Raka menundukkan kepalanya sambil berjalan melewati koridor sekolah yang dipenuhi tatapan mencemooh. Semenjak ia masuk sekolah ini, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Bukan karena sekolahnya, tapi karena satu orang: Ardi.
Ardi adalah putra kepala sekolah, seseorang yang merasa dirinya untouchable. Dengan tubuh besar dan geng pengikut setianya, Ardi sering menjadikan Raka sebagai pelampiasan. Tamparan, ejekan, bahkan tugas-tugas tambahan yang dipaksakan, semua diterima Raka tanpa bisa melawan.
"Hei, Raka! Ke kantin, beliin gue makanan. Cepat, sebelum gue bikin muka lo lebih jelek!" seru Ardi suatu siang, diiringi gelak tawa teman-temannya.
Raka tak membantah. Ia menahan amarah yang menggelegak di dadanya sambil berjalan ke kantin. Namun, dalam hatinya, ia bersumpah ini akan menjadi yang terakhir.
Rencana
Malam itu, di kamarnya yang sepi, Raka menyusun rencana. Ia tahu, melawan secara langsung tidak mungkin. Ardi dilindungi oleh ayahnya, kepala sekolah yang dihormati semua orang. Tapi Raka juga tahu, setiap orang punya kelemahan.
Selama berminggu-minggu, Raka mengamati Ardi dengan saksama. Ia mencatat kebiasaan, kelemahan, dan rahasia kecil yang tak sengaja terungkap. Salah satunya adalah fakta bahwa Ardi sering kabur dari sekolah untuk nongkrong di tempat yang salah: klub malam ilegal.
Eksekusi
Raka mengumpulkan bukti dengan kamera ponselnya. Foto-foto Ardi bersama teman-temannya di klub malam, minuman keras di tangan mereka, bahkan beberapa video singkat ketika Ardi berbicara kasar tentang ayahnya sendiri.
Semua bukti itu Raka kumpulkan dalam sebuah USB drive. Lalu, ia menulis surat anonim dan menyisipkan USB tersebut. Surat itu ia kirimkan langsung ke meja kepala sekolah.
“Pak Kepala Sekolah, mungkin Anda ingin melihat bagaimana putra Anda menghabiskan waktunya di luar sekolah. Salam, seseorang yang peduli.”
Dampak
Hari berikutnya, suasana sekolah berubah drastis. Ardi tidak terlihat di mana pun. Berita menyebar bahwa kepala sekolah telah memanggil Ardi dan menghukumnya di depan staf sekolah. Tidak ada yang tahu siapa yang membocorkan rahasia itu, tapi Ardi berubah total. Ia menjadi pendiam, bahkan tampak menghindari Raka.
Namun, Raka tidak puas. Ia tahu Ardi masih bisa bangkit dan kembali mengganggunya.
Langkah Terakhir
Di waktu berikutnya, Raka mengambil langkah lebih jauh. Ia mengunggah bukti-bukti itu ke media sosial menggunakan akun anonim. Video itu menjadi viral, membuat nama Ardi tercoreng di depan teman-temannya. Bahkan, kepala sekolah mulai kehilangan reputasinya karena dianggap tidak bisa mendidik anaknya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, kepala sekolah mengundurkan diri. Ardi pindah sekolah, dan Raka akhirnya bisa bernapas lega.
Akhir yang Pahit
Meski pembalasan itu berhasil, Raka menyadari satu hal: ia telah menjadi seseorang yang berbeda. Kesenangan atas pembalasan itu terasa pahit, meninggalkan kekosongan dalam dirinya. Namun, ia tak menyesal. Baginya, keadilan tidak akan datang sendiri. Kadang, seseorang harus memperjuangkannya, meski dengan cara yang tidak biasa.