Pagi itu, Ayea berusaha berjalan secepat mungkin ke kelas. Dengan tas yang lebih besar dari tubuhnya dan wajah yang nyaris tenggelam di balik hijabnya, ia berharap tidak ada yang memperhatikan kehadirannya. Tapi, seperti biasa, harapannya kandas saat langkah berat dan suara lantang menggema dari ujung lorong.
“Hei, Ayea! Tunggu!”
Ayea langsung berhenti. Degup jantungnya semakin kencang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya. Zyan. Ketua OSIS paling bar-bar se-sekolah, sekaligus pemilik rekor mengerikan: menghancurkan dispenser sekolah karena ‘penasaran tombolnya bisa dipencet berapa kali’.
“Zyan, aku buru-buru ke kelas,” kata Ayea tanpa berbalik.
“Ah, jangan alasan! Aku cuma mau ngobrol,” jawab Zyan sambil melangkah cepat mendekat.
Ayea menelan ludah. Obrolan dengan Zyan biasanya berakhir dengan dia menjadi pusat perhatian, sesuatu yang paling ia hindari di dunia ini.
“Gini, aku ada ide keren buat pensi!” Zyan berdiri di depannya, napasnya sedikit ngos-ngosan karena lari dari ujung lorong. “Aku mau kamu ikut jadi koordinator dekorasi.”
“M-maksudnya... aku?” Ayea menunjuk dirinya sendiri, wajahnya kebingungan.
“Ya, siapa lagi? Kamu kan pinter gambar dan bikin desain!” jawab Zyan dengan semangat 45.
“Tapi aku nggak berani... aku nggak bisa ngomong di depan orang...”
“Yah, masa nggak bisa? Nih, gampang!” Zyan lalu pura-pura berdiri tegap, menirukan gaya Ayea. Ia mengerucutkan bibirnya dan berbicara pelan-pelan. “Eh... a-aku nggak bisa ngomong di depan orang...”
Ayea membeku. “Zyan, kamu ngeledek aku ya?”
“Nggak, kok!” Zyan tertawa keras. “Tapi serius, kamu harus coba. Kalau nggak, aku bakal bikin poster wajah kamu gede-gede terus ditempel di mading sekolah!”
Mata Ayea membulat. “JANGAN!”
“Hah, tuh kan bisa teriak juga ternyata!” balas Zyan sambil tertawa.
---
Hari-hari berikutnya, Zyan benar-benar serius mengganggu kehidupan damai Ayea. Ia muncul di setiap sudut sekolah, dari kantin, perpustakaan, bahkan di depan toilet.
“Zyan, aku lagi mau ke toilet!” protes Ayea suatu kali.
“Ya udah, aku tunggu di sini aja, biar aku jelasin konsep dekorasinya!” jawab Zyan sambil bersandar di dinding, seolah itu hal paling normal di dunia.
Ayea hanya bisa menggeleng pasrah.
---
Hari pentas seni pun tiba. Ayea akhirnya setuju menjadi koordinator dekorasi setelah Zyan berjanji tidak akan memajang poster wajahnya. Hasil kerja kerasnya terpampang jelas: panggung penuh dengan lampu warna-warni dan dekorasi bunga kertas yang indah.
Namun, bencana terjadi saat Zyan, yang menjadi pembawa acara, mulai berbicara di atas panggung.
“Terima kasih buat semua yang udah kerja keras, terutama buat si pemalu kesayangan kita, Ayea! Mana tepuk tangannya buat dia!” teriak Zyan sambil menunjuk langsung ke arah Ayea yang sedang duduk di pojokan.
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya. Ayea ingin pingsan di tempat.
“Zyan!” bisiknya kesal saat acara selesai.
“Kenapa? Aku cuma bilang yang sebenarnya. Kamu kesayangan aku, kok,” jawab Zyan santai sambil nyengir lebar.
Ayea mengerutkan alisnya. “Zyan, kamu bar-bar banget!”
“Tapi kamu suka, kan?” Zyan mengedipkan mata jahil.
Ayea hanya bisa mendengus. Meski kesal, senyum kecil di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan. Zyan memang bar-bar, tapi entah kenapa, keberadaannya membuat Ayea merasa lebih berani.
Hari-hari setelah insiden "cewe kesayangan ketos" di pentas seni, nama Ayea menjadi perbincangan hangat di seluruh sekolah. Dari sudut kantin hingga ruang perpustakaan, semua orang membicarakan betapa spesialnya hubungan Ayea dan Zyan. Tentu saja, tidak semua komentar positif.
