“Apa warna favorit Mama?” tanya Kevin padaku saat kami berjalan masuk ke dalam toko pakaian mahal itu. Aku memandang berkeliling tapi pikiranku melayang-layang ke tempat lain.
Aku jadi teringat pada pertengkaran-pertengkaran kecilku dengan Naomi mengenai hal-hal tidak penting dalam kehidupan kami sehari-hari. Istriku itu adalah seorang wanita yang cerdas dan perfeksionis. Kemampuan multi-tasking-nya selalu membuatku terkagum-kagum melihatnya. Selalu saja ada hal yang membuatnya berdecak tidak puas atau menggelengkan kepalanya saat aku melakukan sebuah kesalahan.
Belum lagi kemampuannya bermain sarkasme dengan begitu lihai dan tepat sasaran yang sering kali dilakukannya padaku untuk memaksaku memahami apa yang sedang diributkannya. Lidah istriku itu jauh lebih tajam dari pada pedang paling tajam di dunia ini. Aku sudah merasakan sayatannya selama bertahun-tahun.
“Mark, kau tahu kan kalau kaos kakimu tidak bisa terbang sendiri ke dalam keranjang pakaian kotor?” tukasnya suatu malam saat aku sedang duduk menonton TV sambil menikmati secangkir cokelat panas. Udaranya dingin sekali malam itu dengan hujan badai yang mendera di luar.
“Oh, ya. Kau benar. Maafkan aku sayang. Aku akan membereskannya sebentar lagi.” jawabku masih dengan pandangan terpaku pada layar televisi yang sedang menampilkan acara kuis favoritku.
Tapi baik Naomi maupun aku kami berdua sama-sama tahu bahwa aku tidak akan melakukannya. Karena aku begitu pelupa.
Jadi istriku itu hanya bisa berdecak-decak putus asa sambil menggelengkan kepalanya dan memungut kaos kaki yang telah kutanggalkan dan kubiarkan berhamburan begitu saja di lantai saat masuk ke rumah tadi.
Di suatu minggu pagi yang cerah, seperti biasa kami memutuskan untuk tinggal di rumah dan bermalas-malasan. Saat jam makan siang hampir tiba, aku mendengar Naomi berseru memanggilku dari dalam dapur.
“Mark? Di mana jahe yang aku suruh kau beli tiga hari yang lalu?”
Aku sedang mengecat kembali dinding-dinding ruang tamu sambil merokok, tak terlalu memperhatikan kata-katanya.
Aku berusaha mengingat-ingat apa aku saat itu sudah membeli jahe yang dimintanya atau tidak.
“Oh ya. Aku sudah menaruhnya di dalam kulkas.” jawabku sekenanya. “Ada di dalam kantung plastik.”
Terdengar suara berisik saat Naomi mulai membongkar seluruh isi kulkas untuk menemukan apa yang sedang dicarinya. Tapi tak lama kemudian dia kembali berseru memanggil namaku. Kali ini nada suaranya sedikit meninggi dan dia terdengar kesal.
“Mark, jahenya tidak ada. Dimana kau menaruhnya?”
Aku menggaruk-garuk kepala dengan bingung. Seingatku aku telah menaruhnya di dalam kulkas.
“Masak tidak ada sih?” kataku sambil berjalan masuk ke dalam dapur dan menghampiri dirinya yang sedang berdiri di depan kulkas sambil bertolak pinggang. Ekspresi wajahnya tampak tidak sabaran. Ada beberapa bungkusan plastik makanan dan bumbu-bumbu yang telah dijejalkannya di atas meja.
“Aku sudah menaruhnya di kulkas, kok.” kataku sambil membungkukkan badan lalu mulai memeriksa ke laci yang paling bawah. “Ah ini dia.” seruku saat menemukannya. Aku memberikan bungkusan itu padanya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan heran. “Bagaimana sih kau ini? Jahenya ada di depan matamu masak kau tidak lihat?” omelku.
“Kau pikir kau lucu ya?” bentak Naomi dengan kesal. Dia membuka bungkusan tersebut dan mendekatkannya ke wajahku.
“Apa maksudmu? Kau sedang mencari jahe kan?” aku menunjuk ke dalam bungkusannya.
