Di sebuah desa kecil yang diselimuti aroma basah tanah, hujan sore itu turun perlahan seperti melodi yang mengalun tenang. Angin membawa dingin yang merayap di sela-sela dedaunan, menyentuh kulit dengan lembut. Di teras rumah tua berwarna cokelat muda, seorang gadis bernama Lila duduk termenung. Pandangannya tertuju ke kebun belakang, di mana pohon mangga berdiri tegak, daun-daunnya berkilauan karena air hujan.
Lila baru saja kembali ke desa setelah lima tahun bekerja di kota. Tempat ini, yang dulu terasa begitu kecil dan membosankan, kini memeluknya dengan kerinduan yang tak terlukiskan. Ia memandangi hujan, mengenang masa kecilnya ketika ia dan Awan—teman masa kecilnya—berlari di bawah rintik hujan, tertawa tanpa beban.
Namun, senyumnya perlahan memudar saat pikirannya kembali pada janji terakhir mereka.
“Kalau aku kembali, aku mau lihat pohon mangga ini masih ada,” ucap Awan saat mereka terakhir bertemu. Waktu itu, Awan harus pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah.
Hingga kini, tak ada kabar darinya. Lila sering bertanya-tanya, apakah Awan masih mengingat janji itu? Ataukah semuanya sudah terkubur bersama waktu?
Saat hujan mulai reda, sebuah siluet muncul di bawah gerimis. Seorang pria dengan payung biru berjalan mendekat, langkahnya perlahan, namun penuh keyakinan. Lila berdiri, mencoba mengenali wajah itu. Hatinya berdebar kencang.
Pria itu berhenti tepat di depan pagar kayu yang mulai lapuk. Ia menurunkan payungnya, membiarkan sisa gerimis menyentuh wajahnya.
"Lila," suaranya rendah, tapi penuh kehangatan.
Lila membeku. Itu adalah suara yang begitu ia rindukan.
“Awan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Awan tersenyum kecil. "Aku pulang, dan pohon mangganya masih ada."
Air mata Lila jatuh bersama sisa hujan yang menetes dari atap. Di balik kabut dan dingin sore itu, kenangan lama yang mereka tanam kembali mekar, seperti pohon mangga yang tetap berdiri kokoh, menyimpan semua cerita yang tak pernah pudar.
Di bawah langit yang perlahan memerah, mereka saling menatap tanpa kata. Hujan, senja, dan pohon mangga menjadi saksi bisu pertemuan yang selama ini hanya mereka bayangkan.
TAMAT