Sofia dan Adrian pernah berbagi mimpi yang sama. Mereka merancang masa depan bersama, membayangkan rumah kecil yang hangat, jalan-jalan sore di bawah langit jingga, dan keluarga kecil yang bahagia. Tapi semua itu berubah suatu hari, ketika Adrian tiba-tiba pergi tanpa peringatan.
Adrian meninggalkan hanya sebuah pesan singkat:
“Aku butuh waktu. Jangan tunggu aku.”
Pesan itu menghancurkan dunia Sofia. Namun, meskipun Adrian memintanya untuk tidak menunggu, Sofia tidak bisa menyerah. Ia tetap percaya bahwa Adrian akan kembali. Setiap malam, ia memandangi ponselnya, berharap ada pesan lain dari Adrian yang memberitahu bahwa ia akan pulang. Tapi harapan itu hanya menggantung di udara, tak pernah menjadi kenyataan.
Tahun pertama, Sofia mencoba mengisi kekosongan dengan hal-hal yang biasa mereka lakukan bersama. Ia pergi ke tempat favorit mereka, mendengarkan lagu-lagu yang sering mereka putar, bahkan memasak makanan kesukaan Adrian. Setiap langkah kecil itu membuatnya merasa bahwa Adrian masih ada, meskipun hanya dalam bayangannya.
Tahun kedua, teman-teman Sofia mulai memintanya untuk melanjutkan hidup. “Dia sudah pergi, Sof. Kamu harus ikhlas.” Tapi Sofia tidak bisa. Ia merasa, jika ia menyerah, maka semua kenangan dan janji mereka akan sia-sia.
Di tahun ketiga, Sofia mendengar kabar tentang Adrian dari seorang teman lama. Adrian telah menikah dengan wanita lain. Wanita itu adalah rekan kerja Adrian, seseorang yang mendukungnya di masa-masa sulit yang Sofia bahkan tidak tahu pernah ada.
Berita itu menghancurkan hati Sofia, tetapi ia tetap tidak bisa membencinya. Ia percaya bahwa Adrian hanya bingung, dan suatu hari akan menyadari bahwa cinta sejatinya adalah Sofia. Ia tetap menunggu.
Hingga suatu hari, Adrian kembali ke kota mereka untuk sebuah reuni kecil. Sofia melihatnya dari kejauhan—senyum itu masih sama, tetapi kini ada seorang wanita di sampingnya, menggenggam tangannya dengan penuh cinta. Sofia tahu itu adalah istrinya.
Adrian tidak mengenali Sofia di antara kerumunan, tapi Sofia memberanikan diri untuk mendekatinya. Saat mereka akhirnya bertatap muka, Adrian terlihat terkejut. Mereka berbicara singkat, hanya tentang hal-hal biasa. Namun di akhir percakapan, Sofia tidak bisa menahan dirinya lagi.
“Kenapa kamu pergi?” tanyanya dengan suara bergetar.
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Karena aku tahu aku tidak bisa memberimu kebahagiaan yang layak kamu dapatkan. Aku tidak cukup baik untukmu, Sof.”
Sofia ingin memberitahunya bahwa itu tidak pernah benar. Bahwa yang ia butuhkan hanyalah Adrian. Namun kata-kata itu terhenti di tenggorokannya, karena ia melihat kebahagiaan di mata Adrian saat istrinya memanggilnya dari kejauhan.
Adrian pergi lagi, kali ini dengan senyum yang menutup kemungkinan apa pun untuk kembali.
~ending
Sofia pulang ke rumahnya yang sunyi, tempat di mana ia telah menunggu selama bertahun-tahun. Ia duduk di tepi jendela, memandangi langit malam, dan akhirnya menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Dalam hatinya, ia tahu Adrian tidak akan pernah kembali. Tapi ia juga tahu bahwa sebagian dari dirinya akan selalu menunggu, meskipun tidak ada lagi yang harus ditunggu.
Cerita ini berakhir dengan Sofia yang masih terjebak dalam cinta lamanya, membiarkan harapan yang tidak pernah terwujud menjadi teman setianya.
🎵: Kamu dan Kenangan
_Maudy Ayunda