Pagi itu, Novi duduk di sebuah kafe kecil di sudut jalan, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Suasana kota di pagi hari biasanya membuatnya bersemangat, tapi kali ini berbeda. Pikirannya dipenuhi oleh seseorang, seseorang yang telah lama menjadi bagian penting dari hidupnya—Angga.
Angga adalah sahabat Novi sejak masa SMA. Mereka selalu bersama, tertawa, dan berbagi cerita. Waktu berlalu, dan tanpa disadari, perasaan Novi terhadap Angga berubah. Bukan lagi sekadar sahabat, tetapi lebih dari itu. Novi mulai merasakan cinta yang tulus tumbuh di hatinya. Namun, sayangnya, waktu tidak berpihak padanya.
Satu bulan yang lalu, Angga mengumumkan bahwa dia akan menikah. Novi tahu bahwa perasaannya tak mungkin terungkap. Angga sudah memiliki tunangan, dan pernikahan mereka hanya tinggal hitungan minggu.
Sambil menyesap kopinya, Novi mengingat saat-saat kebersamaannya dengan Angga. Dia tersenyum pahit ketika teringat momen-momen kecil seperti ketika Angga dengan ceria membawakannya cokelat saat mereka sedang ujian atau ketika Angga dengan sabar mendengarkannya bercerita tentang masalah-masalah yang dia hadapi di tempat kerja.
Dulu, Novi merasa bahwa dia hanya berlebihan, bahwa perasaannya hanya sebuah fase. Namun, ketika Angga mengungkapkan rencana pernikahannya, Novi baru sadar betapa besar perasaannya. Sayangnya, itu datang di waktu yang salah.
---
Hari itu, Novi dan Angga bertemu di kafe yang sama, tempat favorit mereka sejak dulu. Angga tampak berbeda kali ini—lebih bahagia dan penuh semangat. Dia bercerita tentang persiapan pernikahannya dengan Dina, wanita yang dia cintai sejak kuliah.
"Novi, kamu nggak kebayang betapa bahagianya aku sekarang. Dina orang yang sangat pengertian, dan aku nggak sabar menunggu hari pernikahan kami," kata Angga dengan senyuman lebar di wajahnya.
Novi menahan senyum. Di dalam hatinya, dia merasa hancur, tapi wajahnya tetap menampilkan ekspresi bahagia untuk sahabatnya itu. "Aku ikut senang buat kamu, Angga. Dina memang beruntung punya kamu."
Angga tertawa kecil. "Nggak kok, aku yang beruntung punya dia."
Percakapan mereka terus berlanjut, tetapi pikiran Novi mulai melayang. Di tengah kebahagiaan Angga, dia hanya bisa bertanya-tanya bagaimana jika waktu mereka berbeda. Bagaimana jika dia menyadari perasaannya lebih awal? Bagaimana jika Angga merasakan hal yang sama?
Malam itu, setelah pulang ke rumah, Novi tak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh kenangan bersama Angga, dan bagaimana kini semuanya akan berubah setelah Angga menikah. Dia sadar bahwa setelah ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi. Sahabatnya akan menjadi suami orang lain, dan ruang yang pernah dia isi di hidup Angga akan berkurang.
Novi memutuskan untuk menulis surat, sesuatu yang dia tahu tak akan pernah dia kirimkan. Surat itu adalah caranya untuk melepaskan perasaan yang selama ini dia simpan. Dengan pena di tangan, Novi mulai menulis:
"Angga, Sejak pertama kali kita bertemu, aku nggak pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan jatuh cinta sama kamu. Tapi, itu terjadi. Aku jatuh cinta bukan karena hal besar yang kamu lakukan, tapi karena hal-hal kecil yang kamu tunjukkan. Senyummu, caramu mendengarkan setiap ceritaku, bahkan kesabaranmu ketika aku marah tanpa alasan. Semua itu membuat aku sadar kalau kamu bukan hanya sahabatku, tapi seseorang yang lebih dari itu."
