Aku berhenti di bawah tebing setelah jauh berlari bersama para penduduk desa. Ini hari ke 10 sejak munculnya makhluk-makhluk mengerikan itu…
Segerombolan manusia… entahlah aku ragu untuk menyebut mereka manusia sekarang, mereka lebih mirip seperti zombie yang pernah ku lihat di televisi, bedaya mereka tak memakan manusia, mereka hanya membunuh semua hewan dan manusia yang mereka temui dan mengabaikannya hingga membusuk.
Kami masuk ke dalam gua di pinggir tebing untuk bersembunyi. Jika di lihat mungkin hanya 60 orang yang tersisa dari desa ku yang ramai dan damai dulu, aku tak tau kenapa kami bisa berada dalam situasi ini, hingga kepala desa dan para tetua membuka sejarah lama yang telah jarang di ketahui oleh remaja seusia ku.
Makhluk-makhluk itu adalah pasukan maut milik Val cucu dari putra fajar Lucifer sang raja iblis yang tertulis dalam sejarah ribuan bahkan jutaan tahun lalu, yang bersumpah akan melenyapkan anak dan cucu leluhur kami yang memporak porandakan kerajaannya.
Val menyelamatkan… atau lebih tepatnya megambil jiwa orang-orang yang putus asa untuk di kendalikan menjadi pasukan maut dan menghancurkan desa kami.
Hari-hari mencekam ini terus berlalu, mau tak mau kami harus bergantian keluar dari gua dan pergi ke desa untuk mencari makana dan air. Pagi ini giliran ku dan tiga orang penduduk lainnya untuk mencari makanan yang tersisa di desa, kami menelusuru desa yang sepi itu sambil beberapa kali bersembunyi dari para pasukan maut yang berjalan tak tentu arah.
Kami berpencar untuk memasuki beberapa kedai dan rumah penduduk untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan, hari mulai sore kami tak mendapatkan banyak makanan atau air mineral di sini, tapi setelah melihat para pasukan maut yang terus berdatangan kami pun memutuskan untuk kembali.
Namun saat aku hendak keluar dari desa aku melihar seorang peria duduk di balik sebuah bangunan dengan luka yang terlihat cukup parah di lengannya, dengan sigap aku pun menghampirinya, “aku akan mengobatimu sekarang kita harus sembunyi ke rumah itu, di sini tak aman” ucap ku sambil menunjukan sebuah rumah di pinggir jalan,
Peria itu hanya diam dengan tatapan aneh yang tak ku mengerti, aku menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk bersembunyi, namun secara mendadak ia mengarahkan pistol tepat ke kepala ku, DOR!!! Sebuah peluru meluncur, beruntung aku sempat menunduk hingga peluru itu tak berakhir di kepala ku.
“HEI, AKU MANUSIA BUKAN PASUKAN MAUT, APA KAU GILA?” aku meninggikan nada suaraku karna kaget, ia menatap ku tampa rasa bersalah
Aku menarik lengannya yang terluka dan mengobati luka itu dengan perasaan campur aduk, “apa yang kau lakukan?” tanyanya, “kita tak punya banyak waktu, kau bisa menjelaskan semuanya dan minta maaf pada ku nanti, aku melakukan ini atas dasar kemanusiaan, karna tak banyak orang yang bertahan seperti kita di sini, jadi kau tak perlu berterima kasih”
“aku tak merasakan sakit” ia menatap ku heran, “tak perlu sok kuat, meski kita berada di situasi dimana kita harus bertahan sekuat tenaga, bukan berarti kita tak boleh merasa sakit”
Tampa ku sadari hari semangkin gelap dari jendela aku dapat melihat mayat seorang gadis yang tadi datang bersama ku terbujur kaku di depan rumah, aku berharap dua orang lainya berhasil kembali ke gua untuk membawa makanan, kara kini sangat tak mungkin bagi ku untuk kembali, ribuan pasukan maut telah memenuhi desa.
Aku menghabiskan malam dengan berbincang dalam kegelapan dengan peria yang kini ku ketahui bernama zeta.
“apa kau selalu melakukan ini pada semua orang?” tanya zeta, “tentu saja dalam keadaan seperti ini kita harus membantu orang lain”
“kenapa?” “aku tak tau bagaimana menjawab pertanyaan itu, saat aku melihat orang yang terluka sepetri mu, aku merasa pastinya kau juga telah berusaha sangat keras untuk bertahan hidup dan mengakhiri semua ini sama seperti ku”.