“Oh, ya Tuhan, Mark. Aku menyuruhmu membeli jahe, bukannya lengkuas. Apa kau sama sekali tidak bisa membedakannya? Kau ini buta atau apa?” semprotnya sambil melemparkan bungkusan itu ke atas meja dengan putus asa.
“Oh, maafkan aku, sayang.” Aku menepuk jidat dan akhirnya teringat pada kesulitan yang ku hadapi di supermarket saat membeli jahe. “Keduanya tampak sama dimataku. Aku memang tidak bisa membedakannya.”
“Apa kau perlu mengikuti kursus khusus untuk membedakan berbagai macam bumbu-bumbu dapur, sayang?” ujarnya tersenyum dengan sarkasme yang menusuk tajam dan kebrutalan yang tidak seharusnya ada.
“Eh, memangnya ada kursus macam itu?”
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. “Kalau begitu masakan Indianya batal. Kita pesan makanan di luar saja kalau begitu. Aku sudah kehilangan nafsu untuk memasak sekarang.” dia berjalan meninggalkanku seorang diri di dapur, dengan isi kulkas yang berhamburan di meja makan.
Sepanjang sisa hari itu dia sama sekali tidak berbicara denganku.
Di ulang tahun pernikahan kami yang ke-3, saat itu aku harus bepergian ke New York karena ada urusan pekerjaan penting yang harus kuselesaikan. Aku berjanji pada Naomi kalau aku akan membelikannya jaket mahal yang telah lama diidam-idamkannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami.
“Beli yang warna cyan ya! Jangan sampai salah!” peringatnya padaku di telepon berulang-ulang.
“Tentu saja sayang. Kau tidak usah kuatir.” Aku memutar-mutar bola mata dengan kesal karena harus meminta izin meninggalkan rapat sebentar untuk menjawab serangan teleponnya yang bertubi-tubi.
“Awas saja kalau kau salah beli!” ancamnya. Aku tahu kalau cyan adalah warna favoritnya.
Saat akhirnya dia membuka bungkusan berisi jaket tersebut sepulangnya aku di rumah, bukannya tersenyum bahagia dan memelukku, dia malah langsung memberengut kesal lalu mulai menangis dan melemparkan jaket itu ke lantai serta membanting tubuhnya ke atas ranjang dan membenamkan wajah di bantal.
“Sayang? Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyaku bingung bercampur terkejut luar biasa sambil memungut jaket itu kembali.
“Kau kan sudah kuberitahu ulang-ulang. Jangan salah!” dia memutar tubuh untuk menatapku dengan wajah merah dan basah oleh air mata.
“Apa yang salah? Ini jaket yang kau inginkan, bukan? Warnanya juga cocok. Cyan. Lalu apa masalahnya?”
Dia menggelengkan kepala putus asa bercampur kesal luar biasa.
“Matamu sudah buta atau kau ini buta warna? Itu bukan cyan. Itu turquoise!” lalu dia kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal dan terisak-isak dengan bahu berguncang.
“Tapi… tapi… apa bedanya? Toh keduanya sama-sama warna biru. Lagi pula aku tak melihat ada perbedaan. Kedua warna itu tampak sama saja bagiku. Orang-orang tidak akan tahu persis perbedaannya.”
“Kau sudah gila???? Tentu saja cyan dan turquoise itu sangat jauh berbeda. Lain kali tanya kalau kau tidak tahu.”
Aku hanya bisa mengangkat kedua tangan tak tahu harus berkata atau berbuat apa padanya.
“Perlu kalian para wanita ketahui ya. Riset ilmiah telah membuktikan kalau wanita memiliki kecenderungan untuk membedakan lebih banyak rona warna dibandingkan pria. Jadi jangan pernah memulai pertengkaran dengan kami hanya karena kami membelikanmu gaun dengan warna yang salah. Di mata kami pink dan fuchsia tampak sama saja. Cerulean dan biru mangan adalah warna yang sama. Begitu juga cyan dan turquoise.”
“Peduli amat dengan fakta tidak pentingmu itu!” teriaknya lalu melemparkan bantalnya ke arahku.
Jadi aku merasa kemarahan Naomi karena aku telah membeli jaket mahal seharga ratusan dolar dengan warna yang salah adalah sebuah masalah yang terlalu dibesar-besarkan saja.
