Pelakor selalu menjadi polemik yang menghantui setiap rumah tangga. Entah bagaimana cara terbaik untuk memberantas mereka, perempuan-perempuan yang seringkali dianggap sebagai perusak keharmonisan keluarga.
Masalah ini seolah menambah daftar panjang persoalan di negeri ini-dari kemiskinan, perampokan, korupsi, hingga sekarang drama para pelakor yang terus mencuat ke permukaan. Tragisnya korban yang paling menderita di sebabkan ini adalah anak-anak dari keluarga yang mereka hancurkan.
Jika mencintai seseorang hanya demi kesenangan sesaat, apa gunanya cinta itu? Apakah perempuan hanya pantas dijadikan alat pemuas nafsu belaka? Layaknya pakaian yang setelah digunakan dibuang begitu saja, tanpa rasa bersalah. Apakah serendah itu perempuan harus di perlakukan? Setelah puas mencicipi, lalu pergi begitu saja tanpa bersalah dan tanggung jawab.
Haruskah perempuan selalu menjadi pihak yang mengalah, demi menjaga keharmonisan rumah tangga? Sementara para pria bebas mencari kesenangan di luar sana? Sampai kapan perempuan harus memikul beban, sedangkan para lelaki ini terus melanggar janji pernikahan yang mereka buat?
"Ceraikan aku bang!" teriak Rara histeris dengan suara parau, tangannya gemetar ketika melihat suaminya bercumbu mesra dengan perempuan lain. Hatinya hancur. Dengan kejam, suaminya tak ragu menjatuhkan talak. Lebih dari itu Ridho, anak mereka, tidak diakuinya sama sekali. la pergi begitu saja, menggandeng perempuan yang telah merampas kebahagiaan keluarga mereka.
"Laki-laki itu memang bajingan," gumam Rara di sela tangisnya. "Setelah puas mencicipi, dia akan membuang perempuan itu seperti sampah. Inikah balasan atas kesetiaan yang kuberikan? Tak bisakah dia melihat aku istrinya, sebagai satu-satunya cinta di hatinya? Sebegitu menjijikkah aku dimatanya?" gugam Rara getir.
Saat hatinya terluka oleh Kevin, Willy hadir sebagai pahlawan cinta. Ia menenangkan hati Rara yang terluka oleh ketidakadilan cinta. Willy selalu ada di sampingnya, memberikan ketenangan dan kenyamanan yang ia butuhkan di saat-saat penuh kesedihan.
"Kamu tidak perlu terlalu membencinya, Ra," ucap Willy lembut. "Ingatlah, dulu dia juga pernah menjadi orang yang mengisi kekosongan hatimu. Kalian menikah dengan baik-baik, jadi seharusnya kalian juga berpisah dengan cara yang baik."
"Dia yang membuat perpisahan ini menjadi begitu buruk, Wil. Aku sudah memberikan semuanya, tapi dia membalas dengan penghianatan. Semua pengorbananku, cintaku, kesetiaanku semua terasa sia-sia," jawab Rara, matanya basah oleh air mata.
"Aku tahu Rara, dia menyakitimu. Tapi memaafkan lebih baik daripada membiarkan luka itu terus menganga. Kebencian hanya akan memperparah sakitmu."
Willy perlahan menarik tubuh Rara ke pelukannya. Rara merasa hangat dan nyaman dalam dekapan itu. Seakan menemukan kembali sedikit kedamaian yang hilang dari hidupnya, ia membiarkan diri bersandar pada lelaki yang setia berada di sisinya. Pelukan itu erat, penuh kehangatan, seolah menegaskan bahwa ia tak perlu lagi merasa sendirian.
Terkadang, cinta yang telah hancur memang meninggalkan bekas luka. Namun, mungkin cinta yang baru adalah awal dari penyembuhan.