Hawa dingin mulai merayap dalam gelapnya ruangan yang kotor serta lembab. Perasaan mencekam seperti memeluk erat dan meninggalkan rasa sesak di dada. Mata setajam elang itu menjeling ke arah pisau yang berada di genggaman tangan. Suara-suara aneh berdengung memaksa masuk ke dalam telinga menyuruh mata pisau itu mencumbu kulit hingga membuat satu lukisan sederhana di sana yang dihiasi dengan tinta merah pekat.
Lengkingan suara-suara aneh yang menyapa telinga terdengar semakin keras dan terus merambat hingga memaksa masuk ke dalam pikiran dan berteriak di dalam sana seolah menyuruh bersahabat dengan sebilah mata pisau yang berkilat.
Dada mulai bergemuruh dihantam sesuatu tak kasat mata, terasa sangat menyakitkan pasokan oksigen yang terserap habis oleh emosi membuat tubuh ini lemah tak berdaya. Hanya merasakan sesak tak terkira.
Dengan tangan yang gemetar, diraihnya pisau itu, mata setajam elang terus memandang mata pisau yang berkilat dan tak kalah tajam seolah-olah pisau itu tersenyum dan bersiap menyambut mulusnya kulit yang akan ia cium dengan mesra hingga meninggalkan rasa sakit berbalut kepuasan yang tak terkira.
Perlahan-lahan jarak tangan dan pisau itu terbunuh, dinginnya mata pisau langsung menyapa permukaan kulit merayap menuju ke arah nadi. Hingga sisi tajamnya menusuk dengan perlahan dan dalam dan setitik cairan pekat dan kental mengucur dan turun meluncur menghiasi lengan.
Sesak yang bercokol di dada menjebol pintu hati, perasaan lega mulai menghampiri. Meski berbalut rasa sakit, tetapi mampu menciptakan kepuasan tersendiri.
Semakin lama oksigen semakin menipis
Tubuh ini semakin ringkih dan tumbang menyapa lantai yang dingin
Hingga detak jantung berhenti dan perlahan-lahan akan mati