Salah satu orang yang paling terganggu adalah Citra, cewek populer yang selama ini diam-diam menyukai Zyan. Dengan rambut panjang tergerai, gaya bicara meyakinkan, dan geng “Cahaya Populer” yang selalu mendukungnya, Citra tidak habis pikir bagaimana Ayea, seorang gadis pemalu yang nyaris tak pernah terdengar suaranya di kelas, bisa menjadi perhatian Zyan.
“Serius, aku nggak ngerti kenapa Zyan suka main-main sama Ayea. Lihat aja, nggak ada menarik-menariknya!” keluh Citra di kantin sambil melipat tangannya.
“Tapi, Cit, katanya Zyan suka sama cewek yang sederhana,” sahut Mila, salah satu anggota gengnya.
Citra mendengus. “Sederhana beda sama nggak ada gaya. Kalau kayak gitu, mending dia pilih aku. Aku kan juga nggak berlebihan, tapi tetep elegan.”
---
Sore itu, saat Ayea sedang berjalan menuju gerbang sekolah, Citra dan gengnya sengaja menunggu di dekat taman sekolah.
“Hei, Ayea!” panggil Citra dengan nada manis, tapi jelas ada maksud di baliknya.
Ayea yang sedang sibuk mengatur buku di tasnya mendongak bingung. “Iya, ada apa, Citra?”
“Kamu hebat juga, ya. Baru kenal Zyan beberapa bulan udah bisa bikin dia terus ngomongin kamu,” ujar Citra sambil tersenyum tipis.
Ayea mengerutkan dahi. “Aku... aku nggak ngerti maksud kamu.”
“Ah, jangan pura-pura polos, dong. Maksud aku, kamu pasti punya trik, kan? Biar ketos sebar-bar Zyan bisa perhatian sama kamu?”
Nada suara Citra terdengar seperti pujian, tapi jelas ada sindiran tajam di dalamnya.
“Aku nggak punya trik apa-apa. Aku cuma...” Ayea bingung bagaimana menjelaskan, karena ia sendiri juga tidak paham kenapa Zyan begitu perhatian padanya.
“Hm, baiklah kalau kamu nggak mau cerita. Tapi hati-hati, ya. Zyan itu tipe cowok yang gampang bosan. Siapa tahu nanti dia balik nyari cewek yang lebih... selevel,” ucap Citra sambil melenggang pergi, meninggalkan Ayea yang hanya bisa terdiam dengan perasaan campur aduk.
---
Keesokan harinya, di aula sekolah, Zyan yang tengah sibuk mengurus rapat OSIS tiba-tiba memanggil Ayea.
“Ayea! Sini bentar!” Zyan melambaikan tangan dengan santai, sementara mata-mata anggota OSIS lain, termasuk Citra, langsung tertuju pada mereka.
Ayea maju dengan ragu, merasa semua perhatian itu menusuk-nusuknya. “Ada apa, Zyan?”
“Aku butuh pendapat kamu soal dekorasi ulang tahun sekolah. Kan kamu yang paling jago soal ini,” ujar Zyan, tanpa ragu mempercayakan tugas penting itu pada Ayea.
Citra, yang duduk di meja rapat, tidak bisa lagi menahan diri. Ia menyela dengan suara lantang. “Eh, Zyan, kenapa kamu selalu minta pendapat Ayea? Aku juga bisa bantu, lho. Bahkan aku punya koneksi toko dekorasi terbaik!”
Zyan menoleh santai. “Citra, makasih tawarannya, tapi aku lebih percaya sama Ayea. Dia punya selera yang beda, nggak mainstream. Lagian, aku udah lihat hasil kerjanya pas pensi kemarin.”
Wajah Citra memerah, tapi ia menutupi rasa malunya dengan senyum kaku. Sementara itu, Ayea hanya bisa berdiri kikuk, merasa seperti berada di tengah drama yang tidak ia inginkan.
Setelah rapat selesai, Citra mendekati Ayea dengan wajah yang dibuat ramah. “Ayea, aku salut banget sama kamu. Tapi, jangan terlalu nyaman, ya. Kalau kamu nggak hati-hati, mungkin ada orang lain yang bakal ngambil posisi kamu di hati Zyan.”
Ayea hanya mengangguk kecil, bingung harus berkata apa.
