Sebuah halusinasi datang menghampiriku, aku hanya terdiam tanpa berkata apapun. Hari ini aku sungguh kesal, masalahnya aku selalu dikhianati oleh temanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan hidup berkelimpahan. Aku tak suka menghamburkan uang karena orangtuaku mendidikku untuk selalu hemat jika ingin hidup senang. Semua berubah ketika anak itu muncul dalam hidupku.
Namanya Andi. Aku benci dia ketika dia berusaha mengambil alih peringkat dan temanku satu-satunya. Ya itu sudah jelas dengan wajah, mata dan senyum mautnya kata mereka sih, temanku jelas sangat mengidolakannya, dan itu membuatku cukup untuk membencinya.
“Sorry Cha, aku bukan bermaksud menjauhimu” bella mantan temanku itu berusaha menyakinkanku.
“Aku tau kok maksudmu berteman denganku hanya untuk keuntunganmu sendiri kan, nggak papa kok bell, aku cukup tau itu” bergegas meninggalkan bella dan pergi.
Sambil berjalan ke arah taman seperti biasa aku mengomel karena ulah temanku itu, “apa bagusnya sih orang aneh itu, dia mengambil segala hal yang kupunya, apalagi bella hanya satu-satunya temanku, dia menyebalkan.” Tanpa sadar aku ditertawai seseorang.
“siapa yang berani menertawaiku dasar makhluk aneh” kataku kesal.
Sambil memegang perutnya, “aku nggak percaya kamu begitu iri denganku wahai princess, kau terlihat cantik ketika marah” jawab seseorang yang ternyata Andi si orang aneh.
“Eh.. kau orang aneh, aku nggak akan kalah darimu, camkan itu wahai orang aneh.” kataku mengancamnya dan berlalu pergi ke kelas.
Andi hanya tersenyum pada Echa. “susah sekali mendekatimu my princess” Andi pun beranjak.
Sesampai di kelas, Echa hanya duduk diam sambil berpikir keras bagaimana caranya menjatuhkan Andi dari kepopulerannya. Jam masuk pelajaran kedua berlangsung, dan hari ini adalah jam nya ibu Sandri yaitu tentang praktek IPA yang membahas tentang balon, itu hal yang paling menakutkan dari menonton film horor.
“Baik anak-anak, hari ini semuanya bawa balon yang ibu suruh”
“Ya bu” jawaban serentak anak IPA.
“Sebelumnya ibu harap kalian segera meniup balonnya ya anak-anak” sambung bu Sandri lagi.
Aku terpaksa meniupnya dan hasilnya balonku sendiri yang paling kecil. “emm.., Echa? sepertinya balonmu sangat kecil, ibu mau kamu meniupnya lebih besar lagi.” Kata bu Sandri kepadaku.
Aku berusaha sekuat mungkin tapi tanganku mulai bergetar dan berkeringat dingin, aku nggak mau bilang ke bu Sandri kalau aku phobia dengan balon.
“Bagaimanapun aku harus bisa meniup balon ini” kataku menyakinkan diriku sendiri.
Entah bagaimana caranya dia datang dan mengambil balonku dan meniupnya agak jauh dariku.
“Nggak usah dipaksakan jika itu tidak bisa kau paksakan my princess,” katanya berbisik di telingaku.
Aku melongo melihatnya dan ia hanya tersenyum manis padaku.
Jam istirahat berbunyi dan itu sangat melegakan bagiku, karena praktek balon yang menyeramkan itu pun selesai.
“Hei, orang aneh makasih udah bantu aku tadi” kataku cuek tanpa melihat mukanya.
“Kau pikir ini gratis, sebagai balas budimu aku mau kamu hari ini mengantarku pulang sekolah.” Jawab Andi tanpa menoleh juga padaku.
“Hah? apa kau bilang tadi, jadi kau tidak ikhlas bantu aku, nyesel aku terima bantuanmu” aku marah-marah.
“Aku menyelamatkan hidupmu, kau phobia balon kan? terlihat dari mukamu yang pucat dan keringat dingin, mana ada orang yang tiup balon sampai kayak gitu kalau bukan dia phobia balon, kamu mau aku bilang ke semua orang kalau kamu phobia balon?!.” jawab Andi mengancamku. Dengan pasrah aku pun menerima tawarannya dari pada seisi kelas tau aku phobia balon.
“Ihh dasar orang aneh, oke aku akan ngantar kamu pulang dan hanya hari ini aja!!” jawabku sambil berlalu menuju bangkuku.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku lansung mengemasi tas dan berdiri hendak pulang.
“Hey my princess nggak lupa kan sama janjimu?” kata Andi menoleh padaku.
“Cepat lah dasar lelet, aku nggak punya banyak waktu untuk mengantarmu” jawabku cuek.
Kami berdua menuju parkiran motor. “Bukankah kau bawa motor?” tanyaku.
“Nggak, aku malas makanya aku nyuruh kamu ngantar aku.” Jawabnya sambil mengambil motorku. Aku pun dibonceng Andi dengan menjaga jarak.
“Kamu gila, cepat pegangan nanti kamu bisa jatuh”
“Aku udah pegangan kok” kataku yang hanya memegang switernya saja.
“Pegangan tug kayak gini” katanya menarik tanganku ke pinggangnya. Entah mengapa aku merasa deg-deg kan karenanya.
Selama di jalan kami tidak mengeluarkan sekatapun dan ini sungguh membuatku canggung.
“Cha, aku nggak tau kamu benci beneran nggak denganku,” katanya sambil memberhentikan motor di salah satu taman kota.
“Aku nggak tau, mau bagaimana lagi mendekatimu, kamu sangat dingin dan aku semakin suka itu. Aku ingin lebih dekat denganmu seperti ini, aku selalu melihatmu dari jauh dan aku gak pernah melihat senyummu, mungkin itu karenaku. tapi apapun itu gak akan ngerubah rasa sukaku, kamu cukup spesial sehingga aku nggak pernah bisa ngelirik yang lain. Jadi apakah kamu mau menerimaku sebagai temanmu dulu?” kata Andi sambil menoleh padaku.
Aku gak tau harus jawab apa, perasaanku campur aduk karena dia bilang masalahku meminta berteman denganku.
“Hei orang aneh kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti” jawabku cuek menghindari tatapan tajamnya.
“Hahaha kamu lucu kalau lagi grogi my princess, mulai sekarang aku temanmu dan aku harap kita akan lebih dari teman nantinya” sambung Andi sambil menjalankan motor lagi.
Aku cukup senang mendengar kalimat terakhirnya, mungkin aku akan memikirkannya nanti kalau sebenarnya aku cukup membenci dan menyukainya. My prince Andi.