Rey Adipati, siswa populer dan tampan disekolah, tapi sayang sifatnya yang tidak peduli membuat semua teman menjauhinya dan enggan bergaul dengannya.
"Selamat pagi!"
Seorang guru masuk menyapanya.
"Pagi, Bu.."
"Sebelum pelajaran dimulai, Ibu mau kasih tau.Hari ini kita kedatangan murid baru."
Bu Reni kemudian memanggilnya.Namun dihentikan oleh Haris.
"Sebentar!"Seorang siswa berdiri, dan membuat orang terheran dengan kelakuannya.
"Ada apa Haris?"Ucap Bu Reni, guru cantik dan baik disekolah.Selain itu, ia juga wali kelas IPA XI A.
"Murid barunya cewek atau cowok, Bu?"
Sambil menggaruk kepala, ia juga disoraki oleh murid lainnya.
"Kamu lihat sendiri ya."
Murid baru itu kemudian masuk kelas.Ia berjalan pelan.
"Nah! dia cewek!"Ucap Bu Reni menjawab pertanyaan Haris.
Semua mata memandang ke arah murid baru itu dan dibuatnya kagum. Selain Bu Reni ternyata masih ada orang yang menandingi kecantikannya.
"Silahkan kamu perkenalkan diri."
Murid itu tersenyum mengangguk.
"H hai! Perkenalkan nama ku Wendy Lestari asal Bandung.Aku pindah kesini karena bisnis keluargaku.Udah itu aja."
"Aku mau bertanya, Bu!"
"Iya, Haris."
"Udah punya pacar belum..."
Suara sorakan tertuju pada Haris membuat suasana gaduh.
"Huss! Jangan ribut nanti mengganggu kelas lain.Silahkan Wendy, tidak dijawab juga tidak apa-apa."
Sekali lagi murid baru itu tersenyum dan membuat para lelaki terpesona.
"Baik! kalau gitu langsung ke pelajaran.Karena perkenalannya sudah.Kamu duduk dimana saja yang membuat kamu nyaman, Wendy."
"Iya, Bu."
"Tunggu, Bu! dia belum jawab pertanyaanku."
"Pertanyaan tidak penting, gak usah dijawab.Lebih baik kita mulai pelajarannya."
Wendy kemudian duduk disamping meja Rey.Ia tersenyum begitu saja pada Rey yang selama ini tidak peduli terhadap orang yang ditemuinya.
Murid lain mulai berbisik terhadap Rey, Wendy mendengar hal itu tapi ia juga tidak peduli dengan ucapan itu dan menyapa Rey.
_
Dua hari setelah kedatangan murid baru, semua siswa tertuju pada Wendy dan ia mulai populer disekolah, mengalahkan kepopuleran Rey.Namun Rey sama sekali tidak peduli dengan murid baru itu.
Waktu semakin berjalan hingga Wendy memberanikan diri untuk mendekati Rey.
Rey terlihat sedang duduk sendiri setelah pelajaran olahraga.
"Hai!"sapa Wendy.
"Ada apa?"
"Boleh duduk?"
"Silahkan."
Wendy duduk disamping Rey.Selang 1 menit mereka terdiam, untuk mengisi kekosongan Wendy mencoba bertanya.
"Kamu kenapa sendirian?"
"Memangnya kamu mau apa?"
"Mm.. bukan maksudku menyinggung, tapi aku lihat kamu itu selalu sendirian, kenapa gak coba bergaul dengan teman kamu?"
"Aku gak punya teman."
"Banyak kok, dikelas semuanya kan teman kamu."
"Aku gak suka ya, orang yang peduli kayak kamu!"
"Aku bukannya peduli, tapi kamu harusnya ..."
"Diam! sebaiknya kamu pergi."
"Kenapa?"
"Aku bilang pergi atau aku yang pergi!"
Wendy kemudian pergi karena tak ingin membuat suasana hatinya runyam.
Hari berikutnya, Wendy tak ingin menyerah untuk mendekati Rey walau seringkali dia dimarahi karena terus mendekatinya.