Tapi aku hanya bisa menggertakkan gigi menahan marah karena enam bulan setelah membelinya, jaket sialan itu masih menggantung di dalam lemari dengan sabar dan muram. Naomi selalu melirik jaket itu dengan tampang masam setiap kali dia membuka lemari seakan-akan benda itu telah menyinggung perasaannya secara pribadi.
Semalam setelah hari itu, saat kami baru saja selesai makan malam berdua, aku langsung bangkit dari meja makan dan sudah bersiap-siap masuk ke dalam ruang makan untuk menonton TV saat aku mendapati Naomi sedang memelototiku.
“Ya?” seruku.
“Kau lupa tongkat sihirmu!”
“Maksudmu?”
“Ya. Tongkat Sihirmu. Supaya kau bisa menyihir piring-piring dan gelas-gelas kotor ini terbang dan melayang dengan sendirinya ke wastafel supaya aku bisa mencucinya. Halo?”
Aku menatapnya dengan kesal. Cerewet sekali wanita ini.
Aku mulai memunguti piring-piring kotor sambil menggerutu seperti anak kecil sementara dia membereskan sisa-sisa makanan. Ya ya ya aku tahu kalau dia sudah sering mengingatkanku untuk tidak menaruh sepatu dan kaos kakiku sembarangan atau membantunya membereskan meja makan tapi terkadang pikiranku sedang dipenuhi oleh berbagai macam urusan pekerjaan di kantor dan aku hanya ingin segera menghabiskan makanan dan segera menyerbu televisi di ruang tengah.
Beberapa tahun kemudian, saat anak pertama kami Kevin masih berumur sekitar satu tahun, kami sudah sepakat bahwa saat aku libur aku akan membantunya mengurusi Kevin sementara dia melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Tapi entah mengapa putra kami selalu menangis setiap kali ibunya meninggalkan kami berdua.
Dia akan mulai berteriak-teriak menangis setiap kali Naomi keluar dari kamar. Tak peduli apa pun yang kulakukan untuk membuatnya tertawa semuanya tidak akan berhasil.
“Mark, tolong ajak dia bermain. Aku harus menyiapkan makan siang.” seru istriku dari dalam dapur.
“Ya, aku sedang berusaha di sini.” jawabku sambil menggendong Kevin dan mengayun-ayunkan tubuhnya ke sana ke mari.
Tapi dia masih terus menangis. Beberapa saat kemudian, setelah Naomi selesai memasak dan memanggilku ke dalam ruang makan, aku melangkah gontai mendekatinya dengan tubuh bermandikan keringat, air mata dan muntahan susu.
“Tolong gendong anak ini sebentar.” Aku mendesah dan memberikan Kevin yang sudah tertidur lelap karena capek menangis padanya. “Kurasa gendang telingaku pecah.”
“Tunggu sampai anak kedua mu lahir kalau begitu. Mungkin kepalamu yang akan pecah. Supaya aku tidak perlu repot-repot mengurusmu juga.” Dia berdecak-decak dan mendelik penuh cela padaku sambil menciumi Kevin dan tersenyum melihat putra kami itu yang terlelap dalam gendongannya.
Di tahun ke empat Kevin di sekolah dasar, kami memulai sebuah ritual piknik keluarga di mana kami akan menghabiskan waktu camping bersama di tepi danau yang jaraknya beberapa puluh kilometer dari rumah.
Pagi itu kami bangun lebih awal karena harus berisap-siap menempuh perjalanan yang jauh dan ingin tiba di tempat tujuan sebelum matahari terbenam.
“Mark, apa yang kau lakukan?” seru Naomi sambil memelototiku yang sedang membungkuk di halaman depan berusaha memperbaiki mesin pemotong rumput yang sudah macet selama berminggu-minggu.
“Membereskan benda rongsokan ini.”
“Ya ampun. Setelah berminggu-minggu aku mengingatkanmu untuk melakukannya, dan sekarang kau memilih untuk melakukannya hari ini saat kita akan bepergian jauh. Kenapa kau tidak sekalian juga mengecet seluruh rumah saja kalau begitu” celanya masih dalam balutan gaun tidur.
“Ini cuma sebentar kok.” jawabku.
“Anak-anak! Kalian tidak perlu membawa Play Station-nya. Kita tidak akan menghabiskan waktu bermain game di tepi danau.” hardiknya pada kedua putra kami Kevin dan Gerry yang sudah mengendap-endap ke ruang tengah untuk mengambil Play Station mereka dan menyelundupkannya ke dalam ransel mereka tanpa sepengetahuan ibu mereka.
