melihatmu."
Raka tersenyum melihatnya. Tangannya meraba wajah mulus Fara. Bibirnya menyatu sebagai tanda ciuman yang manis untuk mereka. Dihati, inilah yang diinginkannya dari sosok Raka. Tiba tiba....
"Hei kalian lagi ngapain!" Tanya guru bk yang tiba tiba datang. Ia tidak datang sendiri namun ditemani oleh sebatang kayu rotan yang biasa ia bawa.
"Mampus gue" gumamnya yang merasa tertangkap basah sedang bermesraan.
Guru bk pun langsung memukul Raka dan Fara dengan rotan yang dibawanya.
"Auwww" ringis Fara yang ternyata sedang dipukuli bantal guling oleh kakaknya.
"Kebo banget sih dari tadi dibangunin baru nyaut sekarang!" Kesal David- kakaknya.
"Huftt...cuma mimpi" ucap Fara lega tapi bercampur senang. Fara tersenyum membayangkannya lagi.
"Adik gue gila ya? Dipukul bukannya marah tapi malah seneng. Mau lagi?" Ucap David
"Yee kakak barusan gangguin mimpi indah gue tau nggak?!" Fara yang kesal langsung beranjak dari kasur empuknya lalu mengikat rambutnya yang terurai.
"Emang mimpinya apa? Indah banget ya dek? Sampai senyum senyum segala" Tanya David yang ingin tau.
Fara mendekatkan wajahnya kewajah David. "Kepo!!" Teriak Fara yang langsung lari kekamar mandinya.
"Awas lo ya dek" David langsung keluar dari kamar Fara.
▪▪▪
Tak membutuhkan waktu lama, Fara sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia duduk didepan meja riasnya menghadap cermin didepannya. Ia memandangi wajahnya yang mulus itu. Ia sedikit memberi polesan diwajahnya dengan bedak bayi dan liptint agar terlihat tidak pucat.
"Udah pas" gumamnya.
Fara kembali menyiapkan penampilannya agar terlihat indah. Tak lupa ia menata rambutnya juga sedikit menyemprotkan parfum ketubuh mungilnya agar tetap wangi ketika didekati seseorang.
"Perfect" ucapnya sambil membentuk jari ok.
"Gue berharap, tadi bukan cuma mimpi tapi kenyataan. Dan jika benar terjadi, gue bakal jadi wanita paling bahagia didunia ini" ucapnya sambil melihat penampilannya dicermin dan tersenyum senang.
▪▪▪
"Mana sih, kok nggak muncul-muncul orangnya" Fara menunggu Raka dilapangan basket yang biasanya Raka selalu disana untuk sekedar bermain. Ya gimana Raka tau kalau Fara sedang menunggu dilapangan untuk menemuinya, karena Fara sama sekali tidak memberitahunya.
Sudah setengah jam ia menunggu, namun nihil. Ia tak mendapati Raka lagi. "Hufttt...!" Fara menghela napasnya kasar. "Jika iya tadi itu mimpi, gue berharap mimpi tadi jadi kenyataan. Tapi sekarang gue lebih ngerti, mimpi itu cuma buah tidur!" ucapnya kesal dengan tatapan mengarah ke bola basket yang ada dilapangan.
"Dorr!" Fara kaget dan tersadar dengan tatapannya karena ada yang mengagetkannya. Ia menoleh dan ternyata Azka. Azka adalah teman sekelas Fara dan sabahat sejati Fara. Ia pernah menembak Fara beberapa kali namun ditolak Fara dengan alasan ingin berteman saja.
"Ihh..lo mau bikin gue jantungan hah?!" Kesal Fara yang langsung memukul tubuh Azka.
"Sorry Ra, sorry" Fara langsung berhenti memukul Azka. Azka duduk disebelah Fara. "Lo kenapa? Hah?" Tanya Azka.
"Gue tadi mimpi dan berharap itu bisa jadi kenyataan Az" ucap Fara yang masih menatap didepannya
Azka menghela napasnya. "Mimpi itu bisa jadi kenyataan tergantung diri kita aja"
"Tapi gue nggak bisa jadi nyata" ucapnya lagi.
"Emang lo mimpi apa?" Tanya Azka.
Fara menceritakan semua yang dimimpikan oleh Fara tadi. Saat diakhir cerita, tiba tiba Azka tertawa terbahak bahak.
"Kenapa ketawa?" Tanya Fara.
"Lucu tau! Hahaha.... lo mimpi dipukul guru bk tapi nyatanya lo lagi dipukulin kakak lo pake guling. Hahaha mimpi lo emang ajaib" ucap Azka yang tak berhenti tertawa.
"Ihh permasalahannya bukan disitu Az!" Ucap Fara kesal.
"Haha iya iya. Jadi lo berharap itu jadi kenyataan?" Tanya Azka dengan muka serius. Fara mengangguk mengiyakan.
Azka kembali tertawa renyah. "Hahaha....Fara..Fara! Lo terlalu ngarep tau nggak?! Didepan lo ini ada cowok kenapa nggak sama gue aja?"
