Di sudut ruang kelas yang penuh dengan kebisingan, Aira duduk termenung, matanya terpaku pada papan tulis, meskipun pikirannya jauh dari pelajaran yang sedang diajarkan. Setiap hari, wajahnya selalu terbayang, wajah itu Raka. Siswa pindahan yang baru saja masuk beberapa minggu lalu. Rambutnya yang hitam lebat dan mata coklat gelap itu selalu membuat jantung Aira berdebar kencang setiap kali melihatnya.
Hari itu, seperti biasanya, Raka duduk di bangku depan, di dekat jendela. Aira mengamati setiap gerak-geriknya dari belakang kelas, merasa ada sesuatu yang berbeda setiap kali Raka melirik ke arahnya. Meskipun hanya sekelebat, itu sudah cukup membuat Aira merasa dunia berhenti sejenak.
Pulang sekolah, Aira berjalan keluar kelas dengan langkah pelan. Sebuah suara memanggilnya dari belakang.
"Aira!" suara itu begitu familiar. Aira berbalik dan melihat Raka berjalan menghampirinya. Jantungnya langsung berdegup kencang, tangannya tanpa sadar memegang tali tasnya lebih erat.
"Ada apa, Raka?" tanyanya dengan suara gemetar.
Raka tersenyum, senyum yang selalu membuat Aira merasa canggung namun bahagia. "Aku baru sadar, kamu sering duduk sendirian di kelas. Mau nggak bareng aku pergi ke kantin? Aku nggak tahu banyak teman di sini."
Aira terdiam sejenak, merasa terkejut dan senang sekaligus. "Tentu," jawabnya pelan, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang mendalam. Mereka berjalan bersama menuju kantin sekolah, berdua, dalam keheningan yang nyaman. Aira merasa dunia hanya milik mereka berdua, meskipun mereka belum banyak berbicara.
Beberapa hari berlalu, dan Aira merasa semakin dekat dengan Raka. Mereka mulai berbicara lebih banyak, berbagi cerita tentang kehidupan mereka, hingga Aira merasa dia bisa menjadi dirinya sendiri di dekat Raka. Namun, di balik perasaan senangnya, Aira masih merasa ragu. Apa Raka juga merasakan hal yang sama? Atau, mungkin dia hanya menganggap Aira sebagai teman biasa?
Suatu sore, setelah pulang sekolah, Raka menghampirinya lagi. "Aira, bisa bicara sebentar?" tanyanya dengan tatapan yang serius.
Aira mengangguk, hati mulai berdebar lagi. Mereka duduk di bangku taman sekolah, tempat yang sering mereka kunjungi setelah jam sekolah berakhir.
"Aira, aku ingin bilang sesuatu," ujar Raka dengan suara lembut. "Aku nggak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku merasa ada yang berbeda sejak awal kita bertemu. Kamu membuat aku merasa nyaman dan berada di dekat mu membuat aku bahagia.Aku suka kamu, Aira."
Aira terdiam sejenak, rasa terkejut dan bahagia bercampur. Matanya menatap Raka, mencoba mencari kepastian. "Maksudmu...?" suara Aira hampir tak terdengar.
Raka menggenggam tangannya dengan pelan, senyum kecil di wajahnya. "Aku suka kamu, Aira. Sejak awal aku memandang mu aku mulai menyukai mu."
Jantung Aira seolah berhenti berdetak, dan dunia rasanya berhenti berputar. Cinta pertama yang selama ini dia rasakan hanya dalam mimpi—ternyata nyata di hadapannya. Dengan malu-malu, Aira membalas senyum itu, dan perlahan mengangguk. "Aku juga suka kamu, Raka."
Hari itu, di bawah langit yang mulai gelap, cinta pertama mereka dimulai. Sebuah kisah yang sederhana, namun penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan yang tak akan terlupakan seumur hidup.