---
Latar
Di sebuah rumah tua yang hampir roboh, Otem tinggal bersama ibunya yang sering termenung di sudut kamar. Suara jam dinding yang terus berdetak menjadi satu-satunya saksi kesunyian rumah itu. Kehidupan Otem bukanlah cerita bahagia. Namun, ia selalu meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan—demi ibunya, yang baginya adalah segalanya.
---
Awal Cerita
"Otem! Mana airnya?! Kamu itu nggak pernah becus, ya!" Suara ibu menggema dari dapur, membuyarkan lamunan Otem.
Otem berlari kecil sambil membawa ember berisi air. "Ini, Bu," katanya pelan.
Ibunya mendengus, wajahnya masam. "Kamu nggak pernah sebaik kakakmu. Dulu kalau ada apa-apa, kakakmu nggak pernah bikin ibu susah!"
Kalimat itu lagi. Kalimat yang sudah ribuan kali didengar Otem. Namun, ia tidak pernah membalas. Hanya ada satu hal yang selalu ia lakukan: diam, mengangguk, dan pergi tanpa sepatah kata.
Di kamar kecilnya yang hanya cukup untuk sebuah kasur tipis dan lemari kayu tua, Otem duduk termenung. Di dinding, tergantung sebuah foto lama: dia, kakaknya, ibu, dan ayahnya, tersenyum bersama.
Semua berbeda sekarang, pikirnya.
Kakaknya, Genta, telah tiada. Ayahnya pergi setelah perceraian yang penuh amarah. Hanya ia dan ibunya yang tersisa, tapi hubungan mereka terasa lebih seperti beban daripada cinta.
---
Kilasan Masa Lalu
Otem mengingat hari itu dengan jelas. Hari di mana ia menemukan Genta tergantung di langit-langit kamar mereka. Tubuh kakaknya dingin, wajahnya membiru.
"Ibu! Kak Genta... Kak Genta!" teriak Otem panik.
Ibunya yang saat itu sedang mencuci di dapur berlari ke kamar. Saat melihat tubuh Genta, ia pingsan seketika. Hari itu, hidup mereka berubah total.
Sejak saat itu, ibunya berubah menjadi sosok yang keras, penuh amarah, dan tidak pernah puas. Ia menyalahkan diri sendiri, menyalahkan ayah, bahkan menyalahkan Otem.
"Kamu tahu, Genta meninggal karena tekanan hidup. Dan kamu... kamu sama sekali nggak bisa bantu ibu melewati ini!"
Otem hanya bisa menelan air mata. Ia tahu ibunya tidak benar-benar membencinya. Ini adalah caranya bertahan—dengan memindahkan rasa sakit kepada seseorang yang masih tersisa.
---
Titik Balik
Suatu malam, Otem pulang dari kerja serabutan di pasar. Ia melihat ibunya duduk di ruang tamu, memeluk foto lama mereka. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibu..." panggil Otem perlahan.
Ibunya menoleh, wajahnya basah. "Kamu tahu, Nak? Ibu kehilangan segalanya. Ayahmu pergi, kakakmu... kakakmu memilih mati. Apa yang ibu punya sekarang? Kamu?"
Otem menghela napas. Ia berlutut di depan ibunya, menggenggam tangannya.
"Bu, aku tahu aku bukan kak Genta. Aku nggak sepintar dia, nggak sebaik dia. Tapi aku masih di sini, Bu. Aku nggak akan ninggalin Ibu, apapun yang terjadi."
Ibunya tertawa kecil, sinis. "Apa kamu yakin? Semua orang pergi pada akhirnya."
Otem tidak menjawab. Ia tahu, ucapan tidak akan cukup untuk membuktikan cintanya. Ia harus menunjukkan itu dengan tindakan.
---
Perjuangan Otem
Hari-hari berikutnya, Otem bekerja lebih keras. Ia mengambil pekerjaan tambahan sebagai tukang parkir di malam hari. Uang yang ia dapatkan ia gunakan untuk membeli obat-obatan bagi ibunya, bahkan meski ia sendiri sering melewatkan makan.
"Ibu, aku belikan obat untuk Ibu. Minum ya, supaya Ibu nggak sakit," katanya sambil meletakkan gelas berisi pil di meja.
Namun, ibunya hanya menatap kosong ke arah jendela. "Kamu buang-buang uang. Ibu nggak butuh semua itu."
Meski begitu, Otem tidak menyerah. Ia tetap membersihkan rumah, memasak, dan mengurus ibunya dengan sepenuh hati.
---
Konflik
Suatu hari, saat Otem pulang dari kerja, ia menemukan ibunya pingsan di lantai dapur. Panik, ia membawanya ke rumah sakit dengan uang terakhir yang ia miliki.
"Bu, bangun, Bu. Jangan tinggalin aku," gumamnya sambil menggenggam tangan ibunya di ruang UGD.
Beberapa jam kemudian, dokter keluar. "Ibu Anda terlalu lelah, stres, dan kekurangan gizi. Kami sudah melakukan yang terbaik."
Otem merasa dunia runtuh. Ia menangis di sudut ruangan, merasa gagal melindungi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, pagi itu, ibunya sadar. Meski masih lemah, ia menatap Otem dengan mata yang berbeda—mata yang penuh kesadaran.
"Otem..." suara ibunya serak.
"Bu, aku di sini," kata Otem sambil mendekat.
"Ibu minta maaf, Nak. Selama ini, ibu terlalu keras sama kamu."
Air mata Otem jatuh. "Nggak apa-apa, Bu. Aku ngerti. Aku cuma mau ibu tahu, aku sayang sama ibu. Aku nggak akan ninggalin ibu."
---
Puncak Cerita
Hubungan mereka perlahan membaik. Ibunya mulai terbuka, berbagi cerita tentang masa lalu, tentang kenangannya dengan Genta, dan tentang penyesalannya.
Suatu malam, di bawah langit berbintang, ibunya berkata, "Kamu tahu, Otem? Ibu dulu pikir hidup ibu berakhir saat ayahmu pergi, saat Genta pergi. Tapi sekarang ibu sadar, ibu masih punya kamu. Kamu anak yang luar biasa."
Otem tersenyum, hatinya hangat. Ia merasa, untuk pertama kalinya, ibunya benar-benar melihatnya.
---
Penutup
Meski hidup mereka tidak sempurna, cinta dan pengertian antara ibu dan anak itu menjadi fondasi yang kokoh. Otem tetap berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menjaga ibunya seumur hidup, apapun yang terjadi.
Dan saat ia menatap ibunya yang tertidur di kursi tua, ia berbisik pelan, "Ibu, izinkan aku mencintaimu... sampai akhir waktu."