Malam itu hujan deras mengguyur desa kecil di kaki bukit. Aira, seorang gadis muda, baru saja pindah ke rumah tua peninggalan keluarganya. Rumah itu berdiri kokoh, meski sudah tua, dengan sebuah cermin besar di ruang tamu yang konon katanya tidak pernah boleh dipindahkan.
Aira mengabaikan cerita itu. "Hanya mitos," pikirnya. Malam pertama, saat ia sedang membaca di ruang tamu, suara aneh terdengar dari arah cermin. Ia menoleh, tapi hanya melihat bayangan dirinya sendiri. Namun, ada sesuatu yang aneh. Bayangan itu tidak mengikuti gerakannya.
Aira mendekat, jantungnya berdegup kencang. Bayangan di cermin tersenyum kepadanya, meskipun ia sendiri tidak tersenyum. Seketika lampu berkedip-kedip. Aira mundur ketakutan.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Namun, bayangan di cermin mulai bergerak sendiri, menjulurkan tangan ke permukaan cermin seolah ingin keluar.
Aira berteriak, lalu berlari ke kamarnya. Malam itu ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.
Esok paginya, ia memutuskan untuk menutup cermin itu dengan kain. Tapi, saat hendak mendekatinya, ia menemukan sebuah pesan yang tertulis dengan jari di permukaan kaca:
"Jangan coba-coba mengusirku."
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk. Setiap malam, suara langkah kaki terdengar di rumah, meski tidak ada siapa-siapa. Suara bisikan memanggil namanya dari balik cermin. Aira mulai kehilangan akal.
Akhirnya, ia memanggil seorang dukun untuk mengusir makhluk itu. Dukun tersebut menatap cermin dengan wajah tegang. "Ini bukan cermin biasa. Ini pintu. Dan dia sudah lama terkurung di sana."
Namun, sebelum ritual selesai, cermin itu pecah dengan suara keras, menghempaskan semua orang di ruangan. Dari pecahan cermin, bayangan hitam melesat keluar, tertawa menyeramkan.
Kini, rumah itu kosong. Aira menghilang tanpa jejak. Orang-orang desa hanya berani berbisik, "Jangan pernah menatap cermin itu terlalu lama. Siapa tahu, bayanganmu bukan hanya milikmu."