"Idihhh kita ini cuma temen dan hanya sebatas temen titik. Gue nggak mau nanti kalo kita lebih dari temen terus putus, kita jadi kaya orang yang nggak pernah saling kenal. Gue nggak mau!" Bantah Fara.
"Iya iya, jadi berasa orang spesial gue" ucap Azka menggoda Fara.
"Apaan sih nggak usah ke-pdan"
▪▪▪
Tak terasa dua hari telah berlalu, Fara masih terus mencari cara agar ia bisa lebih dekat dengan Raka. Di Cafe yang cukup terkenal, Fara dan Azka sedang duduk disana sembari memakan pesanannya. Mereka menyantapnya dengan tawaan mereka berdua.
"Gue kenyang banget nih" ucap Fara sambil memegangi perutnya.
Azka tersenyum melihatnya. Tiba tiba didepan panggung penyanyi cafe, terlihat ada sosok yang selalu ada dipikiran Fara. Ia melongo tak percaya bahwa dia benar benar ada disini. Ia melihat Raka yang sedang memainkan senar ginar yang dijadikan melody sebuah lagu yang berjudul "Bernafas Tanpamu - Last Child"
Kini ku harus bernafas tanpamu
Yang meninggikan diriku yang selalu
Lemah tanpa dirimu
Yang ke lembutan hatinya harus tersakiti
Oleh kekalahanku melawan egoku
Ku akui aku yang memulai s'galanya
Tapi lihat kini akulah yang paling terluka
Bila harus kisah cinta ini ku akhiri
Kan ku akhiri sebagai Satu jalan yang terbaik untuk kita
Berdua
Kini ku harus berjalan tanpamu
Yang merelakan hidupnya yang selalu
Indah tanpa diriku
Ampuni aku yang telah hancurkan s'galanya
Tapi percayalah ku tak ingin engkau terluka
Bila harus kisah cinta ini ku akhiri
Dan ku akhiri sbagai
Satu jalan yang terbaik untuk kita
Dan kau harus temukan sebuah cinta yang pasti
Yang tak seperti aku yang jauh dari harapanmu
Dan bila harus kisah cinta ini ku akhiri
Dan ku akhiri sbagai satu jalan
Yang terbaik untuk kita
Dan kau harus temukan semua cinta yang pasti
Yang tak seperti aku yang jauh dari harapanmu
Semua yang ada disitu langsung bertepuk tangan. Karena suara Raka yang bisa dibilang sangat bagus. Fara membayangkan jika ia bersama Raka, ia akan selalu mendengar suara indah Raka setiap waktu.
"Pulang yuk, Ra. Ntar lo dicariin bunda gimana" ucap Azka.
"Yaudah yuk" mereka berdua keluar dari Cafe tersebut setelah membayar makanannya.
"Makasih ya Az, lo udah nraktir gue. Sering sering ya hhe" ucap Fara cengengesan.
"Iya siaap"
▪▪▪
Keesokan harinya...
"Jangan kak, itu punya gue" ucap Fara yang sedang mengejar kakaknya. David mengambil buku harian Fara yang berisikan tentang hari hari yang ia lewati.
Fara khawatir jika kakaknya tau kalau ia sedang jatuh hati ke Raka. Ia tidak ingin kakaknya sampai tau itu karena ia bisa mengadu ke bunda.
"Kak! Balikin nggak!!" Ucap Fara yang tk kunjung mendapatkan buku dari genggaman kakaknya.
"Kejar dong kalo bisa! Lagian kakak pengen ngerti isinya apa aja" ucap David yang hendak membukanya. Namun tiba tiba Fara mengeluarkan suaranya.
"Kak, kata bunda disuruh beli gula dulu" ucap Fara yang pura pura serius agar kakaknya percaya.
"Hah? Bener?" Ucap David yang melihat Fara.
Fara mengambil kesempatan itu. Dannn akhirnya ia memdapatkan buku hariannya kembali. "Yuhuuu akhirnya dapat" ucap Fara sambil menjulurkan lidahnya.
"Ish kamu mah, kakak belum baca udah diambil"
"Nggak boleh, ini privasi"
David yang kesal langsung pergi kekamarnya dan menuju kealam mimpinya.
▪▪▪
Satu minggu terlewati begitu saja, Fara sudah terlihat sedikit dekat dengan Raka, waktu itu mereka pernah jalan bareng jadi kesempatan buat Fara mendekatinya.
Dilapangan, Raka sedang bermain basket dengan teman temannya. Keringatnya bercucuran ditubuhnya yang membuat ia terlihat tambah tampan. Fara yang sedang menunggunya dengan membawa sebotol minuman langsung mendekati Raka. "Nih minum dulu" Fara memberikan minumannya ke Raka. "Makasih"
"Nanti ketaman lagi yuk kak" ajak Fara. "Boleh" jawab Raka.
"Oke kayak kemarin ya" Raka mengangguk.
Fara kembali kekelasnya dengan wajah sumringah. Azka yang melihatnya merasa heran. Akhir akhir ini Fara jarang menemui Azka, ia lebih memilih menemui Raka.
