Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan, hiduplah sepasang kekasih, Aidan dan Rania. Cinta mereka sederhana, tanpa janji-janji besar atau kemewahan. Mereka saling mencintai dengan tulus, meski dunia seolah tidak mendukung hubungan mereka.
Aidan adalah seorang pelukis miskin, sementara Rania berasal dari keluarga terpandang. Ayah Rania, seorang pengusaha kaya, menentang keras hubungan mereka. "Dia tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadamu, Rania. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik," kata ayahnya dengan nada penuh amarah.
Namun, bagi Rania, cinta adalah hal yang jauh lebih berharga daripada harta. “Ayah, yang aku inginkan bukan kekayaan, tetapi kebahagiaan. Dan Aidan adalah kebahagiaan itu,” jawab Rania dengan suara tegas.
Hari-hari berlalu dalam kerumitan. Rania sering menyelinap keluar rumah untuk bertemu Aidan di sebuah pondok kecil di pinggir sungai. Di tempat itulah Aidan menggoreskan warna-warna cintanya di atas kanvas, melukis Rania dalam berbagai bentuk dan ekspresi.
“Rania,” kata Aidan suatu sore, sambil memandang lukisan yang baru saja ia selesaikan, “dunia mungkin mencoba memisahkan kita, tapi cinta ini hanya milik kita. Tidak ada yang bisa mengambilnya.”
Rania tersenyum. “Ya, Aidan. Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan selalu memilihmu.”
Namun, takdir tampaknya ingin menguji mereka. Suatu malam, ayah Rania mengetahui pertemuan mereka. Dengan murka, ia mengunci Rania di kamar dan mengancam akan mengirim Aidan pergi dari kota itu.
"Jika kamu tetap bertemu dengannya, aku akan memastikan dia tidak punya tempat untuk tinggal, tidak ada jalan untuk hidup," ancam ayahnya.
Rania merasa hancur, tetapi tekadnya tidak goyah. Dia menulis surat untuk Aidan, memintanya menunggunya di pondok tempat mereka biasa bertemu.
Malam itu, di bawah hujan deras, Rania melarikan diri dari rumah. Dengan napas terengah, ia tiba di pondok kecil mereka. Aidan sudah menunggu, basah kuyup tetapi dengan senyum penuh kelegaan.
“Rania,” bisiknya sambil meraih tangan gadis itu.
“Bawa aku pergi, Aidan,” kata Rania. “Aku tidak peduli ke mana. Aku hanya ingin bersamamu.”
Tanpa pikir panjang, mereka melarikan diri menuju pegunungan, mencari tempat di mana tidak ada yang bisa mengganggu cinta mereka. Mereka menemukan sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tempat di mana mereka memulai kehidupan baru.
Aidan melukis untuk menyambung hidup, sementara Rania mengajar anak-anak desa membaca dan menulis. Meski hidup mereka sederhana, hati mereka penuh cinta.
Bertahun-tahun kemudian, Aidan mengadakan pameran besar di kota. Lukisannya yang paling terkenal adalah potret seorang wanita dengan senyum penuh cinta, berdiri di tepi sungai dengan pegunungan sebagai latarnya. Lukisan itu diberi judul, "Cinta Ini Milik Kita."
Ayah Rania, yang hadir di pameran itu, tertegun melihat karya tersebut. Dalam hatinya, ia menyadari bahwa kebahagiaan putrinya tidak pernah tergantung pada kekayaan atau status, melainkan pada cinta yang tulus.
Meski penuh perjuangan, Aidan dan Rania membuktikan bahwa cinta sejati adalah milik mereka, dan tidak ada yang bisa merebutnya.