Di sebuah rumah kecil di tengah ladang ilalang, tinggal seorang wanita bernama Alana. Dia hidup sendiri, menghabiskan hari-harinya dengan merajut dan menatap langit yang seakan tak berujung. Di masa mudanya, Alana adalah seorang pianis berbakat, tetapi sebuah tragedi merenggut kebahagiaannya: kecelakaan mobil yang tidak hanya mengambil kemampuan bermain pianonya, tetapi juga kekasihnya, Adrian.
Adrian adalah satu-satunya alasan Alana percaya pada cinta. Mereka tumbuh bersama, menjelajahi dunia dengan melodi dan tawa. Ketika Adrian pergi, Alana merasa dirinya pun ikut mati. Namun, di balik kesedihan itu, ada sesuatu yang aneh—Alana masih bisa merasakan kehadiran Adrian.
Pada suatu malam yang sunyi, ketika rembulan menggantung rendah di langit, Alana mendengar suara piano yang ia kenali. Itu melodi yang biasa dimainkan Adrian. Dia berlari keluar rumah, mengikuti suara itu hingga ke sebuah pohon besar di tengah ladang. Di sana, dia melihat sosok Adrian, transparan, bercahaya redup.
"Alana," panggil Adrian dengan lembut.
Air mata membanjiri mata Alana. "Ini mimpi, bukan?"
Adrian tersenyum. "Cinta kita tidak mengenal dunia. Aku di sini karena kamu memanggilku, setiap malam, setiap doa yang kamu bisikkan."
Alana melangkah mendekat, ingin menyentuhnya, tetapi tangannya hanya melewati udara kosong. "Kenapa kamu datang sekarang?"
"Aku ingin memastikan kamu tahu bahwa cinta kita tidak pernah hilang," jawab Adrian. "Bahkan ketika aku tidak lagi di dunia ini, aku tetap mencintaimu."
Malam itu, Alana dan Adrian berbicara hingga fajar. Adrian memberitahunya tentang sebuah tempat di mana mereka bisa bersama lagi, tetapi dengan harga yang mahal: Alana harus meninggalkan dunia ini.
"Aku tidak bisa," kata Alana, terisak. "Aku belum siap meninggalkan segalanya."
"Ketika waktunya tiba, aku akan menunggumu," jawab Adrian dengan senyum penuh kehangatan.
Setelah pertemuan itu, hidup Alana berubah. Dia mulai menemukan kebahagiaan kecil dalam hal-hal sederhana: warna matahari terbenam, suara angin, dan aroma bunga liar. Meski dia tahu Adrian menunggunya di suatu tempat, Alana memilih untuk menikmati sisa hidupnya.
Ketika akhirnya hari terakhirnya tiba, Alana tersenyum. Di ambang keabadian, dia melihat Adrian berdiri di bawah pohon yang sama, merentangkan tangannya.
"Cinta kita tidak mengenal dunia," bisik Adrian ketika Alana menghampirinya.
Dan kali ini, tidak ada yang memisahkan mereka.