Hujan mengiringi berita duka tentang berembusnya kabar seorang santri yang wafat setelah dikabarkan menghilang dua hari yang lalu, kejadian ini telah berkali-kali terjadi sejak awal tahun 2018. Teror yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa yang tidak bersalah, para santri yang mentalnya tak cukup kuat banyak mengundurkan diri dari pesantren, melepaskan diri dari status santri karna ketakutan akan mati. Pelaku teror hingga kini belum ditemukan, sedangkan korban kian bertambah. Seperti kasus pertama hilangnya santri dan ditemukan tewas dengan keadaan pisau berkarat yang menancap di dada korban, kasus ini ditutup setelah sepuluh hari penyelidikan yang tidak menemukan titik terang. Mirisnya, korban kembali berjatuhan dan pihak berwajib seakan bungkam, kasus ini dianggap angin lalu tanpa ada titik terang siapa, kenapa, dan apa alasan dari teror mengerikan ini.
Bahkan masyarakat luar pesantren menganggap kasus ini hanya berita hoax yang diada-ada, seakan ada pihak yang sengaja memanipulasi. Berita ini hanya beredar dari mulut ke mulut, tanpa ada satupun media masa yang menyebarluaskannya. Sedangkan para santri terpaksa harus menekan rasa cemas demi berjuang menempuh pendidikan bersamaan dengan langkah kematian.
Sama seperti halnya Zayn, santri putra di pesantren yang terkenal di Kalimantan. Hari yang mendung menjadi alasan Zayn untuk tidak pergi ke pesantrennya, berdalih hujan padahal karena ketakutan Ia enggan melangkahkan kaki keluar rumah.
"Zayn, kenapa masih di sini?" Tanya mama Zayn.
"Hujan Maa, Zayn izin, ya .... "
"Kamu itu masih muda, kok udah malas nuntut ilmu? selagi muda gini atuh zayn perbanyak belajar biar ada bekal masa depan apalagi buat di alam kubur."
_"Masalahnya kalau Zayn ke sekolah mempercepat Zayn ke Alam kubur mama, Zayn belum siap,"_ jawab Zayn dalam hati.
"Apalagi? Sana sekolah, udah enak juga sekolah pake motor masih aja mager," desak mama Zayn.
Akhirnya Zayn pergi dengan perasaan khawatir mendominasi, Ia berkendara dengan gelisah takut Ia yang akan menjadi korban teror selanjutnya. Tapi kegelisahan Zayn tak terbukti apa-apa, ia baik-baik saja. Menuntut ilmu seakan-akan hal yang sangat berbahaya di masa ini, jika pada zaman Jahiliah, Nabi Muhammad berdakwah sembunyi-sembunyi dan berperang mengalahkan orang-orang kafir Quraisy dengan lantang, di masa ini para santri justru menuntut ilmu secara hati-hati tanpa tau kenapa mereka diburu dan diteror, bahkan mereka tak bisa menghentikan karna tak tau ke mana menuntut keadilan sedang pelakunya saja tak ditemukan.
Satu pekan berlalu, pada hari libur para Santri diperbolehkan pulang, sebelumnya Zayn sempat berpapasan dengan kakak tingkatnya, Zayn Ahmad seorang ketua keamanan. Mempunyai nama yang sama adalah hal lumrah di pesantren, pembeda hanya ada di nama belakang saja, bahkan ada yang sama, maka Bin adalah pembeda utama. Tapi apakah dengan nama yang sama sifat pun sama? Tentu tidak, Zayn Ahmad seorang pemberani, sedangkan Zayn Habibie adalah penakut.
"Zayn, kata Buya, Ente mau ikut qiraat?"
qiraat atau ajang di mana kepandaian para santri diasah, karna qiraat adalah suatu kegiatan membaca kitab kuning dan belajar menjelaskan ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang menjebak dan memutar otak untuk menjawabnya.
"InnsyaaAllah Kak Zayn, izin sama mama dulu," jawab Zayn dengan wajah murung, karna ketakutan kembali menguasai hatinya.
"Ente takut pulang? atau takut jadi korban teror?"
Mendapati Zayn tak menjawab dan hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, helaan napas panjang terdengar, membuat Zayn Ahmad menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Janganlah takut berlebihan seolah kita tidak mempunyai pegangan. Tenanglah ... berusaha menjaga diri, selepasnya serahkan semuanya sama Yang Kuasa, kematian adalah satu hal yang pasti, terlepas dari ada atau tidaknya teror ini. Berbaik sangkalah pada takdir dan berdoalah karena itu dapat merubah takdir. Kita memang tidak tahu kenapa, bagaimana, dan kapan kematian itu datang, tapi kita punya pilihan antara surga atau neraka yang kita inginkan, kalau itu yang dikehendaki pasti kita usahai. Surga terlalu mahal untuk didapatkan dengan perbuatan baik saja, jika dengan perjuangan seperti ini membuat surga nampak lebih dekat kenapa tidak?"
