Malam itu, kabut tipis menyelimuti gang-gang sempit di perkampungan kumuh. Udara terasa dingin dan sunyi, hanya sesekali dipecahkan oleh bunyi langkah kaki tergesa dan teriakan samar. Dari balik pintu rumah kayu yang renggang, seorang anak laki-laki mengintip dengan napas tertahan. Di depannya, sebuah keributan terjadi. Dua sosok laki-laki tampak bersitegang, bayangan mereka tumpang tindih dengan temaram lampu jalan yang berkedip.
"Aku bilang, jangan dekat-dekat!" salah satu dari mereka berteriak, tetapi sebelum anak itu sempat memahami apa yang terjadi, bunyi pukulan keras terdengar, diikuti jeritan yang tertahan. Pria yang semula berdiri dengan gagah kini ambruk, tangannya memegangi perut yang mulai mengucurkan darah. Pisau kecil di tangan lawannya berkilau sesaat sebelum ia berlari, meninggalkan tubuh yang perlahan tergeletak di genangan air keruh.
Namun, yang paling membuat anak itu terpaku bukanlah adegan mengerikan di depan matanya, melainkan sosok berseragam polisi yang berdiri di ujung gang. Bukannya menghentikan peristiwa itu, polisi tersebut hanya menatap dingin, mengamati sebentar, lalu berbalik pergi. Anak itu ingin berteriak, tetapi ketakutannya menahan suara di tenggorokan. Dia hanya bisa menutup pintu perlahan, menyisakan bayangan mayat dan langkah acuh polisi dalam pikirannya.
Ketika pagi tiba, suasana di gang itu berubah total. Matahari bersinar terang, menyapu sisa-sisa kabut malam. Di ujung gang, tubuh seorang pria ditemukan tergeletak. Luka tusukan di perutnya mengering, meninggalkan noda hitam di kausnya yang sudah lusuh. Orang-orang mulai berdatangan, berbisik satu sama lain, sementara suara sirine polisi terdengar mendekat.
Anak itu, yang berdiri di kejauhan, hanya bisa menatap penuh rasa bingung dan kecewa. Mengapa polisi baru datang sekarang? Bukankah mereka ada di sana tadi malam? Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Ketidakberdayaannya menyaksikan malam itu, ditambah dengan sikap acuh polisi yang ia lihat, menanamkan rasa tidak percaya yang perlahan tumbuh menjadi ketidakpedulian terhadap otoritas.
Hari itu menjadi awal baginya untuk menyadari bahwa dunia tidak sehitam putih yang selama ini ia bayangkan, bahwa terkadang, keadilan datang terlambat—atau bahkan tidak datang sama sekali.