Rumah bagiku hanyalah sebuah persinggahan. Tidak ada kehangatan, tidak ada pelukan. Aku adalah anak yang tak diinginkan, keberadaanku selalu terasa sebagai beban.
Sedari kecil, aku terbiasa dengan tatapan dingin ibuku, caci maki yang menyakitkan, dan pukulan yang melukai fisikku. Sejak saat itu, aku tahu, rumah tidak akan pernah menjadi tempatku menemukan kedamaian.
“Ke mana saja kau? Pintunya terkunci, dari mana kau bisa masuk?” tanya ibuku setiap kali aku pulang larut malam.
“Seperti biasa Bu, aku memanjat jendela kamar,” jawabku dengan nada datar.“Ibu yang menyuruh bibi Suti mengunci pintu kan?”tanyaku tersenyum dingin.
Wajahnya mengeras. Tanpa sepatah kata, rotan di tangannya melayang ke tubuhku. Rasa perih menjalar, namun aku tetap diam. Aku tidak akan menangis, tidak akan memberinya kepuasan melihatku kalah.
“Dasar anak pelacur! Tidak tahu diri!” suara ibuku menghantam hatiku lebih keras daripada rotannya. Kata-kata itu menusuk seperti belati, menggores setiap sudut hatiku yang telah kering.
"Kalau aku anak pelacur, ibu pelacurnya, dong!" balasku sambil menahan amarah.
Rotannya kembali mendarat, lebih keras dari sebelumnya. Tubuhku gemetar, bukan karena sakit, melainkan karena keputusasaan. Seluruh hidupku hanyalah tentang kebencian ini.
Hingga suatu hari, ayahku berbicara. Untuk pertama kalinya, ia mengungkapkan kebenaran yang selalu kusangka hanya omelan ibuku. “Kau memang bukan anak kandung ibu. Kau adalah anak dari seorang perempuan yang tidak baik. Dia meninggalkanmu di rumah sakit, dan memaksaku merawatmu... dia seorang pelacur.”
Dunia runtuh di hadapanku. Kebenaran yang selama ini kuabaikan ternyata nyata. Aku bukan bagian dari keluarga ini. Aku hanyalah bayang-bayang masa lalu yang mereka benci.
Setelah malam itu, aku pergi. Tanpa pamit, tanpa menoleh. Aku berharap, setidaknya sekali, mereka akan mencariku. Namun hari berganti minggu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang peduli. Tidak ayahku, tidak pula ibu tiriku.
Langkahku semakin berat. Hujan mengguyur deras, membasahi tubuh yang sudah lelah. Di tengah dinginnya malam, sebuah kenyataan pahit lainnya menghantamku. Ibuku, perempuan yang melahirkanku, ternyata masih bekerja sebagai pelacur.
Aku berhenti sejenak, menatap langit kelabu. “Apa sebenarnya salahku? Mengapa aku dilahirkan hanya untuk ditinggalkan?”
Aku tidak tahu ke mana arah hidupku. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga, hanya kehampaan yang terus membayangi. Namun satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah jatuh ke jurang yang sama. Aku akan menemukan jalanku sendiri, meski penuh duri dan gelap.
“Selamat tinggal," bisikku pelan.“Aku bukan anak yang kalian inginkan, tapi aku adalah aku. Dan aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi lebih baik. Salam hangat, dari anak seorang pelacur, yang akan membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar itu.”
Aku melangkah, meninggalkan luka, kemarahan, dan kenangan buruk di belakangku. Aku mencari kedamaian yang tidak pernah kutemukan, berharap suatu hari aku bisa memulai babak baru dalam hidupku. Babak yang penuh harapan dan kebahagiaan, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan.