Persiapan.
Pagi-pagi sudah berangkat. Pada tidak bisa tidur. Pada tidur di sekolah yang takutnya ketinggalan, atau merepotkan orang, makanya tidur di situ. Nyatanya sulit tidur. Di rumah juga demikian. Terlanjur sudah semenjak sore tidurnya. Maka kala malam, tidak bisa tidur juga.
Dan jam satu lebih sudah pada main HP. Ramai di WApada mengobrol, jadi semakin pusing. Yang intinya supaya segera berangkat, dan jangan sampai ketinggalan. Kalau Cuma tanda kenal yang tertinggal sih tak masalah, ini kalau orangnya yang ketinggalan kan repot. Mesti nunggu. Atau mesti membuat yang lain juga kebingungan, saling lempar salah. Kan bahaya juga.
Terus mandi. yang menggodok air pakai kompor. Asal hangat, terus di pakai. Jadi tidak menggigil, yang nanti justru akan jadi penyakit. Soalnya hal demikian sudah menguras pikiran dan tenaga. Apalagi pagi buta begitu rentan rasa dingin. Bisa-bisa bersin, Dimana malahan mengagetkan orang budge. Itu yang membuat jantung berdegub kencang.
Dengan makan roti dan minum kopi sedikit. Maklum belum masak makanan, baik padi, maupun sayur hijau daun. Pada belum siap, masih bermimpi. Jadi hanya itu, roti. Yang penting perut tidak kosong. Meski kurang tidur asal terisi.
Barulah pergi. Dengan motor yang sedikit gembes. Rasanya kurang nyaman, tak bisa menggelinding cepat. Dan gas agak berat. Tapi mengapa, Cuma sebentar, jarak yang tak begitu Panjang.
Di jalan tentu saja sangat sunyi. Karena masih pada lelap. Juga hujan. Sehabis. Itulah makanya jalanan juga basah. Namun tidak licin.
Tepat di rel, kereta melintas. Untung saja melihat ada lampau dengan nyala hijau, tanda kereta di ijinkan lewat, jadi belum sempat melintas. Di situlah nyala terang dari arah timur. Dan berhenti sekejap, menantinya pergi. Untungnya melihat.
Sampai di Lokasi pertemuan masih sunyi. Di situ belum ada orang. Akhirnya menunggu. Melihat kesana kemari. Apa telat. Apa tak kebagian. Namun akhirnya setelah melihat WA memang belum pada datang. Memang.
Satu per satu datang. Ada yang di antar anak. Ada yang di antar suami. Bahkan ada yang cuma sendirian. Yang jelas yang bawa motor, pada memasukkannya ke dalam rumah. Biar sedikit aman. Karena mau di tinggal seharian.
Sudah kumpul semua, kita berangkat. Tepat jam tiga. Supaya sampai Jogja pagi-pagi.
Jam delapan sudah di pom bensin. Cuma beli nasi goreng. Ada yang beli soto. Ada bakso. Juga ada yang nggak ada. Pokoknya kenyang
Namun kala ujian. Malahan bunyi. Ini perut. Maklum tak mengira. Bakalan kelaparan. Pinginnya sih ngirit. Jadi di warung, Hanya beli kopi es.
Ke mall sebentar.
Lalu menunggu dengan orang-orang yang hendak ujian juga di sesi 3.
Jadi suruh nembak barcode dulu. Tapi HP di mobil. Makanya berlarian ke sana. Dan baru sadar jika sudah absen. Dan cek data. Padahal jalan saja sulit. Karena tak boleh pakai sabuk yang ada logamnya. Tentunya sabuk yang lain juga tak di ijinkan. Sebab akan membuat alarm bunyi. Serta di takutkan ada ketidak jujuran dari peserta. Untuk itu segala sabuk di larang. Padahal celana kedodoran, dan bisa saja melorot saat tak sadar. Jadi kalau jalan mesti di pegang. Bahkan kalau terlalu longgar bakalan memakai tali plastic untuk sekedar menjaga supaya tidak melorot. Maklumlah, seiring perkembangan jaman, maka yangs emula gendut, bisa saja sedikit menyusut. Akibat beban kerja yang berlebih, atau memang ada sedikit penyakit yang Tengah di derita. Sehingga lambat laun peruit mengecil serta celana membesar, dan bisa saja melorot. Meskipun sebenarnya sudah di tahan oleh tulang pinggul. Tetap saja tak nyaman, takutnya benar-benar melorot.