"Ingat Zayn, اَنَا عِندَظَنِّ عَبدِی بِی
_'Aku di sisi prasangka hambaku kepadaku'_ jadi jangan pernah meragu atau berburuk sangka karna itu bisa jadi do'a. Kalamnya Sayyina Umar juga jangan dilupain, ya."
_Apa yang tidak ditakdirkan untukku, tidak akan menghampiriku. Dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkankanku - Sayyidina Umar Bin Khattab._
Zayn mengangguk sebelum kakak tingkatnya itu pergi menjauh, _"Semoga selalu dalam lindungan Allah, dan kita kembali dipertemukan di lain waktu di tempat mulia ini,_ _Aamiin,"_ Doa Zayn dalam hati mengiringi langkah kaki Zayn Ahmad yang begitu berani sembari menebar senyum yang menenangkan pada orang-orang yang dijumpainya.
Setelah menghabiskan akhir pekannya di rumah, Zayn kembali ke pesantren, setibanya di sana Ia mendapati masyarakat pondok sibuk hilir mudik membersihkan aula, lingkungan pesantren terasa lebih luas dengan ketiadaan meja-meja bersusun. Setelah meletakkan dan menyimpan rapi barang bawaannya, Ia menghampiri salah satu teman sekelasnya yang membawa gulungan karpet.
"Hasyim, ada acara apa?"
"Sholat Kifayah jamak."
"Jamak?" Ulang Zayn, _berarti lebih dari satu mayyit ,_ pikirnya.
"Tujuh mayyit santri datang tadi subuh dengan keadaan mulut berbuih, kemungkinan pembunuhan kali ini dengan racun. Sebelum pelaku mendatangkan mayyitnya, ketujuh santri itu menghilang lebih dari 24 jam dan Kak Zayn salah satunya," Hasyim dengan lembut menggatikan kata Mayat dengan sebutan Mayyit, sebagai perhormatan kepada Almarhum Zayn.
Zayn yang membantu menghamparkan karpet tertegun, menatap Hasyim dengan mata berkaca-kaca, Zayn Ahmad si pemuda pemberani baru saja gugur dalam keadaan syahid, masih dalam pengabdiannya di pesantren dengan keteguhannya menjadi santri. Zayn wafat dua hari sebelum qiraat terlaksana.
"Dua hari yang lalu Zayn pernah bilang, ada orang tak dikenal memata-matai pesantren, orang itu sempat mencegat Ahmad Rifqi, Salah satu santri yang berada di depan ini (Mayat). Orang itu sempat berkata _'jika kamu bukan santri, kamu aman.'_ Dari masalah ini kita ketahui alasan teror ini yaitu mereka bersengaja untuk memusnahkan santri, dan ini sudah pasti para musuh-musuh islam. Jadi kita ketika keluar pesantren jangan pakai baju seragam, tetap syar'i tanpa melibatkan nama santri karna mungkin saja mereka mengenali kita dari seragam, untuk sekarang bawa baju ganti untuk keluar pesantren, agar tidak pake seragam saat diluar area pondok, karna kita menjaga diri. Tetaplah berhati-hati, Berterimakasihlah terhadap Zayn yang berhasil mengungkap alasan agar kita bisa memperkuat pengawasan dan kewaspadaan, semoga kita selalu dalam lindungan Allah." Terang Buya (Ayah pengasuh) memberi amanat setelah sholat fardhu kifayah.
Ketujuh Mayyat di makamkan di samping pesantren, tempat pemakaman dewan asatidz dan para donatur. Syukurnya tiga bulan sebelum akhir tahun 2018, kasus teror ini benar benar menghilang walau hingga kini pelaku belum ditemukan, tapi setidaknya para santri bisa damai menuntut ilmu tanpa diburu oleh rasa cemas, khawatir atau kegelisahan yang menghantui selama belajar. Kasus ini ditutup dengan wafatnya santri yang masyhur terkenal dengan gelar Al-faruq karna dia santri pemberani yang hingga akhir hayatnya membela agama islam dan pengorbanannya tak sia-sia dengan kedamaian yang didapat warga pesantren, Zayn Ahmad Al-Faruq ... berjuang tanpa suara, bergerak mendamaikan jiwa.
_Jangan takut pada kematian, karna itu masa depan yang pasti kita hadapi, terlepas dari kenapa, bagaimana, dan kapan kematian itu datang. Takutlah pada amal kita yang kurang untuk menemani kita menuju alam kubur, takutlah tangan kiri yang menyambut buku amal karna itu bukanlah satu hal pertanda baik. Kita memang tak tau takdirnya kematian menghampiri tapi kita dapat berusaha memperbaiki diri untuk menghadap Sang Ilahi. Untuk mendapatkan kedamaian memang perlu pengorbanan karna banyak orang yang gagal untuk melepas apa yang disayangkan. Hidup kita harus berkorban baik waktu, harta, bahkan nyawa semua demi mendapatkan Ridha-Nya._
_Banjarmasin, 05 November 2021._