Palu hakim berdentang memenuhi ruang. Mula-mula hakim akan mengajukan beberapa pertanyaan konyol untuk dijawab, "Manusia. Pria dan wanita, diantara keduanya; siapa paling unggul?" Semua orang akan menganggap ini tak perlu dipertanyakan kembali一lurus hati semua orang memuntahkan tawa. Terdakwa asing hanya menjawab dengan bergetar, "tak ada yang unggul diantara keduanya." Gelora tawa semakin mencekik kenyataan. Mereka semua melumatkan kebenaran-kebenaran, "Pria lebih unggul-Wanita lebih unggul," Gemuruh racau mencibir terdakwa asing. Palu kembali berdentang. Hakim melempar pertanyaan kembali. Tetapi, kali ini tak begitu jelas, "'tak ada yang unggul' bagaimana itu?" Terdakwa asing merasa heran. Ia merasa bahwa semua orang termasuk hakim, tak benar-benar memiliki gambaran "apa itu unggul?". Tanpa sepatah kata untuk menguraikan pertanyaan. Terdakwa asing hanya kembali melempar tanya kepada hakim, "Tuan hakim! Menurut anda, apakah neraka dan surga benar-benar ada?" Sang hakim merasa terhina atas pertanyaan terdakwa asing itu. Hakim mendobrak meja dan menunjuk kearah terdakwa asing, "tentu saja ada! Bagaimana bisa manusia hidup tanpa adanya surga dan neraka! Pertanyaan itu sungguh menyesatkan. Kau akan dihukum mati!" Terdakwa asing tak mengerti mengapa hakim begitu marah. Hakim kembali tenang. Terdakwa asing, kemudian, ia berbicara tanpa diminta, "jadi, siapa diantara keduanya paling unggul; antara surga dan neraka, Tuan hakim?" Hakim menjawab dengan air muka yang kerut, "Surga! Begitu indah, menjamu para pembawa kebaikan, neraka tak dapat mengungguli keagungan dari surga." Terdakwa asing berpikir, bahwa setidaknya, sang Hakim mengerti gambaran akan Surga dan Neraka. Namun, ia merasa bahwa "unggul" Masih tak dapat dimengerti oleh sang Hakim. Terdakwa asing hanya menyiratkan didalam benaknya: Itu tak dapat dibandingkan一inilah keterbatasan manusia. Penghakiman ditetapkan. Terdakwa asing menerima hukuman mati!
Di muka masyarakat. Semua orang yang datang menyaksikan hukuman mati dari sang terdakwa asing; mereka mencibir jiwa yang dianggap kotor itu dengan sebutan "tak bermoral". Racau itu menggeluti cuaca mendung yang memayungi semua orang. Terdakwa asing tiba di depan guillotine. Sebelum ia benar dipancung. Ia diberikan hak istimewa untuk meninggalkan pesan. Sang hakim menyaksikan, semua orang menyaksikan, orang idiot menyaksikan, malaikat menyaksikan, surga-neraka menyaksikan, Tuhan menyaksikan. Kemegahan jiwa terdakwa asing yang hendak ber deklarasi menyilaukan dirinya sendiri. Kemudian ia membuka katup bibirnya: "Manusia adalah Tuhan; sekaligus一Surga dan Neraka bagi sesamanya dan diri sendiri. Tak ada yang unggul. Inilah kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Bagaimana mungkin manusia hidup tanpa terbatas?" Ia dipancung, mati!
Selesai.