_Kenapa harus malam berangkatnya ya kira-kira_
Sebuah pesan terkirim ke sebuah grup chat bernamakan HATAYUN, entah apa alasan dibalik pemberian nama itu.
Ponsel langsung dimasukkan kedalam saku hoodie saat sadar bahwa aku sudah sampai di sekolah.
"Udah ya, bibik pergi dulu. Hati-hati di sana" ucap bik Rina berpesan.
Gadis berambut hitam sebahu itu mengangguk. Nara, siswi kelas 10e yang sebentar lagi akan naik ke kelas 11. Aku berjalan sembari melompat kecil menuju area sekolah. Sesaat aku tersadar bahwa ini sudah hampir telat, aku pun berlari menuju ruang kelas yang sudah disebutkan di grup sebagai ruang tunggu.
Di ruangan itu, tas semua murid di cek oleh panitia. Setelah memastikan bahwa isi tas tidak ada benda terlarang, mulailah dibagikan 1 Roti dan sebotol air per-anak.
Panitia juga mengadakan permainan selama studi tour. Permainan ini disebut 'Secret friend' yang dimana mengharuskan kita untuk berusaha menjadi teman dari nama yang tertulis di kertas kecil yang kita ambil. Dan kita tidak boleh tertangkap basah oleh siapapun jika seseorang itu adalah secret friend kita.
Para murid kini mulai memasuki bis yang sudah ditentukan sesuai dengan kesepakatan kelas masing-masing. Entah sekompak apa kelasku ini sehingga berbeda dengan kelas lainnya. Saat kelas lain diharuskan 2 kelas digabung dalam 1 bis, hanya kelasku saja yang mendapat bis untuk 1 kelas. Mungkin bis yang kelasku dapat tidak terlalu besar seperti bis kelas lain, tetapi bisa dikatakan cukup untuk 28 murid dan 2 guru panitia.
Terlihat meskipun aku sudah duduk di kursinya, aku tetap terlihat tidak tenang seperti orang yang memiliki banyak beban fikiran. Temanku yang bernama Gina, yang kini menjadi pasanganku di bis pun mulai bertanya ada apa dengan diriku. Yang ternyata aku hanya bingung harus apa untuk dekat dengan secret friend yang kudapat.
"Coba aja dulu, nanti pasti semua orang bakal mencar. Dan kemungkinan mereka bakal dapat teman lawan jenis, jadi kamu bisa bebas tanpa harus takut diledekin sama temannya" jelas Gina.
Aku berfikir, mengapa harus teman lawan jenis? Apakah ini disengaja atau hanya iseng? Aku juga bingung, haruskah tugas laporan milikku ini kumasukkan juga foto bersama dengan secret friendku? Sungguh, sekarang aku tengah frustasi dengan isi otakku sendiri. Bahkan disaat teman-teman yang lain sudah tertidur, aku masih sibuk mengotak-atik ponsel yang hanya ku gunakan untuk melihat media sosial.
---
Jam 5 pagi, kini kami sudah sampai di tujuan pertama yaitu pantai Parangtritis. Saat pintu bis dibuka, segerombolan remaja yang memakai baju olahraga terlihat memenuhi tempat parkir. Disana kami diharuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum bermain di pantai.
Disaat yang lain sudah menuju pantai, aku justru masih duduk melamun di dekat parkiran motor. Dan tak diduga, diriku justru malah di sangka tukang parkir hanya karena Hoodie yang saat ini ku pakai, namun tetap ku terima untuk menambah uang kecil.
Dengan tak diduga sama sekali, seseorang yang tak ingin ku temui justru malah menghampiriku. Mengapa tiba-tiba sekali? Biasanya ia tak pernah menganggapku ada, apa jangan-jangan dia mendapatkan namaku? Pikirku.
"Hei, masih di sini? Kenapa ga ikut sama temanmu?" Tanya lelaki itu.
Dia bernama Rendy, teman sekelasku. Meski begitu kami tidak pernah dekat sekalipun. Mengobrol saja bisa dihitung dengan jari. Ketika ia meminjam Tipe-X dan saat aku diminta petugas perpustakaan untuk membagikan tabungan.
