Rumah tua itu berdiri megah namun suram di puncak bukit. Atapnya yang berlumut dan jendela-jendela yang pecah-pecah seakan berbisik tentang masa lalu yang kelam. Pak Tua Usman, penjaga rumah itu, hidup sendirian, ditemani hanya oleh bayangan-bayangan yang menari-nari di balik jendela setiap senja.
Usman bukanlah orang biasa. Ia adalah seorang ahli arkeologi amatir, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya menggali reruntuhan kuno di sekitar rumah itu. Ia menemukan banyak artefak, patung-patung batu yang aneh, dan prasasti-prasasti yang tak terbaca.
Namun, penemuan-penemuan itu tak pernah ia bagikan kepada siapa pun. Ia menyimpannya di dalam rumah tua itu, tersembunyi di balik dinding-dinding yang lapuk.
Suatu malam, badai menerjang dengan dahsyat.Angin berteriak-teriak, mengguncang rumah tua itu hingga bergetar.
Usman, yang sedang memeriksa sebuah patung batu berbentuk manusia aneh, mendengar suara-suara aneh dari luar. Suara itu seperti tangisan, samar-samar, namun menusuk kalbu.
Keesokan harinya, badai telah reda.
Namun, Usman menemukan sesuatu yang mengejutkan. Salah satu jendela di lantai atas telah terbuka, meskipun ia yakin telah menguncinya rapat-rapat. Di atas meja di dekat jendela, tergeletak sebuah bulu hitam yang panjang dan berkilau. Bulu itu tidak seperti bulu burung biasa.
Ia terasa dingin dan licin saat Usman menyentuhnya.
Hari-hari berikutnya, Usman terus dihantui oleh bayangan-bayangan yang semakin nyata. Ia melihat sesosok bayangan hitam besar bergerak di balik jendela, sesekali mengintip ke dalam rumah.
Bayangan itu selalu muncul saat senja, dan menghilang saat fajar menyingsing.
Ketakutan mulai menguasai Usman. Ia menyadari bahwa penemuan-penemuannya di masa lalu mungkin telah membangunkan sesuatu yang jahat.
Sesuatu yang tertidur selama berabad-abad di bawah tanah, dan kini kembali untuk menuntut balas.
Suatu malam, bayangan itu muncul dengan jelas. Ia melihat sosok tinggi besar, gelap, dengan mata yang menyala merah. Sosok itu mendekat, dan Usman merasa terancam.
Ia mengambil sebuah cangkul, senjata satu-satunya yang ia miliki, dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Pertempuran antara Usman dan bayangan itu tidak terjadi. Bayangan itu hanya menatap Usman sejenak, lalu menghilang tanpa jejak.
Usman, yang ketakutan dan kelelahan, hanya bisa terduduk lemas, menyadari bahwa ia telah berhadapan dengan sesuatu yang jauh di luar kemampuannya. Ia tahu, bayangan itu akan kembali. Dan ia harus menemukan cara untuk menghentikannya, sebelum terlambat.
Usman menghabiskan beberapa minggu berikutnya dalam ketakutan dan kesendirian. Ia mencoba memahami arti dari bulu hitam itu, dan simbol-simbol aneh yang terukir pada patung-patung yang ia temukan.
Ia membaca buku-buku kuno, mencari petunjuk tentang makhluk yang telah mengganggunya. Ia menemukan sebuah catatan tua, ditulis dalam bahasa yang hampir tak dikenalnya, yang menyebutkan sebuah ritual kuno untuk menenangkan roh-roh jahat yang terikat pada artefak tertentu.
Ritual itu membutuhkan sebuah batu khusus, yang disebut “Batu Matahari,” yang konon memiliki kekuatan untuk mengusir kegelapan. Usman ingat pernah melihat batu yang mirip dengan deskripsi itu di antara penemuannya.
Ia mencari di gudang penyimpanan artefaknya, di antara debu dan reruntuhan. Setelah berjam-jam mencari, ia menemukannya – sebuah batu kecil, berwarna merah gelap, yang memancarkan cahaya redup.
Dengan hati-hati, Usman mengikuti instruksi dalam catatan kuno.
Ia membersihkan Batu Matahari, dan meletakkannya di tengah ruangan, dikelilingi oleh lilin-lilin yang menyala. Ia membaca mantra-mantra kuno, suaranya bergetar karena ketakutan dan harapan.
Saat ia mengucapkan mantra terakhir, ruangan itu bergetar.
