Di pojok kelas 11 IPA 2, Lila duduk dengan tenang sambil mencoret-coret buku catatannya. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Rafa, cowok yang duduk beberapa baris di depan. Setiap melihat Rafa tersenyum atau berbicara dengan teman-temannya, hati Lila bergetar pelan. Ada sesuatu dari Rafa yang membuatnya beda. Bukan karena dia tampan, bukan juga karena dia terkenal, tapi karena caranya memperlakukan orang di sekitarnya dengan tulus.
Rafa adalah tipe cowok yang suka membantu tanpa perlu diminta. Kalau ada teman yang kesusahan di pelajaran, Rafa pasti jadi orang pertama yang maju. Kalau ada tugas kelompok, dia nggak pernah pilih-pilih teman. Dan setiap kali dia mengucapkan terima kasih dengan senyumnya yang khas, dunia Lila seperti berhenti sejenak.
Tapi Lila tahu batasnya. Dia hanya bisa mengagumi Rafa dari jauh. Sebab, dia merasa dirinya biasa saja. Rambutnya sering diikat asal-asalan, kacamatanya kadang melorot, dan dia nggak terlalu pintar dalam pelajaran. "Dia kayak bintang di langit, gua mah kayak debu di tanah," gumam Lila dalam hati.
Namun, ada satu momen yang selalu dia ingat. Saat upacara bendera minggu lalu, Lila hampir pingsan karena panas terik. Ketika dia merasa tubuhnya limbung, tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya. "Lo nggak apa-apa?" suara Rafa terdengar jelas di telinganya. Lila hanya bisa mengangguk pelan, meski rasanya kepalanya berputar-putar.
Rafa membawanya ke UKS, dan sepanjang jalan dia memastikan Lila tetap sadar. "Minum air dulu, ya," katanya sambil menyodorkan botol minumannya. Detik itu, Lila merasa seperti orang paling beruntung di dunia. Tapi setelah itu, semuanya kembali seperti biasa. Rafa tetap menjadi Rafa, dan Lila kembali menjadi gadis yang hanya berani memandang dari kejauhan.
Waktu berjalan cepat, dan tiba-tiba kabar mengejutkan datang: Rafa akan pindah sekolah karena ayahnya dipindah tugas ke luar kota. Hati Lila seperti dihantam ribuan jarum tajam. Dia tahu ini bukan urusannya, tapi kehilangan Rafa berarti kehilangan sumber semangatnya setiap hari.
Di malam sebelum Rafa pindah, Lila memutuskan untuk menulis surat. Tangannya gemetar saat menuliskan kalimat demi kalimat. Surat itu sederhana, hanya ucapan terima kasih karena Rafa telah membuat harinya lebih berwarna, meskipun mungkin Rafa tidak pernah menyadarinya.
Besoknya, di akhir pelajaran, Lila pura-pura membereskan buku lebih lama. Dia menunggu semua orang keluar, termasuk Rafa. Saat kelas kosong, dia menyelipkan surat itu ke dalam laci meja Rafa. "Semoga dia baca," gumam Lila pelan sebelum pergi dengan langkah berat.
Hari-hari setelah Rafa pergi terasa sepi. Lila kembali menjalani rutinitasnya, tapi ada rasa hampa yang tidak bisa hilang. Namun, suatu hari, Lila menemukan sesuatu di dalam laci mejanya. Sebuah kertas kecil, bertuliskan tangan yang ia kenali betul.
"Terima kasih untuk suratnya. Kadang, hal kecil seperti ini bisa berarti besar. Semoga kamu juga selalu bahagia. –R"
Lila tersenyum kecil. Meski tidak ada yang berubah, setidaknya dia tahu bahwa Rafa sempat membaca suratnya. Dan baginya, itu lebih dari cukup. Karena bagi Lila, mengagumi Rafa memang tidak perlu lebih dari sekadar rasa kagum itu sendiri.
---
*TAMAT*