***
Mata hari mulai terbit dengan cahaya terang dan menghapus kabut tebal di desa, “ayo kita harus cepat” aku menarik tangan zeta untuk kembali ke gua, namun pasukan maut mengetahiu keberadaan kami dan mulai mengejar, tiba-tiba zeta terjatuh dan memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya. “CEPAT PERGI, AKU AKAN MENGHADANG MEREKA” ia mulai menembak para pasukan maut yang mengejar kami dengan langkah tak seibang seakan mereka hendak tersungkur ke tanah,
“apa..aku tak akan menjadikan mu tumbal untuk menyelamatkan diri”, “LEA!!! KU BILANG PERGI!!!” ia berteriak dengan nafas tak teratur dan darah yang tak henti mengalir dari hidung dan mulutnya,
Tampa fikir panjang aku memapah tubuh zeta dengan susah payah sebelum pasukan maut itu semangkin dekat, dan akhirnya kami tiba di pintu gua, “tidak…. Jangan bawa aku masuk,cepat bunuh aku” ia menatap ku serius “kau bicara apa?” tanya ku bingung,
“Val… gadis itu akan mengetahui tempat ini, dia bisa melihat dari mata kami” aku menurunkan tubuh zeta dan duduk di atas rumput-rumput yang masi basah karna embun,
“aku tak mengerti? Kami siapa maksud mu?”
“aku manusia pertama yang menerima darah val untuk kabur dari keputus asaanku, kini seluruh tubuh ku di bawah kendali val… aku adalah peliharaan kesayangan val, jika aku bertindak di luar keinginan val seluruh darah di dalam tubuk ku akan menghancurkan tubuh ini”.
Aku tak bisa memahami semua perkataan zeta, aku benar-benar tak mengerti apa dia juga pasukan maut, tapi bagai mana mungkin, dia berbicara, berjalan dengan normal, bahkan mendengarkan cerita ku tadi malam.
“ba…bagi mana jika kita membunuh val, apa kau bisa bebas” dadaku terasa sesak sepertinya air mata ku mengalir tampa ku sadari,
“aku….” tak sempat ia menyelesaikan perkataanya tiba-tiba teriaka yang cukup nyaring terdengar, “ZETAAAAA!!!!” yang membuat tubuh zeta berjalan dan menunduk di hadapan wanita itu seperti anak anjing yang menyambut majikanya, perlahan ia mengambil pistol yang di lemparkan val tepat di hadapanya, aku dapat melihat dengan jelas zeta melawan tubuhnya yang bergerak di luar kendali melalui banyaknya darah yang keluar dari mulut, hidung, bahkan kini dari kedua mata dan telinganya, terlihat jelas ia menahan rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya bergetar.
“kenapa kau jadi selemah ini zeta” val mengelus lembut kepala zeta dengan kuku-kuku tajam berwarna hitamnya kemudian menjentikan jarinya, seketika para pasukan maut berlari dari berbagai arah dan mulai menyerang para penduduk desa yang ada di dalam gua,
Tak perduli sebanyak apa aku menembak dan membunuh mereka para pasukan maut itu terus berdatangan semangkin banyak lagi, bagai pasukan semut, ketika satu orang mati maka yang lain kembali mengisi tempat yang kosong, teriakan dan tangisan terdengar jelas di telinga ku.
Namun tiba-tiba para pasukan maut itu mulai terkapat dan bersimbah darah sambil mengeluarkan erangan-erangan mengerikan dan bergeliat menjemput kematian mereka.
Aku segera berlari untuk mencari zeta, dan langsung menangkap pemandangan mengerikan itu, aku melihat dua lubang peluru di kepala vel, kedua mataya menggelinding keluar, mulutnya mengeluatkan lendir hitam yang berbau busuk.
Sedangakan zeta terkapar di samping wanita itu dengan pistol yang masi ia genggam erat, aku mengangkat kepala zeta dan meletakannya di pangkuanku, tangisan ku pun tak terbendung saat melihar wajah zeta yang berlumbur darah.
“apa kini aku bisa menjadi orang baik seperti mu?” suara serak itu terdengar seperti bisikan dari zeta, aku mengangguk dan memeluk erat tubuh zeta, “mari bertemu di lain waktu dengan cara yang lebih baik” nafas zeta mulai melemah,
“ya… tak perduli seberapa lama waktu yang di butuhkan, mari bertemu lagi” setelah aku selesai mengatakanya tubuh di pelukanku mulai terasa dingin, aku pun kembali terisak di antara ribuan mayat di sekeliling ku.
-TAMAT-