Di negeri Eldwyn, di sebuah desa terpencil bernama Mirhaven, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Ardyn. Sejak lahir, dia dianggap membawa kutukan. Pada malam kelahirannya, langit yang seharusnya cerah berubah menjadi hitam pekat, dan badai besar melanda desa. Penduduk desa percaya bahwa Ardyn adalah penyebabnya.
Ardyn tumbuh terasing. Anak-anak seumurannya menghindarinya, sementara orang dewasa berbisik tentangnya di belakang punggungnya. Yang paling mencolok adalah tanda hitam berbentuk spiral di tangan kanannya, yang bersinar samar-samar di malam hari. Tidak ada yang tahu asal-usul tanda itu, tapi para tetua desa menyebutnya sebagai Tanda Bayangan—sesuatu yang konon membawa malapetaka.
Meski dikucilkan, Ardyn tidak pernah menyerah pada keputusasaan. Dia sering menghabiskan waktu sendirian di hutan, berbicara dengan burung dan binatang liar, yang seolah mengerti perasaannya. Suatu hari, ketika sedang berjalan di dekat sebuah gua tua, dia mendengar suara pelan seperti bisikan.
"Kemarilah, Ardyn..."
Dia merasa merinding, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Di dalam gua, dia menemukan sebuah altar kuno dengan sebuah buku besar yang terbuka. Tulisan di dalamnya bersinar samar, seperti tanda di tangannya.
"Kau bukan kutukan," bisik suara itu lagi. "Kau adalah penjaga keseimbangan."
Ardyn membaca tulisan itu, yang menceritakan kisah tentang seorang penjaga yang ditakdirkan untuk menyegel kegelapan yang suatu hari akan bangkit. Tanda di tangannya adalah kunci untuk mengaktifkan kekuatan kuno yang hanya muncul ketika dunia berada di ambang kehancuran.
Meski bingung, Ardyn merasa seolah takdirnya mulai jelas. Namun, sebelum dia sempat memahami semuanya, desa Mirhaven diserang oleh makhluk-makhluk bayangan yang berasal dari Hutan Gelap. Mereka muncul seperti kabut hitam, menyerap cahaya dan meninggalkan kehancuran di belakang mereka.
Penduduk desa, yang sebelumnya memusuhi Ardyn, hanya bisa pasrah. Mereka percaya ini adalah akibat dari "kutukan" anak itu. Namun, Ardyn tidak mundur. Dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk membuktikan bahwa dirinya bukan kutukan.
Dengan keberanian yang baru ditemukan, Ardyn menghadapi makhluk-makhluk itu. Ketika dia mengangkat tangan kanannya, tanda spiralnya bersinar terang, memancarkan cahaya yang membuat bayangan-bayangan itu mundur. Dari altar di gua, dia telah mempelajari mantra kuno yang hanya bisa digunakan oleh penjaga seperti dirinya.
Namun, cahaya itu tidak cukup untuk mengalahkan mereka semua. Ardyn menyadari bahwa untuk benar-benar menghentikan kegelapan, dia harus memanfaatkan kekuatan penuh tanda itu, meski risikonya besar.
Dia berdiri di tengah alun-alun desa, mengangkat kedua tangannya, dan mulai melafalkan mantra terakhir dari buku itu. Cahaya dari tanda di tangannya semakin kuat, melingkupi seluruh tubuhnya. Dalam kilatan terang, makhluk-makhluk bayangan itu lenyap, tapi tubuh Ardyn jatuh tak sadarkan diri.
Ketika dia bangun, dia mendapati penduduk desa berdiri mengelilinginya. Namun kali ini, mereka tidak memandangnya dengan ketakutan atau kebencian. Sebaliknya, mereka menangis dan berterima kasih. Mereka akhirnya mengerti bahwa Ardyn bukanlah kutukan, melainkan pelindung mereka.
Sejak hari itu, Ardyn tidak lagi hidup sebagai orang buangan. Dia menjadi penjaga desa, seorang pahlawan yang dihormati. Namun, dalam hatinya, dia tahu bahwa tugasnya belum selesai. Kegelapan masih ada di dunia, dan suatu hari dia harus menghadapinya lagi.
Tapi kali ini, dia tidak sendirian. Penduduk desa, yang dulu membencinya, kini berdiri di sisinya, siap membantu sang "Anak Penjaga Cahaya."
Selesai---