Setahun berlalu sejak kejadian itu. Griya Senja tetap berdiri, meskipun rumor tentang kamar nomor 13 menyebar luas. Banyak tamu yang enggan menginap di sana. Namun, ada satu orang yang tertarik menyelidiki—Raka, seorang jurnalis muda yang sering menulis tentang kejadian mistis.
Raka tiba di Griya Senja pada malam yang sama kelamnya seperti malam saat Lisa menghilang. Ia mendekati meja resepsionis, pria tua yang sama masih berjaga di sana.
"Saya mau kamar nomor 13," kata Raka tanpa ragu.
Resepsionis itu terkejut. "Kamar itu sudah ditutup. Tidak ada yang diperbolehkan masuk."
"Akan saya bayar dua kali lipat," bujuk Raka. "Saya hanya ingin menghabiskan satu malam di sana."
Setelah berpikir panjang, resepsionis akhirnya memberikan kunci kamar itu. "Kalau terjadi sesuatu, itu tanggung jawab Anda sendiri," ujarnya dengan nada serius.
Raka membawa kameranya, alat perekam suara, dan buku catatan ke kamar nomor 13. Lorong itu masih sama—gelap, dingin, dan menyeramkan. Pintu kamar 13 terbuka dengan suara decitan panjang, seolah enggan menerima tamu.
Kamar itu terlihat biasa saja, tapi hawa di dalamnya membuat Raka merinding. Ia memasang kamera di sudut-sudut ruangan, memastikan semua sudut terpantau. Cermin besar itu masih ada, meskipun kini retak di beberapa tempat.
Raka mendekati cermin itu. "Kalau benar ada sesuatu di sini, tunjukkan dirimu," tantangnya sambil merekam.
Awalnya, tidak ada yang terjadi. Namun, beberapa saat kemudian, udara di sekitar Raka terasa lebih berat. Suara seperti bisikan mulai terdengar, meskipun tidak jelas dari mana asalnya.
Raka memeriksa kameranya, tetapi layar hanya menunjukkan gangguan statis. Ketika ia menoleh kembali ke cermin, bayangannya sudah tidak ada. Sebagai gantinya, ia melihat seorang wanita berdiri di belakangnya—Lisa. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan bibirnya bergerak-gerak, seperti berusaha mengatakan sesuatu.
"Pergi... cepat..." bisik suara itu lemah, hampir tidak terdengar.
Namun, sebelum Raka sempat bereaksi, bayangan Lisa menghilang, digantikan oleh sosok hitam pekat dengan mata merah yang menyala. Sosok itu melonjak ke arah cermin, membuat retakannya semakin besar. Raka mundur panik, tetapi suara tawa yang sama seperti dalam rumor terdengar menggema.
Lampu kamar berkedip-kedip, dan bayangan di cermin mulai merangkak keluar. Raka menjerit, mencoba membuka pintu, tetapi pintu itu terkunci rapat. Kamera di sudut ruangan merekam semuanya—Raka yang berusaha melawan, sosok hitam yang semakin mendekat, dan akhirnya, ruangan itu menjadi gelap gulita.
Keesokan harinya, resepsionis menemukan kamar nomor 13 kosong, seperti sebelumnya. Tidak ada jejak Raka, hanya alat perekam suara yang tergeletak di lantai. Ketika ia memutar rekaman itu, terdengar suara Lisa berbisik:
"Jangan biarkan dia keluar..."
Setelah kejadian itu, penginapan Griya Senja ditutup secara permanen. Namun, penduduk sekitar bersumpah bahwa pada malam-malam tertentu, mereka masih bisa mendengar suara tawa dan ketukan samar dari dalam kamar nomor 13, seolah-olah sesuatu di dalamnya sedang menunggu tamu berikutnya.