"Kamu kenapa terus deketin aku, hah!"Nada tinggi Rey membuat Wendy takut.
"Ma maaf!"
"Kalau tidak ada apa-apa mending kamu jauhin aku."
"Aku tau, kamu pasti mempunyai masalah dengan orangtua kan?"
"Tau apa kamu soal keluargaku?kamu murid pindahan jangan sok tau ya!"Rey memperlihatkam wajah kesalnya.
"Untuk itu aku ingin membantumu."
Jawaban Wendy sedikit membuatnya tenang.
"Terus, apa maumu?"
"Aku akan mendengarkan masalahmu."
"Ck! buang-buang waktu."
"Aku tunggu di Tamrin nanti sore!"
Sejenak langkah Rey terhenti dan bergerak kembali.
Rey teringat ucapan Wendy yang sedang menunggunya.Tapi ia langsung pulang setelah sekolah.Rey memandangi kaca jendela kamarnya, langit mulai mendung.Ia khawatir jika Wendy masih menunggunya dan segera pergi.
Sesampai di Tamrin, ternyata benar dugaan Rey bahwa ia masih disana padahal awan sudah mulai mendung dan gelap.
"Kamu apa-apaan disini?"
"Ah, Rey!"Senyuman Wendy sungguh manis dan tenang tanpa rasa khawatir keadaan cuacanya.
"Seharusnya kamu pulang, sebentar lagi akan hujan."
"Aku percaya! Kamu akan datang."
Bagaimana mungkin seorang cowok yang tidak mempunyai rasa peduli malah khawatir terhadap murid pindahan tersebut.
"A.. apa?Jadi kamu nunggu aku karena percaya aku akan datang?"
"Astaga... hey! kamu gak liat keadaan sekarang kayak gimana?sekarang sudah sore terus hujan akan turun.Memangnya kamu gak khawatir sama diri kamu sendiri?"
Lanjut Rey memarahi Wendy.
"Aku ingin membantumu, jadi kamu bisa bicarakan masalahnya denganku."
"Baiklah! Kita cari tempat yang lain, hujan akan turun."
Mereka kemudian menuju tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh karena hujan tiba-tiba deras.Rey melihat tempat yang cocok, ia duduk ditempat pemberhentian bus dan berteduh disana.
"Jadi... apa masalahmu?"Setelah 5 menit mereka terdiam, Wendy memulai bicara tanpa ragu.
"Sampai segitunya kamu mau membantuku.Kamu tuh cewek ternekat tau."
"Sebenarnya sih aku bisa saja sampai maghrib di sana, bahkan hujanpun aku akan tetap menunggu kamu."
"Astaga! Benar-benar sudah gila ni cewek ya."
"Hahaha!.."
"Kenapa ketawa?gak ada yang lucu tau!"
"Gak! Aku paling suka lihat orang yang wajahnya lagi ngenes kayak kamu."
"Apa?Mau aku pukul wajah kamu?biar jadi tempe sekalian."
"Aku gak nyangka, ternyata kamu peduli juga."
"Aku bukannya peduli ya sama kamu, aku gak mau kamu sampai gak masuk sekolah buat ku marah-marahin."
"Sama saja, ternyata orang sepertimu menyenangkan ya!"
"Terserah!"
Lagi-lagi suasana menjadi hening, keduanya saling terdiam namun kali ini Rey yang memulai bicara dan menceritakan masalahnya.Rey mengatakan bahwa orangtuanya akan bercerai, mereka setiap hari bertengkar.Ayah Rey diduga selingkuh dengan wanita lain, sehingga membuat Ibu Rey marah dan akhirnya bertengkar tanpa henti-hentinya.Ia sangat pusing dengan perbuatan orangtuanya.Ingin rasanya bahwa ia pergi jauh dari mereka.Namun Ayah Rey menyangkalnya, bahwa dia tidak selingkuh dengan wanita manapun.Rey tak tahan mendengar dan harus melihat pertengkaran mereka setiap Ayahnya datang dari pekerjaan, Ibunya selalu memarahinya.Hingga akhirnya terucap cerai dari mulut ayahnya.