Bayangan hitam itu muncul lagi, lebih besar dan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Namun, kali ini, bayangan itu tampak lemah, cahaya dari Batu Matahari seakan membakarnya.
Bayangan itu meraung, tubuhnya berkelap-kelip, lalu perlahan-lahan menghilang, meninggalkan hanya udara dingin dan keheningan.
Usman merasa lega, namun juga lelah.
Ia menyadari bahwa ia telah berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya. Ia memutuskan untuk menyerahkan semua artefak yang ia temukan kepada museum lokal, berharap agar tidak ada orang lain yang akan terganggu oleh kekuatan jahat yang tertidur di dalamnya.
Rumah tua itu tetap berdiri di puncak bukit, namun kini terasa lebih tenang, bayangan-bayangan di balik jendela telah lenyap. Usman, meskipun masih merasa waspada, akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa dihantui oleh ketakutan.
Ia memulai hidup baru, jauh dari rumah tua itu, membawa hanya kenangan dan pelajaran berharga tentang kekuatan misterius yang tersembunyi di balik sejarah.
Ia meninggalkan masa lalunya, dan memulai babak baru dalam hidupnya, dengan tekad untuk mendedikasikan dirinya pada penelitian yang lebih aman dan bermanfaat.
Beberapa tahun berlalu. Usman, yang telah meninggalkan rumah tua itu dan mendedikasikan dirinya pada penelitian arkeologi yang lebih konvensional di sebuah universitas, menerima sebuah surat anonim. Surat itu berisi sebuah foto – foto rumah tua itu, namun dengan satu perbedaan yang mencolok: sebuah jendela di lantai atas terbuka lebar, dan di ambang jendela itu, terlihat sebuah bulu hitam yang panjang dan berkilau, persis seperti bulu yang pernah ia temukan bertahun-tahun lalu.
Ketakutan lama itu kembali menghantuinya. Meskipun ia telah menyerahkan semua artefaknya, dan percaya bahwa ia telah menenangkan roh jahat itu, surat itu menunjukkan bahwa sesuatu masih salah. Apakah ritualnya tidak sempurna? Apakah ada artefak lain yang belum ia temukan? Atau, apakah ada sesuatu yang lebih besar dan lebih jahat yang masih bersembunyi di balik bayangan?
Usman memutuskan untuk kembali ke rumah tua itu. Ia tidak sendirian. Ia mengajak seorang kolega, Dr. Aris, seorang ahli sejarah yang juga memiliki minat pada fenomena paranormal. Dr. Aris, awalnya skeptis, setuju untuk menemani Usman setelah mendengar cerita lengkapnya.
Mereka tiba di rumah tua itu pada senja hari. Angin bertiup dingin, dan rumah itu tampak lebih suram daripada yang Usman ingat. Mereka memeriksa setiap sudut ruangan, mencari petunjuk. Mereka menemukan beberapa catatan tambahan yang ditulis oleh Usman di masa lalu, catatan yang lebih rinci tentang ritual dan artefak yang ia temukan. Catatan-catatan itu mengungkapkan bahwa ritual yang ia lakukan hanya bersifat sementara, dan roh jahat itu mungkin akan kembali jika keseimbangan kekuatan terganggu.
Di ruang bawah tanah, mereka menemukan sebuah lorong rahasia yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Lorong itu mengarah ke sebuah ruangan tersembunyi, di mana mereka menemukan sebuah altar kuno dan sebuah patung batu yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan daripada yang pernah Usman temukan sebelumnya. Patung itu tampak menyerap energi dari sekitarnya, dan memancarkan aura yang dingin dan jahat.
Di atas altar, mereka menemukan sebuah buku tua yang terbuat dari kulit manusia. Buku itu berisi ritual yang lebih kuat, ritual yang dapat mengikat roh jahat itu selamanya. Namun, ritual itu juga sangat berbahaya, dan bisa berakibat fatal bagi siapa pun yang mencoba melakukannya.
Usman dan Dr. Aris menghadapi dilema. Mereka harus memutuskan apakah akan mencoba ritual yang berbahaya itu, atau membiarkan roh jahat itu bebas untuk kembali mengganggu dunia. Keputusan mereka akan menentukan nasib mereka, dan mungkin juga nasib dunia. Cerita berakhir dengan mereka berdiri di depan altar, buku tua itu terbuka di hadapan mereka, bayangan-bayangan di balik jendela semakin mendekat... Nasib mereka masih belum terungkap.
Helloo sampai sini dulu yaaa(◍•ᴗ•◍).