Namun, saat ia berjalan keluar aula, Zyan tiba-tiba muncul di sampingnya. “Tadi Citra ngomong apa sama kamu?” tanyanya, wajahnya terlihat sedikit serius.
“Enggak... enggak apa-apa,” jawab Ayea sambil menunduk.
Zyan mengangguk pelan, lalu berkata, “Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang ke aku. Aku bakal urusin.”
Ayea menoleh dan melihat keseriusan di mata Zyan. Meski ia tahu Zyan bar-bar dan sering bertingkah konyol, kali ini ia merasa benar-benar dilindungi.
Dan di kejauhan, Citra hanya bisa menggigit bibirnya, merasa iri melihat hubungan Ayea dan Zyan yang terlihat semakin dekat.
Citra, yang hatinya terbakar iri, memutuskan untuk menyusun rencana untuk mempermalukan Ayea. Bersama gengnya, ia mulai merancang skenario yang akan membuat Ayea terlihat buruk di depan Zyan dan seluruh sekolah.
"Dia itu cuma cewek biasa yang beruntung," gumam Citra sambil mengunyah sedotan minumannya di kantin. "Kita harus tunjukin kalau dia nggak pantas buat Zyan."
Mila, salah satu anggota gengnya, mengangguk. "Gimana kalau kita bikin dia malu di acara ulang tahun sekolah nanti? Kan dia yang Zyan tunjuk buat urus dekorasi."
Citra tersenyum penuh arti. "Itu ide bagus. Kita cuma perlu memastikan dia bikin kesalahan besar."
---
Hari ulang tahun sekolah pun tiba. Aula sudah dihiasi dengan dekorasi yang Ayea kerjakan sepenuh hati. Balon-balon berwarna pastel memenuhi ruangan, lampu-lampu gantung memancarkan cahaya lembut, dan panggung utama terlihat elegan dengan sentuhan bunga-bunga segar. Semua orang memuji dekorasi itu.
Namun, Citra dan gengnya telah menyelipkan sesuatu di balik panggung. Sebuah ember berisi confetti yang dicampur dengan tepung dan serpihan plastik siap dijatuhkan pada momen yang mereka rencanakan.
Ketika acara memasuki puncaknya, Zyan maju ke panggung untuk memberikan pidato pembukaan. "Terima kasih untuk semua yang sudah membantu acara ini, terutama Ayea yang berhasil membuat dekorasi luar biasa!" ucapnya dengan penuh semangat.
Semua mata tertuju pada Ayea, yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah memerah karena malu.
Citra memberikan isyarat kepada salah satu anggotanya untuk menarik tali yang akan menjatuhkan ember ke arah Ayea. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
---
Saat ember ditarik, arah jatuhnya ternyata melenceng jauh. Alih-alih mengenai Ayea, ember itu justru jatuh tepat di atas kepala Citra, mengotori rambut dan bajunya dengan confetti, tepung, dan serpihan plastik.
Semua orang di aula terdiam selama beberapa detik sebelum tawa pecah di seluruh ruangan.
"Waduh, Citra, itu gaya dekorasi baru ya?" canda salah satu siswa sambil tertawa.
Citra, yang wajahnya memerah karena malu, langsung berlari keluar ruangan dengan gengnya mencoba mengikutinya.
Zyan, yang menyaksikan kejadian itu dari atas panggung, hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil. "Bar-bar banget ya yang mau ngerjain orang. Tapi karma nggak pernah tidur."
Sementara itu, Ayea hanya bisa terdiam di tempatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Zyan turun dari panggung dan mendekati Ayea. "Kamu nggak apa-apa, kan?"
Ayea mengangguk. "Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Zyan menyeringai. "Aku tahu. Ada yang iri sama kamu, Ayea. Tapi tenang aja, aku nggak akan biarin mereka ganggu kamu lagi."
Di luar aula, Citra duduk dengan wajah kusut, menatap tepung yang masih menempel di bajunya. Dalam hati, ia bersumpah bahwa ini belum berakhir.
---
Meski begitu, Ayea tetap menjalani harinya seperti biasa, tidak menyadari bahwa Zyan semakin terkesan dengan sikapnya yang tetap rendah hati dan tidak terpengaruh oleh drama. Di sisi lain, semua orang di sekolah semakin sadar bahwa tidak ada yang bisa menggantikan posisi "Cewe Pemalu Kesayangan Ketos."