Dimas adalah seorang pria biasa, yang hidup dalam rutinitas sederhana. Hari-harinya dihabiskan dengan menonton anime, membaca manga, dan terkadang pergi ke acara komunitas Jepang di kota. Dia tidak pernah merasa kesepian, namun juga tidak merasa tertarik pada hubungan romantis. Teman-teman wanita? Tidak pernah ada. Dia cukup puas dengan dunianya yang penuh warna-warni karakter anime, alur cerita epik, dan dunia fantasi yang mengisi hatinya.
Suatu sore yang cerah, Dimas datang ke sebuah acara cosplay yang cukup besar di pusat kota. Acara itu selalu diadakan setiap bulan, dan sudah menjadi rutinitasnya untuk datang. Dimas lebih suka menjadi penonton yang menikmati suasana, bukan ikut berinteraksi. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Di tengah keramaian, matanya tertuju pada seorang wanita yang mengenakan kostum Yuna, karakter favoritnya dari sebuah anime populer. Wanita itu tampak sangat cantik. Kostumnya begitu rapi dan penuh detail, dengan rambut panjang yang terurai indah. Dia berdiri di antara penggemarnya, dikelilingi oleh para pria yang mengaguminya, mengajaknya foto, dan berbicara dengan antusias.
Dimas merasa jantungnya berdebar. Dia jarang merasa seperti ini. Wanita itu, dengan keanggunannya, tampak sangat jauh dari dirinya. Dia hanya seorang pria biasa yang lebih senang menghabiskan waktu di rumah, dan mengagumi orang-orang dari kejauhan.
Dia merasa minder, bahkan untuk sekadar mendekatinya. Para penggemar wanita itu begitu banyak, dan dia hanya seorang yang merasa asing di dunia seperti ini. Dimas mundur perlahan, memilih untuk tidak mendekat dan hanya menikmati pemandangan dari jauh.
Namun, saat Dimas sedang sibuk dengan pikirannya, dia tanpa sengaja berjalan ke sebuah stan cosplay yang kosong. Di sana, dia melihat wanita itu sedang duduk sendirian, tampak sedikit lelah setelah berinteraksi dengan banyak orang. Dimas tahu ini adalah kesempatan langka, tetapi rasa takut dan keraguan menghantui dirinya.
Berusaha menenangkan diri, Dimas menghampiri wanita itu dengan langkah pelan. "Permisi," suaranya terdengar gugup. "Kostumnya sangat bagus... saya suka karakter Yuna."
Wanita itu tersenyum ramah, melihatnya dengan tatapan yang tidak menghakimi. "Terima kasih. Saya senang kamu menyukainya."
Dimas merasa sedikit lega. Mereka mulai berbicara tentang anime yang mereka sukai, dan Dimas mulai merasa sedikit lebih nyaman. Namun, dalam hatinya, ia merasa tetap kurang percaya diri, takut bahwa dia hanya akan menjadi salah satu dari banyak orang yang mengagumi wanita itu tanpa ada makna lebih.
Hari berlalu, dan Dimas terus berinteraksi dengan wanita itu di sela-sela acara. Mereka berbicara tentang berbagai hal, dan Dimas merasa semakin nyaman. Meskipun wanita itu dikelilingi banyak penggemar, dia selalu meluangkan waktu untuk berbicara dengan Dimas, membuatnya merasa dihargai.
Di akhir acara, ketika semuanya mulai beranjak pulang, wanita itu menghampiri Dimas dengan senyuman. "Hei, terima kasih sudah berbicara denganku. Biasanya, aku hanya dikelilingi oleh orang-orang yang ingin berfoto, tapi kamu... kamu berbeda."
Dimas terkejut. "Aku berbeda?" tanyanya, sedikit bingung.
Wanita itu tertawa lembut. "Ya, kamu tidak mencoba menjadi seperti orang lain yang hanya ingin mengambil gambar dan pergi. Kamu berbicara dengan tulus, tanpa embel-embel. Itu sangat menyenangkan."
Dimas merasa hatinya berdebar lagi. "Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik."
Wanita itu menatapnya, lalu mengangguk. "Aku suka itu. Kalau begitu, kita bisa pergi minum kopi suatu saat, bagaimana?"
Dimas tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kamu serius?"
Dia tersenyum. "Tentu. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa ngobrol lebih banyak."
Itulah awal dari perjalanan cinta yang tak terduga bagi Dimas. Dia tidak perlu menjadi seseorang yang dia bukan untuk mendapatkan perhatian wanita itu. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Dari pertemuan pertama yang canggung hingga saat mereka duduk bersama menikmati secangkir kopi, Dimas belajar bahwa cinta bukanlah tentang seberapa banyak penggemar yang kita miliki, melainkan seberapa jujur kita terhadap perasaan kita sendiri. Dan bagi wanita itu, Dimas adalah seseorang yang benar-benar membuatnya merasa dihargai, bukan hanya sebagai cosplayer, tetapi juga sebagai dirinya sendiri.