"Aku gak tau harus bagaimana, aku gak peduli lagi jika mereka benar-benar akan bercerai."
"Tenang ya Rey, yang sabar.Aku akan membantu menyelesaikan masalah kamu dengan keluargamu."
"Memangnya kamu bisa?"
"Akan aku pikirkan.Tapi kamu percaya deh sama aku.Seperti aku percaya sama kamu."
Untuk pertama kalinya, Wendy melihat senyuman Rey.Dan ia pun memeluk Rey dengan erat.Sebagai seorang teman, ia akan membantunya bagaimanapum caranya.
Hujan pun mulai surut, langit menampakan cahaya dari barat.Awan yang menghalangi mentari mulai membukanya.Sebuah pelangi di barat tampak jelas.Ini pertama kalinya mereka berdua melihat secara jelas.Ada pelangi dilangit senja.
Keesokan harinya, sejak saat itu Rey terlihat ceria.Rey yang baru saja datang dikelas, menunjukkan sifat yang tak biasanya.Ia menyapa semua temannya dan meminta maaf atas semua perbuatannya.
Wendy yang lebih dulu berada dikelas, melihat perubahan Rey dan ia sangat senang.
__
Bel istirahat pun berdenting, semua siswa keluar kelas menuju kantin kecuali Rey dan Wendy.
"Kamu mau ikut ke kantin?"
Tiba-tiba saja suara Rey terdengar olehnya, pertama kali Wendy mengajak ke kantin saat tiga minggu yang lalu, kali ini Rey yang mengajak Wendy ke kantin.
"Gak biasanya kamu ngajak aku."
"Ya kali ini giliran aku.Aku yang bayarin deh."
"Baiklah!"
Wendy pun menerima ajakan Rey, dan mereka segera keluar.
Selama di kantin, Wendy memikirkan caranya untuk bisa menyelesaikan masalah keluarga Rey.
"Bagaimana caranya?"
"Kita ikutan saja ayah kamu.Kamu tau kan kerja dimana ayah kamu?"
"Tau sih"
"Nah, nanti habis pulang sekolah kita ke tempat kerja ayah kamu.Kita akan selidiki ayah kamu."
"Sebenarnya sih aku juga sempat memikirkan itu, tapi aku takut."
"Kenapa harus takut?ini untuk kebenaran, sebagai anak kamu harus mencari tahu mana yang benar dan mana yang buruk.Kamu mau jika keluarga kamu bercerai?"
"Ya, aku sebagai anak juga gak mau kalau mereka cerai."
"Ngomong-ngomong apa yang diucapkan ayah kamu selain itu?"
"Aku dengar sih, ayahku berkata Talak 1, sih."
"Masih ada kemungkinan kalau ayah kamu cinta sama ibu kamu."
"Maksudnya?"
"Sebenarnya sih aku gak mau ngomong ini.Tapi seharusnya kamu sebagai laki-laki harus tau dong."
"Iya iya... Tapi aku mau pulang dulu, soalnya takut ibuku khawatir."
"Oke.Aku juga mau izin dulu sama ibuku."
"Terima kasih ya, Wen.Kamu mau membantuku."
"Kamu simpan dulu terima kasihnya, soalnya aku gak tau kalau ayah kamu benar-benar selingkuh, kalau terbukti tidak benar kita bisa berikan kebuktiannya ke ibu kamu."
Rey melihat sosok Wendy seorang malaikat, selain baik dia juga membuat hatinya luluh dan tak ingin menyerah.Sebelum datangnya Wendy, ia sangat berputus asa dengan keluarganya.
Bel pulang pun berbunyi, Rey dan Wendy segera pulang dan ketemuan di Tamrin.
Kemudian pergi ke tempat ayahnya bekerja.
Sesampainya ditempat, mereka tak sengaja bertemu ayah Rey.
"Kamu kenapa ada disini?"
"Eh, ayah!"
"Hai, Om!"Sapa Wendy sambil nyengir kuda.
"Ya, ada apa ya Rey."