"Seneng?" Tanya Azka tiba tiba. "Iya lah! Kenapa? Iri?!" Jawab Fara ketus.
"Lo kenapa sih Ra? Akhir akhir ini lo jarang main sama gue lagi?" Tanya Azka.
Fara menatap wajah Azka. "Lo udah main rahasia-rahasiaan Az, gue tau tanpa lo cerita sama gue! Lo udah jadian kan sama Dewi! Kenapa lo nggak omong dulu gitu sama gue! Hah?!"
"Maafin gue Ra, ini maunya Dewi. Dan ini juga karena lo selalu bareng sama Raka, kita udah nggak kayak dulu lagi. Apa lo ngerasa ini baik baik aja?!" ucap Azka lalu kembali kebangkunya.
Fara tampak berfikir dengan kata kata Azka. Ia merasa perkataan Azka benar. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Raka dari pada dengan sahabatnya.
Saat pulang sekolah, Azka langsung pulang tanpa menyapa Fara yang sedang menunggu bus dihalte depan sekolah.
"Kenapa sekarang gue ngerasa beda ya tanpa Azka disamping gue" Fara mengingat apa yang pernah Fara dan Azka habiskan waktunya untuk sekedar jalan, bermain, bercerita, bercanda.
Hujan begitu deras, Fara belum bisa pulang karena hujan pasti bus tidak ada yang lewat. Ia merasa kedinginan karena seragamnya yang tipis. Tiba tiba jaket mendarat dipundaknya. Fara kaget dan langsung menoleh. "Azka" ucapnya yang melihat Azka didepannya. Ternyata Azka belum pulang. Ia tidak tega harus meninggalkan Fara sendirian. Ia memilih menunggu diperpustakan. Dan disaat hujan turun, Azka hendak turun memastikan kalau Fara sudah pulang namun ternyara Fara sedang kedinginan dihalte sendirian.
"Kamu belum pulang Az?" Tanya Fara.
"Gue diperpus, pas mau pulang lihat lo jadi gue samperin" jawab Azka.
"Emm..maafin gue Az, gue salah nilai lo, ternyata disini gue yang salah bukan lo, maafin gue" ucap Fara yang sudah berkaca kaca.
"Udah gue maafin, lagian kayak gitu bukan masalah kali" ucap Azka. "Iya sih, terus lo kok nggak pulang bareng Dewi?" Tanya Fara.
"Gue udah putus sama dia" jawabnya. "Kok bisa?" Tanya Fara.
"Ya bisa lah, gue nggak bisa aja jauh dari lo" ucap Azka yang tak sadar mengungkapkan perasaannya.
Fara tersenyum senang mendengarnya. Mereka berdua duduk sambil menunggu hujannya sedikit reda. Kini tatapannya menuju jalanan yang sudah sangat basah. Tak dipaksa, matanya tertuju pada laki laki yang sedang berciuman dengan seorang wanita. "Raka? Dewi?" Ucap Fara.
"Ada apa Ra?" Tanya Azka. "Itu bukannya Raka sama Dewi?" Ucap Fara sambil menunjuk kearahnya.
"Oh iya, kenapa mereka melakukan hal sejorok itu didepan umum" ucap Azka.
"Entahlah. Jadi ini alasan lo mutusin Dewi?"
"Ya begitu lah" jawab Azka "Lo masih mengharap cinta dari Raka?" Lanjutnya. "Sebenarnya udah nggak sih, setelah gue tau dari Rani kalau Raka tuh udah punya pacar, dan perasaan gue kedia udah luntur" jawab Fara.
"Ra, gue nggak tau lo suka sama gue nggak, dan gue nggak tau harus gimana lagi nutupin rasa suka ini terhadap lo, lo mau nggak jadi pacar gue? Gue nggak bisa lagi bohong sama perasaan gue ini" ucap Azka serius.
Tatapan mereka saling bertemu. Fara melihat ketulusan dan kesungguhan dimata Azka. Fara semakin yakin kalau Azka memang pantas untuknya. Dan selama ini ia telah menyia nyiakan cinta tulus dari Azka.
"Gimana Ra? Gue nggak mau maksa biar lo mau jadi pacar gue" ucap Azka.
"Tanpa paksaan pun gue nggak bakal nolak kok" ucap Fara. Azka tersenyum lebar lalu memeluk Fara dengan erat. "Makasih Ra" ucapnya dan Fara membalas pelukannya.
"Sekarang gue sadar, orang yang selama ini didekat kita itulah orang yang harus kita perjuangkan. Karena ketulusannya yang membawa kebersamaan dan kebahagiaan kita. Dunia semakin bisa tersenyum dan ini adalah dunia gue yang gue rasakan setelah harapan yang menjadi sia sia tuk dinantikan. Dan sekarang gue orang yang paling bahagia karena mendapatkan kebahagiaan tersendiri" batin Fara.
"Cinta memang perlu ada, kebahagiaan kita akan dilalui bersama, berdua, bersamamu Ra. Terima kasih karenamu aku bisa merasakan arti sebuah kata bahagia" batin Azka.
▪THE END▪