Emillia memandang ke arah lapangan basket dengan penuh harap. Di sana, Ervill sedang bermain bersama empat sahabatnya—Alexio, Bryan, Kevin, dan Glen. Sosoknya begitu karismatik, dengan rambut yang basah oleh keringat dan senyuman tipis yang jarang ia tunjukkan. Namun, hari ini Ervill tampak lebih sering tersenyum, bukan padanya, melainkan pada Aprilly, murid baru yang cantik dan selalu berhasil mencuri perhatian semua orang.
Aprilly terlihat duduk di tribun, melambaikan tangan kecilnya setiap kali Ervill mencetak skor. Sesekali, gadis itu tertawa kecil saat Ervill melontarkan candaan pada teman-temannya. Emillia hanya bisa memandangi dari jauh, menahan perasaan yang selama ini ia pendam.
“Kenapa nggak coba dekati dia?” suara Glen tiba-tiba mengagetkan Emillia. Glen, sahabat Ervill yang paling humoris, berdiri di sampingnya dengan senyum jahil.
Emillia menghela napas. “Kamu nggak tahu rasanya. Dia bahkan nggak sadar aku ada.”
Glen tertawa kecil. “Kamu salah. Dia sadar kok. Bahkan, aku pernah dengar dia ngomongin kamu sama Alexio.”
Mata Emillia berbinar. “Benarkah? Dia ngomong apa?”
“Rahasia,” ujar Glen sambil mengangkat bahu.
Glen tahu sesuatu yang Emillia tidak tahu—Ervill sebenarnya memperhatikan gadis itu, tapi ia terlalu keras kepala untuk menunjukkannya.
---
Hari itu, Emillia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Ervill. Ia menunggunya di depan gedung perpustakaan, tempat favorit Ervill saat tidak sibuk dengan urusan klub basket.
Ketika Ervill keluar, Aprilly sedang bersamanya. Hati Emillia serasa jatuh ke jurang. Ia hendak berbalik, tapi suara berat Ervill menghentikannya.
“Emillia, ada apa?”
Gadis itu menahan napas. “Aku... aku cuma mau mengembalikan ini,” katanya gugup, menyerahkan sebuah buku yang sebenarnya bukan milik Ervill.
Ervill mengangkat alis, tapi mengambil buku itu. “Terima kasih.”
Aprilly yang berdiri di samping Ervill tersenyum tipis, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Emillia merasa kecil. Seolah berkata, Kamu nggak akan pernah bisa menyaingiku.
---
Seminggu berlalu. Emillia terus mencoba mendekati Ervill dengan berbagai cara. Ia membantu mengurus acara kampus, ikut menjadi pendukung saat tim basket bertanding, bahkan membuatkan Ervill bekal makan siang. Tapi Ervill tetap terlihat tidak peduli.
Hingga suatu hari, semuanya memuncak.
Di sebuah pesta kampus, Emillia melihat Aprilly mendekati Ervill di sudut ruangan. Gadis itu berbisik sesuatu yang membuat Ervill tertawa. Hati Emillia terasa sakit, tapi ia tak bisa menahan diri. Ia mendekati mereka dengan keberanian yang entah datang dari mana.
“Ervill,” panggil Emillia dengan suara tegas.
Semua mata beralih padanya, termasuk Ervill dan Aprilly.
“Aku suka kamu. Sudah lama. Aku tahu mungkin ini bodoh, tapi aku nggak tahan lagi memendam ini sendirian.”
Ruangan terasa sunyi. Ervill menatap Emillia dengan ekspresi sulit ditebak. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Aprilly menyela.
“Emillia, kamu tahu nggak? Ervill itu nggak tertarik pada cewek yang terlalu agresif.”
Kata-kata Aprilly seperti tamparan keras. Emillia menggigit bibir, berusaha menahan air matanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, Glen tiba-tiba muncul.
“Aprilly, itu cukup,” kata Glen dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. “Kamu nggak tahu apa-apa soal Ervill.”
Ervill menghela napas panjang. “Aprilly, maaf, tapi aku rasa kamu harus pergi dulu. Aku perlu bicara dengan Emillia.”
Aprilly tampak terkejut, tapi akhirnya pergi dengan enggan.
“Emillia,” kata Ervill, suaranya lebih lembut. “Aku tahu kamu suka aku, dan aku sadar aku nggak pernah memberi respon yang jelas. Aku nggak bermaksud menyakitimu, tapi aku butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri.”
Emillia menunduk. “Jadi... kamu nggak suka aku?”
Ervill tersenyum tipis. “Aku nggak bilang begitu. Kamu mungkin nggak sadar, tapi aku memperhatikan semua hal yang kamu lakukan. Aku cuma takut untuk mengakui bahwa aku juga punya perasaan yang sama.”
Mata Emillia melebar. “Benar?”
Ervill mengangguk. “Tapi aku butuh kamu untuk tahu bahwa cinta bukan hanya soal pengakuan. Ini soal kesabaran, kepercayaan, dan waktu. Jika kamu masih mau menunggu, aku akan berusaha.”
Emillia tersenyum kecil, air matanya mengalir. “Aku akan menunggu.”
---
Beberapa bulan kemudian, semuanya berubah. Ervill dan Emillia semakin dekat, meski mereka memutuskan untuk tidak terburu-buru. Aprilly, yang sempat kecewa, akhirnya menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Sementara itu, Glen, Alexio, Bryan, dan Kevin terus menjadi sahabat setia yang mendukung kisah mereka, sering kali dengan candaan yang membuat semuanya terasa lebih ringan.
Dan Emillia belajar satu hal penting—cinta sejati membutuhkan keberanian, bukan hanya untuk mengungkapkan perasaan, tapi juga untuk menghadapi semua rintangan yang ada di depan.