"Ini juga mau kesana" balasku dengan ketus.
"Mau bareng?" Rendy menawarkan.
Aku hanya mengangguk dan ikut bersamanya, karena tak terpikirkan apapun di benakku untuk menjawab tawarannya dengan kalimat. Antara takut salah bicara karena gugup dan takut jika hal yang tak kuinginkan terjadi.
Di Parangtritis, aku bersama dengan Rendy dan Gina bermain di bibir pantai. Niat hati ingin ku beli jajanan yang ada disana, tapi entah mengapa aku tak berani. Padahal aku tak harus meminta izin padanya untuk membeli apapun yang kuinginkan. Entahlah...
Disana kami saling memotret satu sama lain, dan juga foto bersama. Foto itu akan kami masukkan dilaporan. Entah itu aku saja atau mereka juga akan melakukan itu, akupun tak tau.
Begitu juga saat di tujuan kedua, Borobudur. Kami berfoto dan berkeliling hanya bertiga, temanku yang lain mengatakan bahwa saat ditempat wisata kami tidak boleh ada yang bertiga, karena salah satunya akan hilang. Entah darimana ia mendengar kalimat seperti itu.
Namun ternyata, hal itu benar terjadi. Gina yang sedari tadi di belakangku ternyata sudah tak ada disana. Aku dan Rendy panik, apakah ia tertinggal saat membeli minuman? Atau saat mengitari Borobudur?
Terlalu lelah kami berjalan, akhirnya aku dan Rendy memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah warung bakso. Tak ada niatan untuk membeli, namun karena tergiur akan aromanya, akhirnya kami goyah dan memesan 2 porsi bakso. Disaat bakso tengah kami santap, Gina yang tadi hilang tiba-tiba sudah ada di warung sebelah.
Setelah makan, kamipun kembali berkeliling untuk membeli oleh-oleh untuk orang rumah. Tentu saja kami kembali bertiga, dan tetap tak peduli dengan apa yang dikatakan temen sekelas.
---
Kini kami berangkat ke lokasi terakhir, yaitu Malioboro. Di sana temanku ternyata pergi begitu saja tanpa siapapun bersamanya. Aku hendak memanggilnya, tetapi tanganku sudah terlebih dulu ditarik Rendy. Mau tak mau, aku tetap mengikutinya.
Disaat hendak menyebrang aku tertinggal, karena langkah Rendy yang sangat besar membuatku tak bisa mengimbangi langkahny. Aku terus saja menunggu berharap lampu tanda menyebrang segera berganti menjadi hijau. Sampai Rendy kembali menghampiriku.
"Tombol ini ditekan dulu bodoh" jelas Rendy sambil menjitak jidatku.
---
Sore itu, dia mengajakku berkeliling dan mencari baju yang sekiranya bagus. Sebuah baju menarik perhatiannya yang membuatku harus ikut berhenti karena tanganku yang sedari tadi di genggamnya. Baju couple, hm...
"Hai adek manis, mampir yuk. Lihat-lihat dulu juga boleh, siapa tau nanti kepincut hehe." Tawar mba-mba penjaga toko.
Rendy tersenyum dan kemudian menarikku untuk mengikutinya. Jelas, aku tetap mengikuti kemana dia mau pergi.
"Dilihat-lihat kalian cocok banget deh jadi pasangan" ujar mba-mba tersebut secara spontan.
Rendy tersenyum dan berkata "engga mba, dia ga mungkin mau sama saya."
Apa maksud perkataannya itu? Yang benar saja? Padahal sudah jelas-jelas aku mau, mengapa kau bisa berfikir begitu? Manusia seindah kamu, bahkan jika dibandingkan denganku, akan lebih bersinar dirimu.
Setelah mendapatkan apa yang Rendy mau, kami langsung kembali ke bis dan istirahat sejenak. Pintu bis kami beri celah sedikit supaya lebih mudah untuk dibuka saat pak supir sedang tidak ada.