Novi berhenti sejenak, merasa berat melanjutkan tulisannya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Namun, aku tahu, aku mencintaimu di waktu yang salah. Kamu sudah memilih orang lain, dan aku hanya bisa merelakan. Aku tahu kita nggak akan pernah bisa bersama, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu menginginkan yang terbaik untukmu."
Novi menutup surat itu dengan air mata di matanya. Dia tahu, setelah menulis ini, dia harus mulai melepaskan Angga, meskipun itu terasa sangat sulit.
---
Beberapa hari kemudian, Novi mendapat pesan dari Angga.
"Nov, bisa ketemu sebentar di taman? Ada yang mau aku bicarain," bunyi pesan itu.
Novi merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ada perasaan gugup yang merayap di dadanya. Apa yang ingin Angga katakan? Apa mungkin Angga tahu tentang perasaannya? Dia mencoba menenangkan diri dan setuju untuk bertemu.
Di taman, Angga sudah menunggu di bangku tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Saat Novi datang, Angga tersenyum, tetapi ada sesuatu yang berbeda di tatapannya.
"Nov, aku cuma mau bilang terima kasih. Terima kasih buat semua yang kamu lakukan selama ini. Kamu sahabat terbaik yang aku punya," kata Angga sambil menatapnya dalam-dalam.
Novi tersenyum, meskipun hatinya terasa perih. "Aku juga berterima kasih, Angga. Kamu juga sahabat terbaik yang pernah aku punya."
Angga terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Novi, aku tahu akhir-akhir ini kamu kelihatan agak berbeda. Ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
Jantung Novi berdegup kencang. Apakah saatnya dia harus jujur? Tapi, apa gunanya? Angga sudah akan menikah. Mengungkapkan perasaannya hanya akan memperumit segalanya. Namun, dia tak bisa lagi menahan apa yang dia rasakan.
"Angga, aku..." Novi terdiam, merasa suaranya tertahan. Dia menatap Angga yang sedang menunggunya melanjutkan.
"Aku cuma ingin kamu bahagia," kata Novi akhirnya. Itu adalah satu-satunya hal yang dia bisa katakan. Dia tidak bisa, atau mungkin tidak mau, mengakui perasaannya. Terlalu terlambat.
Angga tersenyum dan menggenggam tangan Novi sejenak. "Terima kasih, Nov. Kamu juga harus bahagia, ya. Aku selalu mendukungmu, apapun yang terjadi."
Novi hanya bisa mengangguk. Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat, menikmati suasana taman yang tenang, seolah tak ingin momen ini berakhir. Dalam hatinya, Novi tahu bahwa ini adalah akhir dari babak hidupnya bersama Angga. Cinta yang datang di waktu yang salah harus dia simpan sendiri.
---
Hari pernikahan Angga akhirnya tiba. Novi hadir sebagai tamu, dengan senyum yang terus dia paksakan sepanjang acara. Saat melihat Angga dan Dina di pelaminan, tersenyum bahagia, Novi menyadari satu hal—cinta tidak selalu harus memiliki. Terkadang, cinta berarti melepaskan orang yang kita cintai agar mereka bisa bahagia, meskipun itu berarti kita harus mengorbankan perasaan kita sendiri.
Saat acara berakhir, Novi memutuskan untuk pergi lebih awal. Dia tahu ini bukan lagi tempatnya. Di luar gedung, dia berhenti sejenak, menatap langit sore yang cerah.
"Cinta di waktu yang salah," gumamnya pelan. "Tapi setidaknya, aku pernah merasakan apa itu cinta, meskipun hanya untuk sementara."
Novi menarik napas dalam-dalam dan tersenyum. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan cinta yang datang di waktu yang tepat. Tapi untuk saat ini, dia belajar menerima kenyataan dan melanjutkan hidup, meskipun itu berarti meninggalkan bagian dari hatinya bersama Angga.
Novi melangkah pergi, membawa kenangan dan harapan baru. Sebab, meski cinta di waktu yang salah terasa menyakitkan, hidup harus terus berjalan.