Rey tidak bisa apa-apa setelah bertemu dengan ayahnya.Rasanya berat sekali saat ingin berbicara dengannya.Karena sudah terlanjur bertemu, Wendy segera membicarakan masalah yang dihadapi Rey.
"Gini, Om.Rey sempat cerita kalau Om pernah..."
"Oh, kalau begitu kita bicarakan dikantor."
Ucapan Wendy dipotong oleh ayahnya Rey, karena tidak ingin terdengar oleh orang lain.
"Sekarang kamu boleh bicara, silahkan lanjutkan."
"Maaf ya, Om.Bukannya saya lancang, tapi Om tahu tidak perasaan Rey saat Om sama Tante bertengkar?"
"Memangnya Rey kenapa?"
"Rey tidak apa-apa, Om."
"Loh, terus kalian kesini ada apa?"
"Saya ingin mendengar penjelasan dari Om, saya mendengar dari Rey bahwa Om selingkuh."
"Ohh.. itu.. sebenarnya saya sama sekali tidak pernah selingkuh."
"Yang benar, Om?"
"Iya! Om serius!"
"Lalu wanita yang dibicarakan Om itu siapa ya?"
"Dia adik saya, namanya Felicia.Kalau kamu gak percaya silahkan datangi ke alamat ini!"
"Ini alamat siapa ya, Om?"
"Ini alamat orangtua saya.Disana juga ada adik saya."
"Kalau memang adik Om, kenapa Tante tidak tahu ya?"
"Hahaha.. Aku lupa bilang, kalau adik saya sedang kuliah di Surabaya jadi waktu pernikahan saya, dia tidak bisa datang karena sedang revisi."
"Oh, gitu ya Om.Kalau begitu terima kasih Om.Maaf mengganggu waktunya."
"Sama-sama.Oh, ya boleh tinggalin Om sebentar?Om mau bicara sama Rey."
"Oh, kalau begitu saya keluar, Om."
Rey sejak bertemu ayahnya tak mengucapkan satu katapun.Ia hanya bisa diam dan terus menundukkan kepalanya mendengar Wendy dan Ayahnya bicara.
Rey pun keluar dari kantor ayahnya.Sekilas wajahnya pun sudah tenang.
"Aku sudah merekam percakapan ayah kamu.Tadi ayah kamu juga memberikan alamat ini pada kita.Sekarang kamu sudah lega kan?"
"Terima kasih ya! Aku gak tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu."
"Tidak apa-apa.Aku senang kok membantumu.Tadi ayah kamu bicara apa?"
"Ayah akan merujuk kembali Ibu.Ayah saat itu benar-benar emosi, jadi tak sengaja ia hampir akan menceraikannya."
"Sekarang kamu pulang dan ceritakan ini pada ibu kamu, misal ibu kamu gak percaya.Kamu bisa serahkan alamat ini sama ibu kamu."
"Sekali lagi aku sangat berterima kasih sama kamu."
"Iya, sama-sama."
"Aku antar ya, kerumah kamu."
"Emang kamu tau rumah aku?"
"Gak tau sih, tapi kamu bisa tunjukkan jalannya."
"Ya sudah, aku juga gak bisa nolak sih."
Tiga hari kemudian, Rey mendatangi Wendy menceritakan keluarganya bahwa mereka akhirnya tidak jadi bercerai dan Ibunya yang salah paham sudah meminta maaf karena menduga ayahnya selingkuh.
"Aku senang mendengarnya."
"Wen!"
"Iya! ada apa Rey?"
"Kamu mau gak jadi pacar aku?"
"Sebenarnya sih... aku gak mau."
"Kenapa?"
"Aku gak mau pacaran, pengennya dilamar."
"Ihh, apaan sih."
Wajah Rey memerah, perasaan cinta mulai tumbuh pada Wendy.Ia tau kalau Wendy adalah orang baik, mana mungkin dia mau pacaran sedangkan mereka akan memasuki semester baru.Dan harus meningkatkan nilai sekolah agar bisa lulus.
Semua murid yang berada dikelas saat itu, tertawa mendengar pernyataan mereka berdua.Gelak tawa memecahkan suasana menjadi ribut.