Tiap orang yang duduk paling depan akan di panggil. Lalu yang duduk di deret belakang terus ke depan. Namun pada bingung. Dan segera memburu ke depan.
Maklum yang berdiri pada langsung ke petugas yang ngecek data nama dengan urut di kertas nama.
Setelah mengantri, dan bisa masuk, langsung naik escalator. Di sini juga antri. Namun tidak berjubel.
Yang hamil di dulukan. Atau yang sakit.
Setelah naik escalator, barulah kita di suruh menyegel barang milik kita.
Yang tak membawa langsung ke pemeriksaan. Ada yang Cuma mengantongi recehan, juga ketahuan. Karena sensor berbunyi. Memberi tanda. Padahal lupa kalau kembaliannya logam. Terpaksa menitipkan uang it uke tas rekannya. Itulah sensitifnya sensor itu. Makanya sabuk dan peralatan yang dari logam sebaiknya di tinggal. Dari pada tidak lolos sensor. Film yang tidak lulus juga tak boleh tayang. Apalagi ini yang jelas-jelas mau ujian, tentu saja di larang untuk membunyikan apa yang di sebut alarm itu.
Dan yang lolos sensor, terus ke pemeriksaan lanjutan. Dua orang yang meraba-raba tubuh. Tentang saku dan pakaian.
Barulah masuk ke ruang tunggu. Di arahkan sama petugasnya yang ramah-ramah.
Di dalam Cuma mengobrol dengan sesama peserta. Soalnya tidak pegang HP, jadi dari pada bengong mending ngobrol dengan sesame. Walau tak kenal, akhirnya bisa jadi kenal.
Terus di arahkan ke ruang ujian. Satu per satu menuju ke ruang uji. Yang sisi kanan dulu. Padahal kebanyakan baru masuk. Namun mereka duluan. Baru yang paling kiri. Sehingga antrian juga lancer. Sebab memang sangat banyak. Lebih dari ratusan. Barulah kelompok di deret kita paling akhir.
Di situ masih di tanya-tanya. Ada nama. Terus ada jurusan. Baru boleh masuk. Di dalam tentu saja sudah penuh. Kita yang terakhir soalnya. Di dalam hanya laptop. Dan bukan jenis PC.
Meskipun begitu semua bagus. Jadi mengerjakannya lancar. Walau saat mengerjakan sedikit sulit. Pakai kacamata, nyatanya jernih dan terang. Namun tak bisa lama. Mata mudah berair. Hingga di lepas. Dan kondisi buram. Itulah makanya silih berganti antara pakai dan enggak.
Berikutnya, setelah peserta kumpul, dan penuh, terus mulai pengarahan singkat.
Setelah masuk jangan memegang mouse. Padahal sudah di pegang dan di utak utik. Walau belum masuk kolom. Nyatanya sudah bergerak kb nya.
Terus mulai mengisi, nomor NIK. Lalu nomor peserta. Nomor kode yang di dapat di sensor tadi. Barulah nomor sesi yang keluar saat itu juga. Jadi masing-masing sesi, akan berlainan kode nya.
Nah setelahnya baru masuk ke identifikasi, yang mesti melepas kaca mata duluan. Lalu di foto. Tiga kali baru berhasil. Pertama gagal. Kedua juga. Pada ketiganya, barulah berhasil, setelah muka di majukan dan sedikit jelas.
Langsung keluar soal yang bikin pusing. Atau sebenarnya kita yang pusing. Bukan karena soal, tapi tak tahu menjawabnya. Mana soalnya sulit-sulit lagi. Yang enggak sulit paling, tentang angin : badai sama dengan titik-titik. Terus tanyakan sama atasan, itu yang banyak. Mana tak bisa nyontek lagi. Paling lihat ke depan, di sana hanya tampak gambar berapa sudah di jawab, dengan melihat kotak yang hijau. Kalau jawaban sama sekali tak Nampak. Juga karena soalnya Panjang-panjang, jadi lebih mending buat baca saja daripada untuk melihat yang sulit itu.
