Langit desa Suka Maju selalu kelabu. Bukan karena cuaca, namun karena ketakutan selalu menyelimuti warga desa Suka Maju. Didesa itu di pimpin oleh kepala desa yang bernama pak Burhan Susanto yang memimpin desa dengan kejam dan mementingkan diri sendiri.
Jika dia memutuskan sesuatu, tidak ada yang boleh menentangnya. Jika ada yang menantang, maka keesok harinya mereka akan hilang tanpa jejak atau di bunuh dengan cara yang mengenaskan.
Warga harus menyerahkan hasil panen mereka kepada pak Burhan dengan dalih pajak. Dijanjikan jika taat pajak, warga akan sejahtera dan pembangunan akan merata. Namun nyatanya warga Suka Maju tetap saja miskin. Mereka setiap hari di peras oleh preman-preman pak Burhan. Bayu nampak geram melihat preman-preman pak Burhan memukuli ayahnya karena tidak bisa memberikan hasil panen.
"Tahun ini kami gagal panen pak! Mohon beri kami keringanan." terang Bayu. Samg ibu hanya menangis dalam diam. Bukannya memberikan keringanan, Bayu malah di pukuli oleh anak buah pak Burhan.
"Kalian bohong! Kalian hanya tidak mau membayar pajak kan? Karena itu kalian kompak mengatakan gagal panen, padahal tidak." bentak anak buah pak Burhan. Setelah puas memukuli Bayu dan ayahnya, mereka pun meninggalkan rumah Bayu.
"Sampai kapan kita terus diam seperti ini bu? Kita harus melawan!" ucap Bayu dengan marah. Ibunya mengengam tangan Bayu erat.
"Jangan, Nak. Kita tidak perlu melawan. Kita ini rakyat kecil. Melawan berarti mencari mati."
"Lebih baik mati dalam keadaan membela kebenaran, dari pada tetap hidup dalam kesengsaraan. Jika kita terus begini, kita akan tetap menderita, tak ada yang berubah jika kita tidak melawan!" jawab Bayu tegas.
Malam itu Bayu menyusup kerumah kepala desa. Dia tidak membawa senjata. Dia datang hanya bermodalkan keberanian dan kebencian. Di ruang utama, pak Burhan sedang menikmati makanan hasil panen warga, yang terpaksa memberikannya, walaupun akhirnya mereka tidak makan berhari-hari.
"Pak Burhan" suara Bayu menggema, membuat semua orang terdiam.
Burhan menoleh dengan alis terangkat. "Apa yang kau lakukan di sini, bocah? Apa kau datang untuk menyerahkan nyawamu?" Bayu maju dengan langkah mantap. "Aku datang untuk meminta keadilan!" jawab Bayu menatap Burhan dan anak buahnya dengan tatapan tajam.
"Selama ini kau hidup di atas penderitaan kami. Hasil panen kami, tanah kami, bahkan nyawa kami, kau anggap sebagai milikmu! Adilkah seperti itu? Anda enak-enak makan dari hasi panen kami. Sedangkan kan yang menanamnya sendiri malah kelaparan, bahkan tak makan berhari-hari. Waras kah anda?"
Pak Burhan tertawa keras, tawa yang dingin dan penuh cemooh. "Keadilan? Apa kau lupa siapa aku? aku kepala desa di desa ini. Apa yang aku lakukan untuk kebaikan kalian semua." jawab Burhan dengan nada mengejek.
"Puih..." Bayu meludah di lantai.
"Berlindung di balik kata kebaikan! Kebaikan apa yang pernah kau lakukan kepada kami? Ayahku sekat, ibuku menangis setiap malam dan kalian menyebutnya kebaikan? Semua warga menderita karena ulah keserakaha kalian!"
Burhan mendekati Bayu, wajahnya penuh ancaman. "Kalau kau membangkang, keluargamu akan merasakan lebih dari sekadar penderitaan." senyumnya sinis penuh intimidasi. Namun Bayu tersenyum dingin.
Suara pintu didobrak membuat semua orang menoleh. Warga desa, berbondong-bondong, masuk ke rumah Burhan dengan obor dan senjata seadanya. Wajah mereka dipenuhi kemarahan dan keberanian yang selama ini terpendam.
"Kami sudah cukup menderital" seru seorang lelaki tua dari kerumunan. "Sudah terlalu lama kau memeras kami, Burhan! Sekarang kami akan melawan. Tak peduli kami harus mati ditanganmu, atau kamu yang mati ditangan kami."
Melihat massa yang semakin banyak, Pak Burhan mundur. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan! Tanpa aku, desa ini akan hancur!"
Namun warga tidak lagi peduli. Mereka menyeret Burhan keluar, menghancurkan simbol tirani yang selama ini membelenggu mereka. Bayu berdiri di tengah kerumunan, matanya basah. Malam itu, tirani di Desa Suka Maju runtuh. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Pak Jaya ayahnya Bayu meninggal dua hari kemudian akibat luka-lukanya, dan rumah-rumah warga yang rusak akibat pemberontakan butuh waktu lama untuk dibangun kembali.
Tapi mereka sepakat kehancuran, lebih baik daripada hidup di bawah bayang tirani.
Tirani tidak pernah meninggalkan kebahagiaan. Yang hanya ada penderitaan
Jadi kita harus melawan apapun bentuk tirani.
Jika tirani dibiarkan, maka mereka akan merajalela. Kamu akan tetap menderita. Sedangkan saat kita melawan, maka memiliki harapan dan kesempatan untuk mendapatkan keadilan.
Stop tirani!