Rumahmu adalah surgamu?
Terkadang apa yang dikatakan pepatah, ternyata tidak selalu benar.
***
Aku dapat mendengar ayah berteriak pada ibu. Teriakannya menggema ke seluruh bagian rumah. Tidak heran para tetangga selalu menanyakan keadaan hubungan ayah dan ibu.
Aku menutup kedua telingaku rapat-rapat. Haruskah aku mendengar ini setiap hari?. Kenapa mereka tidak pernah memperdulikan perasaanku dan adikku.
Ibu terdengar tidak ingin mengalah. Meski dia berlinang air mata, teriakannya tidak kalah nyaring dari ayah. Terkadang aku juga mendengar bunyi suara barang-barang yang pecah.
Aku sengaja memasangkan headphone ke telinga Yoga. dia adalah adikku yang baru berusia 7 tahun, dan menurutku dia tidak pantas untuk mendengarkan umpatan dua orang dewasa yang sedang naik darah itu.
Perlahan aku menangis dengan terisak. Yoga selalu bertanya kepadaku, kenapa aku terus menangis. Dia juga selalu bertanya, apa yang terjadi pada ayah dan ibu.
Aku selalu mengatakan pada Yoga bahwa mereka hanya sedang melakukan permainan. Sebuah permainan yang hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Aku memeluk Yoga dengan erat sambil berusaha menghapus air mata yang menetes dipipiku.
Dengan wajah polosnya Yoga berusaha menenangkanku.
"Kak Gita, semuanya akan baik-baik saja . . ." ucapnya pelan, masih dengan headphone yang terpasang di kedua telinganya.
Aku sengaja mengurung diri di kamar bersama Yoga. Toh lagi pula jika aku mencoba menghentikan pertengkaran mereka, semuanya malah akan semakin rumit, karena itu pernah terjadi sebelumnya.
Aku yakin setelah mereka lelah bertengkar, ayah akan pergi keluar entah tidur dimana. Sedangkan ibu mengurung diri di kamar, meratapi kesakitan hatinya. Sudah beberapa hari ini, ayah selalu tidur di luar rumah, aku harap dia baik-baik saja.
Paginya, tentu saja aku yang bertugas memasak dan mempersiapkan Yoga untuk pergi ke sekolah. Tidak lupa, aku juga membersihkan pecahan benda-benda yang menjadi korban amarah ayah dan ibu.
Aku mengetuk pintu kamar ibu berkali-kali, namun ibu hanya diam dan tidak menjawab panggilanku.
Perlahan aku menyiapkan telur dadar yang hampir gosong untuk ibu di meja makan.
"Kak Gita?, ibu nggak makan?" ucap Yoga dengan wajah polosnya.
Aku mengigit bibirku dan menundukkan kepala, lalu menghela nafas dengan panjang. Perlahan aku tersenyum padanya, dan mengatakan bahwa ibu sedang kelelahan dan masih ingin tidur.
"Ayah?" tanya Yoga lagi yang sedari tadi mencari sahabat sejati pertamanya itu.
"Ayah mungkin sedang lembur, jadi masih di kantor. . ." balasku lirih, berusaha memalingkan wajah dari Yoga agar dia tidak melihat mataku yang sedang berkaca-kaca.
Kami berdua berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum. Aku mengantar Yoga lebih dulu ke sekolah.
Hari ini hanya Yoga yang akan pergi ke sekolah. Iya! aku akan menemui ayah, dan akan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Biarlah sekali-kali aku membolos sekolah.
***
Aku mencari ayah kemana-mana. Ke kantornya, ke restoran favoritnya dan ke rumah teman akrab ayah. Nihil, aku tidak bisa menemukan ayah.
Aku berdiri mematung menatap taman bermain yang di isi satu keluarga bahagia yang sedang bermain. Mataku kembali berkaca-kaca, karena mengingat kenanganku yang juga pernah seperti itu juga dulu. Namun, sejak beberapa bulan ini semuanya sudah berubah.
Aku menggenggam kedua tanganku erat, perlahan air mata menetes dipipiku. Sebenarnya aku sudah sangat lelah menghadapi semuanya.
Aku selalu bertanya-tanya dalam benakku. Jika ayah dan ibu saling membenci, kenapa dengan beraninya mereka melahirkan aku dan Yoga ke dunia ini. Apa artinya kami untuk mereka.
Dengan langkah yang berat, aku melangkahkan kaki untuk kembali pulang. Setidaknya di rumah aku bisa berbicara pada ibu.
***
Saat aku tiba di depan rumahku, kakiku langsung terhenti. Jantungku serasa di sambar petir, ketika aku melihat ibu bersama seorang lelaki asing. Aku langsung bersembunyi di balik pohon, karena ingin melihat dengan mataku sendiri, bahwa lelaki yang dipeluk mesra oleh ibu bukanlah ayah.
Benar memang, lelaki itu bukan ayah!
Aku langsung merengek dan tidak bisa membendung air mata lagi.
Tes tes tes
Perlahan gerimis juga ikut menemaniku. Aku segera berlari jauh dari rumah masih dengan air mata yang terus membasahi pipiku.
Yoga, apa yang harus aku katakan padanya. Mau sampai kapan aku membohonginya. Sejak pertengkaran itu bermula, ayah dan ibu tidak peduli lagi pada kami berdua. Mereka hanya memberikan sejumlah uang padaku, lalu pergi dan menyuruhku untuk mengurus diri dan juga Yoga. Kami hanya bagaikan parasit untuk mereka.
Ayah . . . ibu. . . apa yang harus kami lakukan?
Aku berhenti berlari, nafasku terengah-engah di iringi dengan isakan tangis yang masih belum bisa kuhentikan. Sesak sekali rasanya hatiku.
Rasanya aku tidak ingin kembali ke rumah untuk selamanya. Karena nasibku berbeda dari anak-anak normal lainnya, yang merasa rumahnya adalah surga. Bagiku, rumahku seperti neraka, dan aku harus pergi dan menyelamatkan diri darinya.
Biarlah rumahku kecil seperti gubuk, karena yang hanya aku inginkan adalah sebuah keluarga yang bahagia, itu saja.
~TAMAT~