Sejam kemudian aku sudah siap di dalam mobil bersama anak-anak sementara Naomi masih berada di dalam rumah entah melakukan apa.
“Mama! Cepatlah! Sudah hampir siang!” Kevin menjulurkan kepalanya keluar mobil memanggil ibunya.
“Ngapain sih ibu kalian itu? Kevin masuk ke dalam dan suruh ibumu bergegas.” tukasku tidak sabaran. “Gerry jangan sentuh pemutar mobilnya.”
Sepuluh menit kemudian Naomi berjalan keluar dari rumah dan setelah mengunci pintunya dan menggemboknya dia lalu masuk ke dalam mobil.
“Ngapain sih di dalam lama sekali?” aku memberengut.
“Oh maaf, Mark. Kalian tersiksa sekali ya menungguku di luar sini. Harus ada seseorang yang mengepak seluruh pakaian tiap anggota keluarga ini untuk piknik selama tiga hari kan? Lalu harus ada seseorang yang memastikan kotak-kotak sampah di dalam rumah kosong dan membuang isinya ke bak sampah di halaman belakang karena kita tidak ingin rumah kita dipenuhi semut, kecoak, tikus dan hewan-hewan menjijikkan lainnya saat kita pulang nanti kan?” jawab Naomi sambil tersenyum menyeringai.
“Ewww, aku benci kecoak!” ujar Gerry.
“Terus, harus ada yang memastikan semua alat-alat elektronik tidak dalam keadaan menyala dan mencabut kabel-kabelnya juga kan?” sambung Naomi. “Lalu harus ada seseorang yang menelepon tetangga sebelah rumah untuk meminta tolong supaya mereka melihat-lihat rumah kita saat kita bepergian jauh kan? Oh, tunggu masih ada lagi. Harus ada seseorang yang menelepon orang tuaku dan orang tuamu untuk memberitahu mereka kalau kita sedang bepergian ke danau selama berhari-hari kan? Dan hei… coba tebak siapa orang yang harus melakukan semua itu seorang diri?” ujarnya dengan nada suaranya yang paling merdu dan manis, membuatku tak berkutik.
Benar kan? Istriku itu selalu benar.
“Ya sudah kalau begitu. Sebaiknya kita bergegas kalau tidak ingin keburu malam."
“Tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
“Kompornya sudah aku matikan belum ya…” dan setelah berkata demikian dia langsung melompat keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam rumah untuk memeriksa, membuatku merasa begitu dongkol setengah mati.
Istriku itu memang cerewet dan banyak maunya. Dan yaaaa. Dia SELALU BENAR. Terkadang aku tidak habis pikir kenapa aku bisa begitu betah hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Walaupun jauh di dalam hatiku sendiri aku tahu bahwa dia hampir selalu benar dengan perkataannya. Aku memang orang yang sangat ceroboh dan pelupa. Tapi egoku sebagai laki-laki cenderung membuatku merasa gengsi untuk mengakuinya.
“Papa? Apa papa mendengarku?” suara Kevin membuyarkan lamunanku.
“Oh. Maaf. Papa tadi tidak memperhatikan. Coba ulangi pertanyaanmu.” Aku menoleh memandang wajah putraku yang balas menatapku dengan ekspresi sedih di wajahnya. Rasanya baru kemarin saat dia masih menangis menjerit-jerit dalam pelukanku sementara aku berusaha menenangkannya.
Dia meremas tanganku dengan lembut lalu memelukku.
“Papa baik-baik saja?”
Aku tidak menjawab selama beberapa saat. Tapi kemudian aku menganggukkan kepala sambil tersenyum padanya.
“Tentu saja papa tidak akan pernah lupa. Warna favorit ibumu cyan.” tukasku. Dia balas tersenyum. Kemudian sambil menggandeng tanganku, kami berjalan masuk dan mulai berkeliling mencari apa yang sedang kami butuhkan.
“Baiklah, papa cari dulu bajunya dan aku akan ke bagian pakaian pria. Nanti kita bertemu lagi di sini, ok?” ujar Kevin.
