Langit sore mulai meredup, mewarnai taman kota dengan semburat oranye keemasan. Taman itu tidak pernah benar-benar sepi, suara riuh anak-anak bermain berpadu dengan langkah-langkah orang yang berjalan tergesa. Andra duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap kolam kecil di tengah taman. Ia menatap kosong ke permukaan air, mencoba melarikan diri dari segala kepenatan hidupnya yang terasa seperti siklus tanpa akhir.
Sudah tiga bulan sejak ia pindah ke kota ini, meninggalkan pekerjaan lamanya yang membuatnya merasa hampa. Ia pikir dengan memulai hidup baru, semua akan berubah. Namun, nyatanya, rutinitas baru hanya menggantikan yang lama tanpa memberi makna apa pun.
Hari itu, seperti biasa, ia hanya ingin duduk diam, menikmati senja yang perlahan menghilang. Tapi kali ini, ada yang berbeda, pandangannya berhenti pada sesuatu yang berada di depannya.
Seorang gadis berdiri, membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Rambut panjangnya yang hitam legam tampak berkilau terkena cahaya matahari terakhir. Namun bukan rambut itu yang membuat Andra tak bisa mengalihkan pandangan. Saat gadis itu berdiri tegak dan menoleh ke arahnya, Andra melihatnya—sepasang mata yang begitu memikat.
Mata itu bening, dengan sedikit semburat kecoklatan, seperti bias cahaya di permukaan air. Mereka memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan, semacam kedamaian yang mengalir perlahan, sekaligus kerinduan yang mendalam. Seketika, waktu seolah berhenti bagi Andra.
Gadis itu melangkah ke arah bangku yang berjarak beberapa meter darinya. Tanpa pikir panjang, Andra berdiri, menghampirinya. Entah apa yang membuatnya begitu percaya diri. Biasanya ia tidak pernah berbicara dengan orang asing, apalagi seorang gadis.
"Maaf, bolehkah saya duduk di sini?" tanyanya, menunjuk bangku yang sama sekali tidak penuh.
Gadis itu mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya, Andra melihat mata itu dari dekat. Mata yang indah, namun terasa menyimpan misteri.
"Tentu saja," jawab gadis itu dengan senyum tipis, lalu kembali menunduk, merapikan tali tas kecilnya.
Andra duduk di ujung bangku, merasa canggung. Ia bukan tipe pria yang pandai memulai pembicaraan. Tetapi ada sesuatu tentang gadis ini yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Namaku Andra," ia mencoba memulai. "Kamu sering ke sini?"
Gadis itu menoleh lagi, tatapannya langsung menusuk hati Andra. "Aila," katanya singkat. "Tidak. Hanya kebetulan lewat."
Pembicaraan mereka dimulai dengan perlahan, seperti dua orang asing yang sama-sama canggung. Namun, seiring waktu, kehangatan mulai tumbuh. Aila bercerita bahwa ia baru saja pindah ke kota ini untuk bekerja di sebuah galeri seni kecil. Suaranya lembut, dengan nada melankolis yang sulit dijelaskan.
Andra mulai menyadari kebiasaan kecil Aila. Cara ia selalu memalingkan pandangan ketika berbicara, cara ia sesekali meraba permukaan bangku, seolah memastikan keberadaannya. Namun, Andra tidak terlalu memikirkan itu. Yang ada di pikirannya hanyalah sepasang mata itu—mata yang tak pernah bosan ia pandangi.
Hari-hari berlalu, dan pertemuan di taman itu menjadi rutinitas tak tertulis. Andra selalu datang lebih awal, berharap Aila juga muncul. Mereka berbicara tentang banyak hal—pekerjaan, masa kecil, bahkan mimpi-mimpi yang tak pernah mereka ungkapkan pada orang lain.
Namun, di tengah kedekatan itu, ada hal yang terus mengganggu pikiran Andra. Sesuatu tentang Aila terasa berbeda, tapi ia tak bisa menjelaskan apa itu. Hingga suatu sore, ketika senja perlahan berubah menjadi gelap, Aila bertanya sesuatu yang membuat Andra terdiam.
"Kenapa kamu selalu menatap mataku, Andra?"
Andra kaget. Ia tidak pernah menyangka Aila menyadari kebiasaan itu. Dengan gugup, ia mencari jawaban, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah kejujuran.
"Karena matamu indah," katanya pelan. "Mereka seperti... membawa cerita yang tak bisa dijelaskan. Saat aku menatapnya, aku merasa... ada sesuatu yang hilang dalam diriku perlahan kembali."
Aila terdiam sejenak, menatap Andra dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Andra, ada sesuatu yang harus kamu tahu," katanya akhirnya.
Andra menunggu, jantungnya berdebar.
"Aku buta," kata Aila, suaranya nyaris seperti bisikan. "Mataku ini—aku memakai lensa prostetik. Sejak kecil, aku tidak bisa melihat."
Dunia seolah berhenti berputar. Semua kenangan melintas di benak Andra—cara Aila selalu meraba tasnya, cara ia menunduk atau memalingkan wajah seolah enggan menatap langsung. Andra merasa bodoh karena tidak menyadarinya lebih awal.
Namun, yang lebih mengejutkan dirinya sendiri adalah perasaannya. Ia tidak merasa kecewa, tidak juga ragu. Sepasang mata itu, meskipun tidak mampu melihat, tetap memancarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penglihatan.
"Kenapa kamu bilang itu harus kuketahui?" tanya Andra akhirnya.
Aila mengerutkan kening, bingung. "Bukankah itu penting?"
Andra tersenyum kecil. "Tidak. Sepasang mata ini... entah bisa melihat atau tidak, mereka tetap membawa sesuatu yang spesial. Dan aku ingin terus melihat mereka, jika kamu tidak keberatan."
Mata Aila berkaca-kaca, bukan karena kesedihan, tetapi haru yang mendalam. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Hari itu, di bawah langit senja yang mulai redup, dua hati yang terluka menemukan tempat mereka satu sama lain. Sepasang mata yang tidak bisa melihat itu, bagi Andra, justru membukakan matanya pada apa yang benar-benar berarti dalam hidup.