“Tak Terbalas”
Senja di pelataran taman kota memancarkan warna jingga yang begitu indah, tapi bagi Naya, itu seperti tirai yang menutup panggung harapannya. Ia menatap Rey dari kejauhan, laki-laki yang selama ini menjadi pusat dunianya.
Rey sedang duduk di bangku taman, tersenyum lepas sambil mengetik di ponselnya. Naya tahu, senyum itu bukan untuknya. Ia mendengar dari teman-temannya bahwa Rey sedang dekat dengan seseorang. Nama itu tak asing, Aline, gadis dengan segala kesempurnaan yang tak dimiliki Naya.
“Rey…” Suara Naya bergetar saat akhirnya memberanikan diri mendekat.
Rey mendongak, senyumnya melebar, tapi bukan senyum yang Naya harapkan. Itu senyum sopan, senyum yang diberikan pada teman, bukan pada seseorang yang istimewa.
“Eh, Naya. Ada apa?” tanyanya ringan.
Naya menggenggam erat buku sketsa di tangannya. Sudah berhari-hari ia menggambar wajah Rey, mencoba menuangkan semua rasa yang ia simpan selama ini. Tapi sekarang, semua keberaniannya seperti menguap.
“Aku… mau ngomong sesuatu,” ucap Naya pelan.
Rey menatapnya, masih dengan senyum ramah itu. “Ngomong aja, aku dengerin.”
Hati Naya berdebar kencang. Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku suka sama kamu, Rey. Dari dulu. Aku tahu ini mungkin tiba-tiba, tapi aku nggak bisa terus menyimpan ini sendiri.”
Keheningan mengisi udara. Senja yang tadinya hangat tiba-tiba terasa dingin. Rey terdiam, matanya melembut, tapi itu bukan tatapan balas rasa.
“Naya…” Rey mengusap tengkuknya, tampak canggung. “Maaf. Aku nggak bisa. Aku nggak punya perasaan yang sama.”
Kalimat itu menghantam Naya seperti gelombang besar. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya remuk. “Oh, iya… aku ngerti kok.”
“Naya, kamu orang yang baik. Aku yakin kamu bakal nemuin orang yang lebih baik dari aku,” ujar Rey, mencoba menghibur.
Naya mengangguk. Tapi dalam hati, ia tahu kalimat itu hanya penghiburan basi. Ia menahan air matanya hingga Rey pergi, meninggalkannya sendirian di bangku taman.
Saat matahari tenggelam sepenuhnya, Naya membuka buku sketsanya. Gambar wajah Rey memenuhi setiap halaman. Dengan tangan gemetar, ia merobek satu demi satu lembaran itu. Angin malam membawa potongan-potongan itu menjauh, seperti mimpi-mimpi yang perlahan hancur.