Aku lalu mulai berkeliling mencari-cari baju dengan warna cyan yang akan tampak paling indah dikenakan oleh Naomi untuk terakhir kalinya.
Istriku meninggal dua hari yang lalu setelah berjuang melawan kanker selama bertahun-tahun. Pada akhirnya perjuangannya harus berakhir dan dokter menyarankan untuk membawanya pulang supaya dia dikelilingi oleh keluarga yang sangat disayanginya di rumah yang telah begitu dirindukannya setelah tinggal di rumah sakit selama berbulan-bulan.
Aku menangis selama berjam-jam saat kami membawa tubuh kaku Naomi ke rumah duka di mana dia akan disemayamkan sebelum dimakamkan.
Tapi aku harus tetap tampak tegar bagi kedua putra kami.
Jadi saat petugas rumah duka menanyakan pakaian apa yang ingin kami kenakan pada jasad Naomi, aku langsung mengambil inisiatif untuk mencarikannya sendiri dan Kevin menawarkan diri untuk menemaniku sementara Gerry adiknya berjaga di rumah duka untuk menyambut para pelayat yang datang untuk menyampaikan rasa hormat mereka yang terakhir pada Naomi. Aku ingin memberikan pakaian yang terbaik pada istriku untuk terakhir kalinya.
Di saat-saat seperti ini aku menyadari bahwa aku sangat merindukan omelan-omelan Naomi yang dulu terkadang membuatku merasa dongkol. Karena aku menyadari bahwa dibalik semua ucapan-ucapannya yang terkadang sinis dan sifat cerewetnya itu, dia sangat peduli dan sayang padaku.
Ada hari-hari di mana aku kembali lupa dan membiarkan kaos kaki dan sepatu serta pakaianku berhamburan begitu saja di lantai dan dia tak akan mengomeliku sama sekali. Dan saat itu aku sedang mengalami masalah yang sangat berat di kantor. Dan dia mengerti. Jadi dia mulai memunguti semuanya satu persatu tanpa suara dan menawarkan diri untuk membuatkanku segelas susu hangat.
Setelah makan malam tak ada komentar sinis mengenai aku yang melupakan tongkat sihir dan semacamnya. Dia membiarkanku masuk ke ruang televisi untuk menenangkan diri sementara dia membereskan meja makan seorang diri.
Namun sekarang aku sangat merindukan semua omelan-omelannya. Kanker itu telah membuat tubuhnya sedemikian rapuh dan lemah sehingga dia bahkan tak punya sisa kekuatan lagi untuk sekedar memberengut padaku setiap kali aku melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
Aku tahu dia mencintaiku dengan caranya sendiri. Dan aku sangat menghargainya lebih dari apa pun juga.
Setibanya kembali di rumah duka, aku dan Kevin langsung bergegas menuju ke ruang khusus di bagian belakang di mana mereka memakaikan pakaian dan merias wajah jenazah sebelum menaruhnya ke dalam peti.
Saat Kevin membuka kantung belanjaan kami, dia terkesiap dan langsung memandangku dengan mata melotot.
“Papa! Baju ini kan bukan warna cyan! Ini turquoise! Kenapa papa bisa salah beli?” dia menepuk jidatnya dengan gusar. “Harusnya tadi papa bertanya padaku.”
Aku menatapnya dengan kening berkerut. Anak ini sama saja dengan ibunya.
“Oh kedua warna itu tampak sama saja bagiku.” Aku mengayunkan tangan tidak menghiraukan.
“Tapi cyan itu kan warna favorit mama.“ wajahnya tampak semakin tidak tenang. “Aku bisa kembali ke toko pakaian itu untuk menukarnya.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai wajah putraku itu dengan lembut.
“Kau tidak usah kuatir nak. Papa tidak salah beli, kok. Ini mungkin warna yang salah. Tapi niatnya tidak salah. Ibumu tahu seperti apa aku ini. Dia mungkin akan mengomel-omel tapi itu tidak masalah.” kataku berkata jujur.
Dan aku merasa seakan-akan bisa mendengar suara Naomi yang mulai mengomeliku lagi persis seperti bertahun-tahun yang lalu.
“Ya ampun, Mark! Kan sudah kubilang berulang-ulang kali! Cyan! Ini bukan cyan. Ini turquoise!”
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap-usap baju itu dengan lembut di tanganku.
TAMAT