Lusi adalah wanita yang berpacaran dengan seseorang yang dikenal melalui dunia medsos. Menjalin hubungan berpacaran selalu terhenti di tengah harapan yang indah.
Lusi dan Dim sangat dekat dan berjalan hingga 7 bulan. Panggilan sayang di tempat umum dan medsos adalah Abi dan Ummi. Setiap malam selalu sleep call. Sleep call selalu berakhir di waktu subuh.
"Ummi, Ummi bangun... shalat subuh dulu. Nanti tidurnya di lanjut setelah shalat" suara Dim lewat telepon.
"Eh, Abi.. maaf ya kalau aku ketiduran." Jawab Lusi di telepon.
"Ummi nyenyak tidur banget, Suara mendengkurnya sampai kedengaran dari sini. Semalam sampai ku bacakan yasin" ucap Dim.
"Parah banget Abi..." Ujar Lusi dengan nada yang manja di telepon.
Keduanya langsung saling menutup telepon. Waktu terus berjalan dan terlihat seperti biasa.
Namun suatu hari Lusi mendapatkan informasi dari sahabatnya yang bernama Aya. "Lusi, semalam pacar mu Dim ngajakin aku nikah di KUA" kata Aya.
"Seriusan kah Ay? Tapi aku dan Dim udah 7 bulan berpacaran. Bahkan tiap mau tidur pun selalu sleep call" jawab Lusi dengan nada yang tidak percaya dan seketika meneteskan air mata.
Tak lama kemudian Dim muncul dan Lusi menanyakan langsung tentang yang dikatakan oleh Aya sambil menangis. Dim pun langsung menjawab, "aku hanya bercanda aja Ummi, percaya sama Abi. Di hati ku cuma Ummi satu-satunya." Jawab Dim dengan meyakinkan.
Beberapa hari kemudian Lusi mendengar Dim memanggil "Sayang" pada wanita lain. Lusi berharap bahwa hanya salah dengar aja. "Abi... Dia siapa? Kenapa kau memanggilnya dengan kata sayang?" Ucap Lusi dengan nada tenang.
"Kamu siapa ya?!" Tanya wanita tersebut pada Lusi.
"Aku Lusi pacar Dim. Yang seharusnya tanya itu aku. Ada hubungan apa dengan Dim?" Tanya Lusi penasaran.
"Dim gak pernah bilang apapun tentang mu, bahkan dia bilang gak punya pacar. Jadi jangan ngaku-ngaku pacarnya Dim. Kamu cuma mau jadi pelakor! Dasar pelakor! Dim aja yang bilang kalau kamu yang selalu ngejar dia." Ucap wanita tersebut dengan menghina.
Lusi pun langsung menangis dan marah pada Dim. "Kau telah menyakiti perasaan ku, dan aku pastikan bahwa hubungan mu dengan nya tidak akan pernah lama. Mulai sekarang dan seterusnya kita tidak akan pernah ada komunikasi." Ucap Lusi.
"Ingat, ya! Nita dan Dim akan selalu bersama hingga akhir hayat nanti." Ucap wanita tersebut pada Lusi.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Ku pastikan kau akan menangis karenanya. Dan kau pasti putus dengan nya sebelum pernikahan. Jika Tuhan mengizinkan, aku akan melihat tetesan air mata yang mengalir dari mu." Ujar Lusi dengan tenang memberikan peringatan.
Dim tak dapat berkata-kata saat Lusi memutuskan hubungan. Dia hanya menatap Lusi dan Nita yang berdebat. Dim pun menghela nafas panjang akhirnya berbicara. "Kau akan menyesal dengan ucapan mu." Ucap Dim pada Lusi.
Lusi mengangguk dan menantang. "Aku tak akan pernah menyesal. Tapi justru kau yang akan menyesal karena kau telah menyia-nyiakan wanita yang telah tulus padamu." Jawab Lusi.
Lusi pun langsung pergi meninggalkan Dim dan Nita. Tetap terlihat tenang meski hati sangatlah rapuh dan putus asa. Lusi menuju ke tempat biasa menyendiri. Tepatnya berada di pinggiran sebuah air terjun. Tempat yang sangat sepi tanpa penghuni.
Lusi menangis dan berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan emosi tanpa ada yang mendengar. Hanya ada pepohonan rimbun dan suara air terjun yang deras.
"gimana caranya menjadi orang yang tidak punya perasaan? gimana cara untuk menjadi jahat? gimana cara menjadi egois? aku capek... dunia tak bersahabat, Awanan kelam kerap menghantui. kebaikan justru dimanfaatkan oleh orang.. ketulusan dibalas pengkhianatan.." teriakan Lusi yang penuh emosi.
Lusi pun diam sejenak dan akhirnya kembali berteriak. "Tuhan... bukankah cinta itu anugerah? Bila nanti sang cinta hanya membuat ku terluka aku ingin cinta di hukum mati." Ucap Lusi sambil menangis.
Tak lama kemudian Lusi kembali ke rumah. Melepaskan kartu ponsel dan ganti nomer. Lusi berbicara dengan dirinya sendiri.
"Janganlah menangis untuk sesuatu hal sia-sia, Simpanlah air mata kesedihan untuk menjadi air kebahagiaan kelak.. good bye era peduli, welcome era bodo amat. sekarang aku bakal memperlakukan seseorang sebagaimana aku diperlakukan. kalau dicuekin, cuekin balik. kalau peduli, balas peduli juga. gak mau berlebihan kayak dulu lagi." ucap Lusi pada diri sendiri.
Lusi pun langsung bertekad untuk segera move up. Karena jika move on hanya berpindah hati. Namun jika move up memasrahkan diri pada Tuhan untuk yang terbaik.