Tiba-tiba saja temanku berteriak dari luar bis, "Nara tolong letakkan ini di kursiku."
Aku pun menerimanya dan melakukan apa yang dimintanya. Namun tiba-tiba, pintu bis ditutup dengan keras, membuat aku dan Rendy terkunci di dalam. Sebenarnya bukan terkunci, hanya saja aku dan Rendy saja yang tidak tau cara membuka nya dari dalam.
Sambil menunggu yang lain kembali, kami pun menonton bersama. Kalau boleh jujur, aku tak paham dengan apa yang ditonton Rendy. Biasanya aku lebih mudah paham saat menonton film, tapi kali ini tidak. Aku justru hanya melongo sepanjang menonton film.
Di sela-sela menonton, ku beranikan diriku untuk menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Rasanya mulut ini tak bisa ku buka, namun tetap ku paksa.
"Ren, kamu... Ada orang yang kamu suka ga?" Tanyaku ragu-ragu.
"Ada" jawab Rendy singkat.
"Kalau boleh tau... Siapa ya? Dia satu sekolah sama kita?" Tanyaku lagi masih penasaran.
"Iya" jawabannya sambil tetap fokus ke film.
Aku terdiam mendengar jawaban Rendy, tapi aku harus memastikan satu hal.
"Kenapa kamu ga sama dia sekarang?"-Nara.
"Kami ga sekelas, memangnya kenapa sih daritadi nanya terus?" Tanya Rendy mulai risih.
Aku tak menjawab pertanyaan Rendy, bukan karena jawaban dan pertanyaan yang ia lontarkan, melainkan karena teman-teman yang lain sudah datang. Dan aku langsung kembali ke kursi, sebelum yang lain sadar.
Sesudah semua kembali, kini studi tour telah selesai. Untuk mengisi keheningan diperjalanan, guru dan murid yang lain menyetel lagu dan bernyanyi bersama. Hanya aku yang tidak ikut bernyanyi, entahlah suasana hatiku sedang tidak enak. Aku hanya mengeluarkan buku yang selalu kubawa, dan menggambar disitu.
Sesampainya di sekolah, semuanya turun dengan keadaan ngantuk karena saat ini sudah jam 2 malam. Aku menelepon pamanku untuk menjemputku. Sambil menunggu jemputan, aku duduk di depan toko yang tutup. Samar-samar aku melihat Rendy di seberang toko tengah bersama perempuan yang ku yakini adalah teman sekelas saudaraku.
"Mau aku antar pulang?" Tawar perempuan itu pada Rendy.
Rendy tersenyum, dan hal yang tak kuduga terjadi. Tiba-tiba saja Rendy mencium perempuan itu begitu saja. Dan tampaknya perempuan itu tidak menolak sedikit pun.
"A-apa itu tadi?" Tanyaku pada diri sendiri sambil terbata.
"Kamu cantik banget hari ini"
Aku terdiam, ku rasakan seluruh wajahku memanas melihat tingkah Rendy. Ingin rasanya aku menghilang dari sini segera. Aku memohon dalam hati, semoga saja pamanku lebih cepat datang. Ingin rasanya aku melupakan manusia di hadapanku ini, namun semesta selalu saja punya cara untuk membuatku mengingatnya.
Tak selang lama, sorot cahaya motor mengarah ke arah tempatku duduk. Benar saja, itu pamanku. Setelah aku meninggalkan tempat itu, Rendy terdiam sejenak kemudian membuka isi kertas yang ia temukan di saku tas miliknya. Melihat isi kertas itu, perempuan di samping Rendy pun mengeluarkan korek dari saku celana dan membakarnya.
"Harusnya aku tau dari awal siapa orang yang kamu maksud ra" gumam Gina.
Akibat geram dengan apa yang telah ia lihat di depan matanya sendiri, Gina mengambil batu di dekatnya dan melemparkannya ke arah Rendy. Dan tepat sasaran, batu itu mengenai tepat di kepala Rendy. Membuat kepala terluka dan mengeluarkan darah.
"Dia memang selalu brengsek dari dulu"-Gina.