Cerita yang awalnya ditulis sebagai hadiah ulang tahun untuk si Sulung yang kemudian di tulis ulang sebagai pesan yang sengaja ditujukan untuk para sulung di dunia!
Untuk para sulung di manapun kalian berada, ingatlah bahwa kalian masih sesosok manusia yang tak luput dari ketidaksempurnaan.
***
Di bawah senja indah nan sejuk, aku dan keluargaku duduk di halaman rumah yang cukup luas. Cukup untuk kami berempat. Beralaskan tikar bermotif kotak-kotak yang tipis dengan beragam macam makanan di atasnya, sudah tentu ini ulah sang ibu negara tercinta.
Sore ini, kami sedang merayakan ulang tahun si sulung keluarga kami, kakakku satu-satunya. Panggil saja dia ... Ardiansyah. Tahun ini, adalah tahun ke 21 si sulung berada di dunia. Kenapa di sore hari? Mudah saja, karena ayah dan si sulung kami baru pulang dari kegiatan mereka di tempat kerja. Selain itu, yang aku tahu matahari terbenam adalah momen indah yang disukai Ardiansyah. Dia bilang, itu menandakan bahwa hari yang melelahkan dan menguras energi ini akan segera berakhir dan berganti dengan momen hangat bersama keluarga, terutama saat bersamaku hahaha...
"Ayo, nyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’!” ujar ibu.
Suara nyanyian pun terdengar. Kami bernyanyi sambil bertepuk tangan ringan, lalu meminta si sulung untuk meniup lilin yang semakin lama semakin pendek batangnya. Kemudian, kami beranjak ke acara potong kue yang kami (aku) tunggu-tunggu. Suapan pertama, si sulung hadiahkan kepada orang tua kami tercinta. Suapan selanjutnya, aku membuka mulutku lebar-lebar dan merasakan potongan kue dengan tekstur yang lembut dan manis. Suasana saat ini terasa sangat menyenangkan. Kami tersenyum dan tertawa, berusaha menikmati momen-momen indah yang kami ciptakan sendiri, tak terkecuali Ardiansyah.
‘Oh, si sulung bahagia.’
Itu yang terlintas dipikiran ku saat melihatnya sekarang, sebelum aku sadar, bahwa dia memang selalu seperti itu. Khusus untuknya, setiap hari adalah hari yang baik, meskipun aslinya buruk. Setiap waktu adalah waktu yang indah, meskipun aslinya tidak. Ya, itu si sulung, yang selalu berusaha menjadi yang terkuat, padahal dirinya juga masih butuh topangan.
Kata ayah, Ardiansyah itu sulung, jadi harus kuat seumur hidup. Ayah juga bilang, kalau mereka sudah terbiasa memikul banyak beban di pundaknya. Ekspetasi keluarga, harapan orang-orang sekitar dan menjadi contoh yang baik untuk manusia-manusia yang lahir setelahnya. Jika gagal, maka aku, selaku orang yang lahir setelahnya akan mendengar kalimat, “Jangan seperti kakakmu, ya.”
Tak bisa aku bayangkan bila si sulung mendengar ini. Pasti sakit sekali rasanya, sudah merasa gagal dan kecewa pada diri sendiri, lalu diterpa berbagai macam kalimat yang tidak mengenakan.
Dulu, yang aku tahu, sulung adalah anak yang pertama kali lahir disebuah keluarga dan merupakan anak yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Jadi, tidak heran kalau sifat keras, kaku dan tegas tersemat padanya. Kata 'sempurna' tak pernah lepas dari kamus kehidupannya. 'Kesalahan'? Apa itu? Kami tidak mengerti maknanya.
Namun, seiring berjalannya waktu aku paham, bahwa sulung masihlah seorang manusia. Hanya saja, sayangnya, mereka lebih dulu hadir ke dunia dan lebih dulu menopang banyak hal berat yang mereka harap tidak terjadi kepada kami, manusia yang lahir setelahnya.
Masih terngiang jelas percakapan kami setelah pertengkaran singkat yang seharusnya selesai apabila aku tidak 'drama', beberapa waktu lalu. Saat dia datang menghampiriku ke kamar dengan dua batang permen kesukaan ku ditangannya sebagai permintaan maaf setelah pertengkaran itu.
“Dek, maaf.”
Aku melirik kearahnya dengan tatapan bingung dan sedikit takjub. Sejam yang lalu dia meninggikan suaranya kepadaku, sejam kemudian datang dengan permen sebagai sogokan.
“Kenapa cepat sekali berubah?”
Ardiansyah tersenyum lembut sekali. Sampai-sampai, kesal yang sempat ku rasakan hilang begitu saja.
Meskipun tak ada kata ataupun kalimat yang keluar dari bibirnya, aku paham, bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain mengalah dan mengesampingkan emosi mereka, selain mempercepat perdamaian antara kami daripada memperpanjang masalah.
Hatiku nyeri saat membayangkan si sulung harus menahan segala gejolak perasaan yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan leluasa. Namun, begitulah anak sulung. Mereka pintar mengatur perasaan, agar semuanya segera terkendali dan kembali baik-baik saja.
Ardiansyah itu .... sangat hebat, bukan?