Dwi baru saja pindah ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Rumah itu tampak kokoh meski sudah berusia puluhan tahun, dengan halaman yang luas dan pohon-pohon besar yang memberikan kesan misterius. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa cemas setiap kali melihatnya—sebuah makam kecil yang terletak di samping rumah.
Makam itu tampak sudah lama tidak dirawat. Batu nisan yang terbuat dari batu hitam itu tertutup lumut, dan di sekelilingnya tumbuh rumput liar yang tinggi. Dwi sering kali melintasi makam itu saat menuju ke halaman belakang. Meskipun sering merasa gelisah, dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, menganggapnya sebagai bagian dari sejarah lama rumah tersebut.
Namun, malam itu, perasaan aneh menghinggapinya. Dwi sedang duduk di ruang tamu, menikmati secangkir kopi, ketika dia mendengar suara aneh dari luar. Suara gemerisik, seperti ada yang berjalan di halaman. Dwi merasa hatinya berdegup kencang. Dia memutuskan untuk membuka tirai dan melihat ke luar.
Di luar, di samping rumah, dia melihat bayangan yang bergerak di sekitar makam. Bayangan itu samar, seperti sosok yang berjalan pelan. Dwi merasa seperti ada seseorang yang berdiri di sana, menatapnya. Ketakutan mulai menguasainya, namun dia memutuskan untuk tidak keluar dan mengabaikan suara itu.
Malam berikutnya, suara itu kembali terdengar, lebih jelas kali ini. Seperti langkah kaki yang berat dan pelan, disusul dengan suara erangan samar. Dwi merasa takut, namun rasa penasaran lebih besar. Dia mengambil senter dan memutuskan untuk memeriksa makam itu. Saat melangkah keluar rumah, udara malam terasa dingin, dan angin berhembus dengan kencang, menggoyangkan dedaunan.
Ketika Dwi sampai di samping makam, dia melihat sesuatu yang mengejutkan. Batu nisan itu sepertinya bergerak sedikit, meskipun tak ada angin yang bisa menjelaskan hal itu. Tanpa berpikir panjang, Dwi menyorotkan senter ke sekitar makam, berharap bisa melihat apa yang terjadi. Namun, di balik batu nisan, dia melihat sebuah tangan yang muncul perlahan dari dalam tanah—tangan pucat dan berlumuran tanah.
Dwi terkejut, tubuhnya seakan membeku. Tangan itu bergerak, diikuti dengan suara berdesir yang semakin keras, seperti tanah yang digali. Dwi mundur beberapa langkah, hampir terjatuh, ketika sosok itu muncul sepenuhnya dari dalam makam. Sosok itu adalah seorang pria berpakaian lusuh, wajahnya tertutup oleh rambut panjang yang kusut, dengan mata yang kosong dan tubuh yang pucat, hampir tidak tampak hidup.
Sosok itu menatap Dwi dengan tatapan kosong, dan kemudian berkata dengan suara yang serak, "Aku tidak pernah pergi."
Dwi hampir tidak bisa bernapas, kakinya terasa lemas. Sosok itu mulai melangkah menuju dirinya, setiap langkahnya meninggalkan jejak tanah basah yang berbau busuk. "Tolong... tinggalkan tempat ini," suara Dwi terhenti di tenggorokannya.
Namun, sosok itu tidak mendengar. Ia semakin mendekat, dan Dwi bisa merasakan udara sekitar menjadi semakin berat. Tiba-tiba, saat sosok itu berada hanya beberapa langkah darinya, terdengar suara keras seperti sesuatu yang jatuh dari atas.
Dwi menoleh, dan saat itu, sebuah batu besar yang tergeletak di samping makam jatuh tepat di depan sosok itu, membuatnya terhenti. Sosok itu menoleh ke batu tersebut, lalu kembali menatap Dwi dengan tatapan yang penuh kebencian. Sebelum Dwi bisa melangkah mundur, sosok itu menghilang begitu saja, tertelan kegelapan malam.
Dwi berlari kembali ke dalam rumah, memeriksa jendela dan mengunci pintu rapat-rapat. Namun, sejak malam itu, dia tak pernah lagi bisa tidur nyenyak. Suara langkah kaki dan erangan samar selalu terdengar dari luar rumah, dan makam di samping rumah itu selalu tampak lebih dekat, seolah siap menunggu penghuni baru.
Dwi akhirnya memutuskan untuk menjual rumah itu. Tetapi, setiap kali seseorang baru pindah ke rumah itu, mereka selalu kembali dengan cerita yang sama—tentang suara misterius di samping rumah, dan sosok yang tidak pernah pergi dari makam di sana.