Aku tidak ingat kapan terakhir kali rumah ini terasa seperti rumah. Dindingnya masih berdiri kokoh, perabotannya tetap ada di tempatnya, tetapi kehangatan yang dulu pernah ada menghilang entah ke mana.
Setiap malam, aku mendengar suara pintu dibanting, teriakan menggema, dan isak tangis yang berusaha disembunyikan. Ayah dan Ibu sudah lama tidak bicara seperti dulu. Mereka saling menyalahkan atas hal-hal yang tidak pernah kumengerti. Dan aku? Aku hanya bisa duduk di sudut kamar, menekan telingaku dengan bantal, berharap semuanya akan berhenti.
Di sekolah, aku berusaha menyembunyikan semuanya. Senyumku palsu, tawaku hampa. Teman-temanku tidak tahu apa yang terjadi di balik dinding rumahku, dan aku tidak pernah ingin mereka tahu. Dunia luar adalah tempatku melarikan diri, tetapi itu hanya sementara. Pada akhirnya, aku harus pulang ke tempat yang terasa semakin dingin.
Suatu hari, Ibu mengemas barang-barangnya. "Maaf, Sayang, ini untuk kebaikan kita semua," katanya sambil memelukku. Aku tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana, diam, melihatnya pergi. Ayah mencoba menjelaskan, tapi aku tidak mendengar apa-apa. Bagiku, semuanya sudah hancur.
Waktu berlalu, dan aku mulai belajar menerima. Aku tahu keluargaku tidak sempurna, tetapi itu adalah bagian dari hidupku. Aku menulis tentang rasa sakitku di buku harian, menuangkan semua perasaan yang tidak pernah bisa kuucapkan.
Hari ini, aku berdiri di depan pintu rumah lama itu. Aku sudah tumbuh dewasa, tetapi kenangan masa kecilku tetap melekat di tempat ini. Aku tersenyum tipis, bukan karena luka itu telah sembuh, tetapi karena aku akhirnya memahami sesuatu: rumah bukanlah tentang dinding atau atap, melainkan tentang orang-orang di dalamnya. Dan meskipun keluargaku terpecah, aku masih memiliki bagian dari mereka di hatiku.