Dari komentator terdengar alunan suara
“Ya, pertandingan mulai bergulir. Nomor tiga satu sudah mendapat poin lima, yang nomor tiga ratus malahan belum memencet sekalipun.”
Begitulah, kita takt ahu model beginian. Biasanya sih hanya pakai pensil 3B untuk menyilang lembar jawaban. Kali ini tidak. Langsung keluar hasil, dan nama terus jalan, seperti lagi menunggu bayar pajak di kantor itu.
“Kembali ke jalannya pertandingan. Ya sayang sekali di tikungan di salip sama nomor di bawahnya. Sehingga posisi puncak kali ini sudah bergeser ke nomor buntutan. Dan nomor 28 lagi sibuk. Mencari-cari soal yang mudah. Makanya di soal teknis yang lebih duluan, namun pada sosio sudah terdapat poin. Ini berarti orangnya main acak dalam mengerjakan. Dan itu belum seberapa membuat panik, tidak seperti yang pojok itu, malahan kebingungan. Hihihi…”
Begitulah yang membuat panik. Dengan tak menyadari kalau skor terus merangkak serta membuat jadi terdeteksi langsung. Khususnya yang melihat di rumah, baik laptop maupun HP. Kalau HP terlalu kecil, jadi melihatnya mesti di berdiri, atau secara landscape.
Dengan siaran langsung begitu, maka tak bisa menutupi seberapa hasil, maupun bagaimana mengerjakannya. Misalkan menjawab nilai 400 nyatanya Cuma tiga ratus. Karena tak seperti dulu, yang asal jawab, tapi tak bisa menyembunyikan diri. Atau nilai bergerak cepat, karena memang pada benar jawabannya. Atau pergerakan skor pelan, namun sudah mengisi hamper selesai. Karena kebingungan menjawab, jadi asal pencet dan itu tak betul. Makanya skor tetap tak bergerak, alias merambat jalan siput. Sudah pelan dan khawatir kalau rumahnya di ambil orang.
“Nah ini baru seru, terjadi kejar mengejar poin. Yang semula menduduki posisi satu kini bergeser. Terjadi salib-menyalib antara nomor itu dengan nomor di bawahnya. Jadi posisi belum stabil. Dan…. Ah sayang sekali saudara saudara, Kembali di susul. Rupanya dia memencet jawaban yang benar. Dan langsung menambah epat poin secara beruntun. Dan itu membuat dia bertengger di posisi kemuncak klasemen sementara. Tapi jangan khawatir, masih ada waktu, jadi kita tunggu kelanjutannya.”
Barulah panik setelah melihat sudah pada hijau semua, sementara kita masih banyak. Makanya kurang lima menit, langsung di tutup saja. Dan melihat hasilnya. Lumayan dapat 481, padahal yang lain dapatnya lima ratus lebih semua. Nggak papa lah walau kecil, yang jelas sudah berusaha. Entah nanti hasilnya bagaimana.
Sehabis itu keluar. Mana hujan lagi. Dan teras itu bocor. Sehingga rintik hujan yang besar-besar itu terus menetes jidat sampai bunyi teplok gitu.
Kita yang mestinya mau jalan-jalan supaya pikiran sedikit reda dan tidak tegang, jadi tidak jadi.
Hanya ke rumah makan, yang jarak tempuhnya sampai satu jam. Soalnya hujan juga. Dan sedikit macet.
Langsung makan, supaya bisa melalaikan saat tadi mengerjakan saja sampai bunyi berkeruyuk begitu. Lumayan, yang penting bisa kenyang dan se porsinya sampai ratusan ribu, kan yang penting bisa mengembalikan tenaga yang terkuras di Lokasi penuh pikiran tadi.
Barulah beli oleh-oleh buat di rumah nanti.
Lalu perjalanan pulang hingga istirahat sekali saja.
Dan sampai rumah masih malam.
Motor sedikit slip saat hendak naik ke jalan Dimana dari rumah menuju ke jalan itu menanjak. Jadi oleng. Dan rubuh ke kanan. Hingga di cagak pakai kaki kanan. Dan belakang teman ada yang menahan. Kalau tidak, meluncur ke bawah. Bayangin. Sudah rubuh meluncur lagi. Kan bahaya.
E… e… aduh…